Seberkas Cahaya

Seberkas Cahaya
Cantik sekali


__ADS_3

Tok tok tok


Suara ketukan, membuatnya menoleh ke arah pintu.


"Sayang apa ibu boleh masuk?" Ucap Evelin meminta izin untuk masuk.


Tapi sebelum ada jawaban dari Assena, ceklek pintu sudah terbuka.


Apa? katanya minta izin, tapi belum juga di jawab sudah dibuka pintunya.


Kini nampak Assena masih mematung didepan cermin dengan kepala menoleh ke arah pintu terbuka.


Evelin masih berdiri diambang pintu, memperhatikan Assena dari atas sampai bawah lalu tersenyum.


"Gaun yang indah, cocok sekali untukmu. Kau terlihat anggun." Pujinya sambil melangkah menghampiri.


Kala mendengar pujian itu, Assena nampak melihat keseluruhan dirinya, seolah memastikan.


Terlihat anggun? benarkah begitu?


"Bolehkah ibu membantu untuk merias wajahmu?" ucap Evelin seraya tersenyum.


"Ibu tahu kau tidak pernah memakai make up, ibu ingin membantu meriasmu. Boleh kah?" Sambungnya lagi.


Assena menggigit bibir bawahnya nampak berpikir dan ragu.


"Tidak apa, semua orang juga merias wajahnya. Apalagi ke acara pesta seperti ini. Percayalah ibu akan membuatmu cantik." Ucap Evelin mencolek hidung Assena dengan gemas.


Kemudian Assena sedikit tersenyum dan menggangguk setuju.


"Baiklah ibu akan ambilkan dulu alat make up nya, tunggulah sebentar!" Evelin bergegas keluar kamar.


Assena hanya memandang punggung Evelin yang melangkah menghilang dibalik pintu, lalu duduk dan menunggu.


Tak butuh waktu lama, suara langkah kaki sudah terdengar kian mendekat. Sepertinya langkah kaki terdengar begitu terburu dan muncul lah Evelin di ambang pintu. Melihat Assena yang sudah duduk menunggu.


"Baiklah ayo kita mulai!" Evelin bersemangat.


Evelin mulai bergulat dengan alat make up, dan beberapa ikat rambut dan jepit untuk menghias rambut Assena.


Setiap gerik Evelin, Assena memperhatikannya di cermin.


Sentuhan lembut di wajah dan rambutnya ia rasakan.


Seketika ia begitu tersentuh akan perlakuan Evelin yang memang selalu baik dan lembut.


"Ia begitu baik dan lembut layaknya seorang ibu pada anak kandungnya. Dia memang selalu bersikap baik padaku, meski aku mengcuhkannya." Gumamnya dalam hati.


Mungkin hati kecilnya sudah menerimanya. tapi ketika bayangan masalalunya teringat, membuat perasaannya meronta dan berteriak untuk tidak boleh tersentuh dan menolak itu semua.


Mata Assena kini terpejam, hatinya berkutat. Antara ia merasa nyaman dengan perlakuan Evelin, juga antara bayangan masalalu muncul bersamaan.


Ia menghembuskan napas pelan.


Sebernarnya bagaimana perasaannya pada ibu tirinya saat ini?

__ADS_1


"Sudah selesai." Ucap Evelin yang langsung menyadarkan Assena.


Assena yang tersadar, langsung membuka matanya. Dan wow ia terkejut.


Siapa yang ada didepan cermin ini? seperti bukan dirinya saja.


Hanya menghabiskan waktu 20 menit saja untuk merias Assena. Hanya merias sederhana saja, karena memang Assena sudah cantik alami. Jadi tidak perlu berlebihan, dan karena Assena masih remaja supaya terlihat muda dan simple.


Assena nampak begitu cantik dan anggun. Dengan riasan make up tipis, dengar bibir warna pink kemerahan. Rambutnya di kepang melingkar memenuhi belakang kepalanya, hanya menyisakan sedikit rambut dikedua sisi wajahnya. Juga poninya tergerai sampai alis menutupi keningnya.


Siapa pun yang melihatnya, 'cantik' itu kata yang tepat untuk dirinya.


"Kau cantik sekali sayang." Puji Evelin menyentuh bahu Assena seraya berdiri disamping Assena, menatap di cermin bersamaan.


Assena nampak terkagum, benarkah ini dirinya?


Sesekali ia mentap cermin, lalu menatap dirinya sendiri secara bergantian. Menelisik secara keseluruhan.


"Ayo cepat lah segera pergi! Nanti kau terlambat." Ucap Evelin seraya hendak menggandeng tangan Assena untuk turun keluar.


"Tunggu dulu, ibu melupakan sesuatu. Tunggu sebentar ya!" Ucapnya dengan terburu setengah berlari keluar kamar.


Assena mengerutkan dahi, apa lagi sekarang?


Dua menit saja, Evelin sudah kembali dengan cepat. Dan terdengar napas nya yang ngos-ngosan, terlihat juga keringat di dahinya.


Evelin kembali dengan membawa kotak sepatu. Dengan tersenyum, "Pakailah ini, ini serasi dengan warna gaunmu." Seolah ia lupa lelahnya naik turun tangga.


Assena yang melihat ibu tirinya dengan keringat di dahi, dan napas yang masih terdengar belum teratur itu karena bersusah payah membantu menyiapkan semua untuk dirinya.


"Kenapa menatap ibu sperti itu? cepat pakailah nanti kau akan terlambat. ini sudah malam." Ucap Evelin tersenyum dan merasa aneh mendapat tatapan selerti itu.


Dan refleks Assena segera menoleh pada jam dinding, dan benar waktu sudah pukul 08.30.


Evelin membuka kotak sepatu itu, dan terlihat flat shoes bermerk, berwarna senada dengan gaun yang Assena kenakan. Sengaja tidak menggunakan yang ber'hak' tinggi supaya terlihat simple saja.


Assena sudah memasangnya dikedua kakinya. Dan benar itu sangat serasi sekali.


Evelin yang melihat itu, tersenyum. "Cocok sekali, sekarang sudah siap ayo turun!" Ajaknya dengan menggandeng tangan Assena.


Tapi Assena malah terdiam tidak ikut melangkah. Membuat Evelin berbalik mengerutkan dahi dan bertanya "ada apa?".


Assena menatap wajah Evelin. "Terima kasih." Kata itu keluar dengan sedikit tersenyum.


Evelin yang mendengar itu pun tersenyum dengan lebar, tidak menyangka Assena akan mengatakan itu padanya. Ia berhambur memeluk. "Ini bukan apa-apa. Ibu hanya membantu putri ibu, dan itu sudah seharusnya".


Assena sedikit terketjut mendapat pelukan hangat seperti itu.


Tak terasara air mata Evelin menetes ia begitu terharu, hanya dengan mendengar kata 'terima kasih' yang terdengar tulus.


Dibalik punggung Assena ia segera menyeka air matanya dengan ibu jarinya. Lalu melepas pelukannya.


Mereka menuruni anak tangga satu persatu, dengan Evelin menuntun Assena.


Sampai dilantai bawah. Arkan dan Isabella yang sedang menonton televisi pun menoleh bersama melihat Evelin dan Assena berjalan saling bergandeng tangan.

__ADS_1


Arkan tersenyum "cantik sekali putri ayah. kau sudah mau pergi sayang?" ucapnya tersenyum dan berdiri dari duduknya dengan mata masih menatap tangan Assena yang di genggam oleh Evelin. Dan melihat Assena pun tidak menolak untuk di gandeng.


Seketika senyumnya begitu merekah, ia bahagia melihat kedekatan Assena dan Evelin yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dan yang begitu ia harapkan tentunya.


"Wah kakak cantik sekali, kakak mau kemana?" Tanya Isablella sambil berjalan menghampiri, menelisik dari atas sampai bawah terkagum melihat Assena.


Assena hanya tersenyum malu, terlihat pipinya merona.


"Kakak mau pergi ke pasta ulang tahun temannya sayang." Malah Evelin yang menjawab.


"Bersama ibu juga?" Tanya Isabella.


"Tidak, ibu hanya mau mengantar sampai depan." Evelin terasenyum seraya melirik Assena.


Kini Evelin, Arkan dan Isabella nampak berada di depan untuk mengantar Assena.


Assena sudah berada di dalam mobil, menurunkan kaca mobil, dan sedikit tersenyum melihat ke arah mereka.


"Hati-hati sayang!"


"Bersenang-senang lah!"


"Jangan pulang terlalu larut!"


begitulah Arkan dan Evelin sambil melambaikan tangan.


**


Dan mobil yang di kendarai pak Sur pun melaju melesat memasuki jalanan yang sudah hampir padat. Karena memang ini sabtu malam, dimana biasanya orang-orang


menghabiakan waktu di luar. Terutama anak-anak muda.


**


Di dalam mobil, Assena mengeluarkan ponsel nya dari dalam tas kecil berwarna senada.


Ia terkejut, sudah banyak sekali pesan dan panggilan tak terjawab dari Jasmine.


"Apa sudah siap?"


"Kau dimana?"


"Angkat teleponnya!"


"Sudah berangkat belum?"


"Aku sudah menunggu disini"


"kau ini kemana saja? tidak membalas juga tidak mengangkat telfonku"


"Ayolah angkat telfonnya"


Itulah sederetan pesan dari Jasmine.


"Dia cerewet sekali, pasti dia sudah menunggu disana." Gumamnya pelan. Dan hendak membalas pedan dari Jasmine.

__ADS_1


__ADS_2