
**
Seusai membeli gaun, mereka bertiga sudah berjanji akan bertemu di pesta ulang tahun Alvin malam nanti.
Waktu menunjukan pukul 05.00, sudah terhitung tiga jam lamanya mereka menghabiskan waktu dari sepulang sekolah tadi.
Jasmine pulang bersama Assena, dan Petter pulang dengan motornya.
Terlihat mobil yang ditumpangi Assena dan Jasmine, masih beriringan dengan motor sport yang dikendarai Petter.
Jasmine nampak bersandar di kursi belakang dengan mata sedikit terbuka begitu sipit, ia begitu lelah dan mengantuk. Hingga tak butuh waktu lama ia tertidur juga.
Berbeda dengan Assena ia duduk bersandar, sesekali melirik keluar untuk melihat Petter.
Ia jadi teringat saat di butik tadi, kebersamaan saat Petter menemaninya memilih gaun. Tanpa sadar seulas senyum terukir di bibirnya.
Entah bagian mana yang berhasil membuatnya tersenyum.
Hingga terdengar suara klakson motor Petter, seperti memberi tahu bahwa waktunya berpisah. Dan itu membuat Assena menoleh ke arah Petter yang melaju di sisi kanan. Terlihat juga Petter melirikan pandangannya ke dalam mobil. Pandangan mereka bertemu, meski terhalang kaca mobil tapi kedua bola mata mereka terhubung dalam pandangan mereka yang hanya sekejap. Karena tersadar Petter harus mengakhiri pertemuan antara bola matanya dengan Assena.
Dan akhirnya terlihat motor Petter berbelok ke arah kanan. Sedang mobil yang Assena tumpangi maju lurus ke depan.
Assena masih sempat menoleh ke arah dimana Petter melesat menjauh dan menghilang.
**
Setelah mengantar Jasmine pulang terlebih dahulu.
Kini mobil yang membawa Assena memasuki halaman rumah yang besar dan megah.
Yaa ia sudah sampai di rumah.
Assena bergegas masuk. Arkan dan Evelin tidak protes dengan terlambatnya Assena pulang ke rumah. Karena mereka sudah tahu saat Assena meminta izin lewat pesan singkat siang tadi.
Terlihat Assena menenteng jingjingan yang berisi gaun yang ia beli tadi.
"Sayang kau sudah pulang?" Sapa Arkan mengulas senyum melihat putri sulungnya itu.
"Bagaimana harimu sayang? Apa menyenangkan?" Sapa Evelin yang sedang berada di ruang tengah bersama Arkan. Tak lupa dengan senyuman manis di bibirnya.
"Begitulah!" Jawab Assena datar. Sedikit menoleh tapi tidak menghentikan langkahnya.
Ia hendak melangkah menaiki tangga, tapi langkah kakinya terhenti seolah melupakan sesuatu.
kini ia berbalik, melangkah dengan perlahan hendak menghampiri Arkan dan Evelin yang duduk berdampingan di kursi ruang tengah itu.
__ADS_1
Sontak Arkan dan Evelin mengangkat pandangannya ke arah suara langkah kaki yang mendekati mereka.
Assena berhenti, saat di rasa sudah mencapai jarak yang aman. Dalam arti tidak terlalu dekat.
Dengan masih berdiri, menatap Arkan dan Evelin yang ada didepannya.
Dan apa itu tadi? jaga jarak? aman?
Yaa Assena begitu menjaga jarak, bahkan itu dengan orang tuanya sendiri.
Sebelum Assena mengutarkan maksudnya. Arkan terlebih dulu bertanya. "Ada apa sayang?" dengan raut wajah penasaran tergambar jelas.
"Iya sayang ada apa?" Evelin pun betanya tak kalah penasaran.
Seketika Assena terlihat gugup, ia ragu harus membicarakannya atau tidak. Atau ia harus berbalik badan lagi dan mengurungkan niatnya?.
Ahh sudah terlanjur berhadapan.
"Anu... Aku akan menghadiri pesta ulang tahun temanku malam nanti apa..."
"Astaga.." Teriak Arkan seolah teringat sesuatu.
Assena yang belum selesai berkata, di buat terkejut dan heran mendengar itu.
"Ayah baru ingat, anak dari sahabat ayah berulang tahun malam ini. Dan dia mengundangmu nak. Mungkin kau tidak akan mengenalnya, tapi dia tahu ayah mempunyai anak remaja yang seusia dengan anak sahabat ayah. Jadi dia mengundangmu juga, dan aku lupa akan hal itu." Ucap Arkan panjang lebar begitu menyesali kelupaannya itu.
Assena malah mengerutkan dahi, melihat kedua orang tuanya sibuk sendiri dengan kelupaan mereka.
Assena berdehem, ia ingin melanjutkan niatnya tadi yang sudah terpotong. Bukan malah mendengarkan sesal dari kedua mulut mereka.
Seolah tersadar kembali. "Ah iya sayang tadi kau bilang apa? Mau menghadiri pesta ulang tahun temanmu?" Ucap Arkan.
Assena mengangguk.
"Baiklah sayang, pergilah dan bersenang-senanglah! Ayah mengizinkanmu" Titah Arkan.
"Iya sayang, bersenang-senang lah!" Evelin menyambung dengan senyum.
Mendapat izin, Assena menggangguk "Terima kasih". Lalu berbalik badan dan melangkah pergi menaiki tangga.
Masih terdengar di bawah sana, suara Arkan dan Evelin membahas undangan yang terlupakan itu. Terdengar juga kata-kata saling menyalahkan karena tidak adanya yang mengingatkan.
"Kenapa aku bisa lupa akan undangan itu." keluh Arkan.
"kau juga tidak mengingatkanku," sambungnya menuding istrinya.
__ADS_1
"Aku sendiri bahkan lupa, jika aku mengingatnya aku pasti sudah memberi tahumu." Bela Evelin.
"Tapi sepertinya, jika sebelumnya kita memberi tahu undangan itu juga. Aku kira Assena akan lebih memilih menghadiri pesta ulang tahun temannya dibandingkan menghadiri undangan pesta ulang tahun anaknya tuan Jemmy dan nyonya Iretta. Lagi pula Assena tidak mengenalnya." Ucap Evelin duduk menopang dagu dan melirik Arkan.
"Iya kau benar. Jika kita mengingat undangan itu juga belum tentu Assena mau menghadirinya." Seolah Arkan membenarkan perkataan Evelin.
"Tidak biasanya ia mau menghadiri undangan pesta sperti ini?" Ucap Evelin nampak berpikir.
"Kau benar, biasanya dia tak mau tahu dengan undangan apapun. Terlebih dia tidak suka keramaian." Arkan pun masih sama berpikir untuk menemukan jawaban atas putrinya yang bersedia manghadiri undangan.
"Dan aku masih ingat bagaimana dia selalu menolak jika kita ajak untuk acara bertemu dengan keluarga sahabatku atau sekedar dengan klien." Ujar Arkan seolah mengingat yang sudah-susah.
"Ah itu dia!" Ucap Evelin antusias. "Apa ini karena undangan dari teman dekatnya atau semacam kekasih?. Mengingat Assena sudah tumbuh dewasa, pasti dia memiliki teman dekat kan?" Sambungnya seperti mendapat jawaban.
Dan begitulah.
Usai kepulangan Assena dan atas minta izinnya untuk menhadiri pesta. Membuat sepasang suami istri itu sibuk menerka-nerka tentang putrinya.
Mereka merasa heran, yang biasanya Assena tidak mudah diajak atau dibujuk untuk menghadiri semacam undangan pesta seperti itu. Bahkan sekarang Assena sendiri yang memint izin.
Entah karena memang Assena sudah dewasa yang sudah mempunyai keinginan yang tidak harus dipaksa atau dilarang.
Begitulah pemikiran keduanya.
"Sudahlah, kita harus menghubungi Jemmy karena ketidak hadiran Assena diacara ulang tahun anaknya." Ucap Arkan menutup pembicaraan yang tidak ada habisnya jika terus menerka-nerka seperti itu.
**
pukul 08.00 malam. Usai melewatkan makan malam bersama keluarganya, ia memilih bi Nem untuk mengantarkan makan malam ke kamarnya.
Kini Assena nampak berdiri didepan cermin, ia sudah mengenakan gaun cantik berwarna baby pink yang sudah ia beli siang tadi. Nampak sangat cocok di badannya. Tapi ia nampak kebingungan, ia tidak tahu bagaimana harus berdandan.
Bagaimana dengan rambutnya? harus di apakan?. Dan bagaimana, apa dia harus pakai make up atau tidak?
Karena kesehariannya ia tidak pernah memakai make up. Meski selalu terlihat cantik, itu karena ia sudah terlahir dengan kecantikan yang alami yang diwarisi oleh ibunya. Dengan kulit putih cerah, rambut hitam lurus panjang dengan ujungnya sedikit bergelombang, hidung mancung dan bibir mungil berwarna merah.
Ia hanya terbiasa memakai bedak tipis saja.
Itu saja? ya itu saja.
Tapi karena ini menyangkut menghadiri pesta, ia tidak mungkin tidak bermake up sama sekali. Setidaknya ia harus berpenampilan bagus.
Ditengah kebingungan yang melanda. Tiba-tiba..
Tok tok tok
__ADS_1
Suara ketukan, membuatnya menoleh ke arah pintu.