
"Apa ayah sedang bercanda?" Assena tidak bisa menahan untuk mengutarakan apa yang ingin ia katakan, mengenai perjodohan ini.
Terdengar seperti lelucon saja. Apa itu tadi? perjodohan?
Arkan sudah menduga bagaimana tanggapan Assena tentang perjodohan ini. Lalu ia menggelengkan kepala. "Tidak, ayah tidak sedang bercanda nak." Ucap Arkan menatap putri sulungnya seolah meyakinkan.
Assena terdiam. Apa yang harus ia katakan? bagaimana ia harus menyikapinya?. Tatapannya berubah menjadi cemas.
"Huh, jika dengan Petter sih masih bisa di pertimbangkan." Batin Assena mengeluh.
Dan itu tidak luput dari perhatian Arkan, ia tahu mungkin Assena tidak akan menyukai dengan rencana perjodohan ini.
"Lalu apa yang ayah inginkan? apa ayah akan memaksaku jika aku menolak perjodohan ini?" Assena mencoba memberanikan diri menyuarakan kecemasannya.
Arkan tersenyum. Dan apa ini? bukan pertanda buruk kan?
"Ayah tidak bisa memaksa jika memang kau tidak setuju dengan perjodohan ini." Tangannya terulur mengusap lembut lengan putrinya.
"Ayah tidak akan memaksa?" Assena membeo.
Arkan mengangguk. "Ayah memang menginginkan jika putri ayah bisa berjodoh dengan putra tuan Jemmy." Arkan tersenyum menatap Assena.
"Tapi percayalah kebahagiaan putri ayah adalah yang utama. Ayah tidak akan pernah memaksa sesuatu yang membuat putri ayah tidak bahagia."
Beruntungnya! Ternyata ayahnya tidak sejahat itu.
Assena benar-benar merasa lega mendengarnya.
Tetapi ada yang tersentuh di bagian hati. Ada rasa haru mendengar penuturan Arkan. "Apa ayah benar-benar menyayangiku?" gumamnya.
"Terima kasih, telah mengerti." Assena menatap dalam kedua manik ayahnya yang terlihat kantung matanya keriput dan sedikit menghitam.
Arkan hanya tersenyum. "Kau pasti lelah, beristirahatlah!" titah Arkan.
Assena mengangguk. "Baiklah, aku akan kembali ke kamar." Assena beranjak berdiri lalu melangkah. Lalu menghilang di balik pintu.
Arkan menatap lama pintu itu, dimana Assena sudah tak terlihat lagi. Menarik napas dalam, lalu menyandarkan kepalanya menatap langit ruang kerjanya.
"Berbahagialah sebelum ayah pergi. Ayah ingin menyaksikanmu benar-benar bahagia, dengan menemukan pasangan hidup yang bisa membahagiakanmu. Sebelum waktu itu tiba, waktu dimana aku akan menutup mata." Lirihnya, lalu tak terasa cairan bening itu lolos menetes di sudut matanya.
***
Hari ini hari minggu, hari menjelang siang Assena bersiap untuk pergi mengunjungi makam ibunya.
Ia sudah terbiasa kemana-mana selalu bersama Altur. Maka ia sudah menduga bahwa Altur lah yang akan mengantarnya menggantikan Pak Sur.
Assena sudah menuruni satu persatu anak tangga. Ia tidak melihat Arkan atau Evelin sepanjang kakinya melangkah melewati ruang tengah dan ruang tamu.
Saat ia sampai di depan Assena berpapasan dengan dokter Roghi yang hendak masuk ke dalam. Membuat langkah keduanya terhenti saling berhadapan.
__ADS_1
"Selamat siang!" Sapa dokter Roghi tersenyum menatap Assena.
Assena hanya tersenyum menganggukan kepala. Lalu pandangan Assena teralihkan ke halaman depan rumah, terlihat Altur sudah menunggu.
"Permisi dokter, aku harus pergi." Assena melangkah menghampiri Altur yang sedang berdiri di samping mobil.
Tatapan dokter Roghi mengikuti gerak Assena yang sudah melangkah menjauh. Lalu terlihat bercakap-cakap dengan laki-laki yang tak lain adalah Altur, setelah itu masuk ke dalam mobil.
Dan mobil yang membawa Assena pun melaju keluar dari halaman rumah.
Dokter Roghi masih memperhatikan ke arah dimana mobil itu sudah tak terlihat lagi.
***
Assena membawa langkah kakinya, dengan Altur setia mengikuti dari belakang. Sampai langkah kakinya terhenti, menatap lurus ke depan, lalu tiba-tiba tatapannya berubah menjadi sendu.
Entah apa yang ia lihat? dan apa yang ia rasa?
"Apa ini makam nyonya Anna?" tanya Altur saat Assena sudah berjongkok di depan sebuah makam.
Assena pun mengangguk, Altur pun ikut berjongkok di samping Assena.
Dan jelas saja Altur mengingat mendiang ibu Assena. Karena saat ia masik kecil dulu, saat ia menjadi teman bermain Assena, saat itu Anna masih hidup.
Sampai dengan peristiwa kepargian Anna, Altur di pulangkan ke desa. Sampai sekarang sudah 8 tahun lebih ia baru kembali.
Altur yang menyadari itu, mengikuti arah pandang Assena. Ia heran, bertanya-tanya dalam hati. "Apa yang dia lihat?" gumamnya.
--
Saat sudah berada di dalam mobil hendak pulang. Altur sudah menghidupkan mobil.
"Altur aku ingin pergi ke suatu tempat, bisakah kau mengantarku?" Assena melirik Altur yang kini juga meliriknya.
"Assena mau pergi kemana?"
Ternyata Altur sudah mulai terbiasa memanggil nama Assena.
"Ikuti saja arahanku."
"Baiklah."
Altur pun menjalankan mobil menyusuri jalan yang Assena arahkan. Setengah jam saja, mereka sampai di tempat tujuan.
Assena dengan semangat turun dari mobil mendahului Altur.
Altur pun dengan cepat menyusul Assena. Tatapnnya menyapu sekitar, ia takjub dengan keidahan tempat yang ia pijak saat ini.
"Ayo!" ajak Assena dengan berjalan mendahului. Petter pun membuntut saja kemana Assena membawa langkah kakinya.
__ADS_1
Assena nampak berdiri menghadap danau, melentangkan kadua tangannya menyambut tiupan angin yang menerpanya. Matanya terpejam menyampaikan kerinduan pada segala suasana tempat ini. Terlihat rambut panjangnya terapung ke belakang karena tertiup angin.
Altur menatap punggung Assena dari belakang, lalu berjalan mendekat dan mengsejajarkan tubuhnya berdiri di samping Assena.
"Tempat ini indah." Altur menatap lurus ke depan menatap danau yang terbentang luas.
Seketika Assena membuka matanya lalu menoleh pada Altur. "Kau benar, tempat ini memang indah". Lalu mengubah arah pandangnya jauh ke depan.
Mereka berdua sudah duduk di bawah pohon rindang. Altur menyadari ekspresi Assena selama berada di tempat ini. Tatapan sendu yang Altur lihat itu.
"Sepertinya tempat ini istimewa bagimu?" ucapan Altur yang berhasil membuat Assena menoleh.
Seketika Assena terdiam, menatap Altur. Lalu terdengar helaan napas Assena. "Altur..." Panggilnya.
Altur pun menatap Assena dengan mengangkat kedua alisnya, seolah menunggu kelanjutan apa yang ingin Assena katakan.
"Apa kau pernah merasakan seperti apa jatuh cinta?" kini Assena mengubah arah pandangnya ke arah danau.
Dahi Altur mengerut dalam, ia tidak menyangka Assena akan mengatakan itu.
"Kenapa kau tanyakan itu?" tanya Altur masih menatap lekat gadis itu.
"Rasa kehilangan saat seseorang itu pergi, dan menumbuhkan rasa rindu. Apa itu bagian dari jatuh cinta?" lagi-lagi Assena mengatakan yang membuat Altur terkejut.
"Apa dia sedang jatuh cinta? apa dia sudah memiliki kekasih?" seketika batin Altur menerka-nerka.
"Kenapa tidak menjawab?" Assena menoleh pada Altur karena Altur hanya diam saja.
"Aku juga menyukai seseorang, entah itu namanya jatuh cinta atau entahlah." Altur mendesah.
"Aku tidak mau menceritakannya."
"Kenapa? ceritakan saja! Aku mau mendengarkannya, siapa gadis yang kau sukai?" Assena menatap Altur.
Altur pun menatap Assena, pandangan mereka bertemu.
"Gadis yang aku sukai itu ada di depanku sekarang." Batin Altur masih menatap wajah Assena.
Lalu Altur menggelengkan kepala dan tersenyum getir. "Aku tidak mau membahasnya, karena dengan menyukainya, itu adalah sebuah kesalahan".
Dahi Assena mengkerut mendengar itu. "Apa maksudmu?"
"Sudah lupakan. Kenapa kau tiba-tiba menanyakan tentang jatuh cinta? Apa kau sedang jatuh cinta? Atau kau sudah memiliki kekasih?" Tanya Altur beruntun.
"Apa aku harus menceritakannya padamu?"
"Kenapa tidak? Ceritakan saja!".
Assena menghela napas dalam, sebelum ia memulai untuk bercerita. "Sebelumnya aku mau bertanya. Apa seorang laki-laki jika mengucapkan janji, apa ia akan menepatinya?"
__ADS_1