
**Hai hai aku balik lagi๐
Berkat dukungan kalian aku bakan lanjut SEBERKAS CAHAYA ini๐
Jangan bosen buat selalu mampir dan baca yah๐๐
jangan bosen juga buat kasih dukungannya, dengan like, komen, rate 5 juga votenya๐๐
POKOKNYA**...
Si mamat lagi ngaca..
Selamat membacaaaaa..๐
***
Pagi ini sangat cerah, langit dengan warna putih biru membentang. Hangatnya mentari seperti menyapa siapa pun yang hendak beraktivitas.
Seperti halnya Assena, ia tengah bersiap-siap untuk pergi kuliah. Nampak ia sedang berdiri di depan cermin melihat dan merapikan penampilannya. Ia nampak menyisir rambutnya dengan jari, lalu sesekali berputar sembari bersenandung ria. Entah mengapa pagi ini dirinya sangat ceria sekali.
Setelah mengambil tas, ia keluar dari kamar dengan senyum cerah secerah mentari pagi ini. Menuruni anak tangga satu persatu dengan semangat.
"Selamat pagi bi Nem" sapanya dengan mengulas senyum hangat saat dirinya sudah menginjakan kaki di ruang meja makan.
Bi nem pun tersenyum mendapat sapaan hangat dari nona mudanya, "Pagi juga nona."
"Dimana ayah dan ibu?" tanya Assena dengan mendudukan tubuhnya di salah satu kursi meja makan, sembari mengedarkan pandangannya karena tidak melihat kedua orang tuanya.
"Tuan dan Nyonya baru saja pergi nona." Jawab bi Nem.
Kedua kening Assena mengerut heran, "Pergi kemana bi?" tanyanya lagi.
"Bibi juga kurang tahu nona."
Seketika ada raut kekecewaan di wajah Assena. Ia pun hanya meminum segelas susu saja lalu bangkit berdiri hendak pergi.
"Nona kenapa tidak sarapan?" bi Nem bertanya saat ia mendapati Assena sudah mau pergi tanpa menyentuh sarapan.
"Nanti saja di kampus bi" timpal Assena lalu pergi membawa langkah kakinya keluar rumah.
Saat di depan rumah, Assena tidak mendapati Altur, hanya ada mobil saja yang terparkir di halaman rumah.
"Biasanya dia sudah menunggu, tapi kemana dia?" lirihnya bertanya pada diri sendir. Kemudian mendudukan tubuh di kursi kayu yang ada di teras rumah.
20 menit berlalu, tapi Altur belum juga muncul. Assena sudah merasa kesal karena lama menunggu, ia pun berinisiatif mencari Altur ke halaman belakang. Baru beberapa langkah saja, Altur sudah terlihat muncul dari halaman belakang rumah.
"Kau kemana saja, aku menunggumu dari tadi." Ucap Assena sembari mengerucutkan bibirnya dengan melipat tangan di dada.
__ADS_1
"Maaf aku ketiduran." Jawab Altur sembari menguap.
"Apa?" suara Assena terdengar sedikit meninggi, jadi sedari tadi ia hanya menunggu orang yang sedang tidur begitu?
Namun Altur hanya melewati Assena tanpa menanggapi kekesalan majikannya itu.
Assena pun mengikuti langkah Altur menuju mobil dengan sengaja menghentak-hentakan kakinya, seperti anak kecil yang sedang merajuk.
Mobil sudah melaju keluar dari area rumah, sepanjang perjalanan Altur dan Assena hanya membungkam. Assena sendiri malas berbicara dengan Altur karena masih merasa kesal, tapi ia merasa aneh karena Altur hanya diam tanpa bicara. Biasanya Altur banyak bicara sekali.
"Altur.." panggil Assena.
"Hem" jawab Altur masih dengan arah pandangnya lurus ke depan jalan.
Assena semakin heran, karena Altur menjawab dengan singkat. Tidak biasanya, pikirnya.
"Kenapa kau diam saja?" tanya Assena.
"Lalu aku harus apa?" Altur balik bertanya.
Assena sudah merasa lelaki ini menyebalkan sekali.
"Biasanya kau banyak bicara" Ucap Assena dengan ketus.
"Aku sedang sakit gigi, jangan mengajakku berbicara nona." Timpal Altur.
Apa itu tadi? sakit gigi? yang benar saja.
Assena membungkam mulutnya setelah itu, hanya suara deru mesin mobil dan hiruk pikuk jalanan yang memecah keheningan di antara mereka.
Mobil berhenti di sebuah toko. Assena mengerutkan kedua alisnya, ia bertanya-tanya mengapa Altur memberhentikan mobil di tempat ini.
"Kenapa berhenti di sini?" Assena menyuarakan pertanyaan saat melihat Altur sudah melepas sabuk pengamannya.
"Tunggu lah sebentar! ada yang ingin aku beli." Jawab pemuda itu yang kemudian turun dari mobil.
Assena hanya memandang mengikuti kemana gerak pemuda itu melangkah. Lalu terlihat tubuh pemuda itu hilang setelah memasuki pintu kaca toko itu.
Lima menit saja, Altur sudah kembali dengan membawa papper bag kecil corak batik berwarna crem.
"Apa yang kau beli itu?" tanya Assena, sesaat setelah pemuda itu mendudukan tubuhnya di kursi kemudi.
Namun Altur hanya menggelengkan kepala, sembari meletakan papper bag itu di kursi belakang.
"Kenapa kau tidak menjawab? apa yang kau beli itu? apa aku boleh melihatnya." Oceh Assena lagi.
"Aduh.. Aduh.. Gigiku sakit.." Altur mengaduh sembari memegang sebelah pipinya.
__ADS_1
"Kau kenapa?" tanya Assena.
"Berhentilah mengajakku berbicara, gigiku sakit mendengar kau mengoceh." Ujarnya seperti menahan nyeri.
Terdengar kurang ajar memang jika berbicara seperti itu kepada majikan.
Assena mendelik sebal, lalu ia membuang muka menatap jalanan.
"Maafkan aku nona Assena hehe.." Batin Altur dengan tersenyum tipis, menyadari nona mudanya sudah terpancing kesal.
Sesampainya di kampus, Assena sengaja turun dari mobil dan berjalan dengan langkah cepat meninggalkan Altur.
Altur yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala seraya mengulas senyum.
Assena terus berjalan dengan cepat tanpa menoleh, ia berjalan menuju kantin.
Saat di rasa jauh dari Altur, Assena menyempatkan menoleh ke belakang. Terlihat Altur jauh menyusul di belakangnya.
"Aw.." Assena menabrak tubuh seseorang karena ia yang baru saja berjalan sambil menoleh ke belakang tanpa melihat ke depan. Tubuhnya hampir jatuh ke belakang, namun dengan cepat ada tangan terulur menarik tangan Assena, hingga menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.
Dan betapa terkejutnya sosok yang ia tabrak sekaligus yang menarik tangannya saat ini adalah Rolan.
Dengan cepat Assena bangkit berdiri dengan sempurna, lalu menepis tangan Rolan.
Rolan menatap wajah Assena dengan tatapan dingin. "Hati-hati kalau berjalan." Ucapnya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Altur yang terlambat datang, tapi ia melihat semuanya yang terjadi.
Seketika Altur dan Rolan saling beradu pandang, saling melempar tatapan tajam (jika dalam kartun naruto, mungkin kedua mata Altur dan Rolan akan mengeluarkan api wkwkwk).
Pandangan yang semakin tajam dan panas itu berakhir saat Rolan melangkah pergi.
"Apa kau tidak apa-apa? lelaki itu tidak melakukan apa pun terhadapmu kan? apa yang terjadi? kau yang menabraknya apa dia yang menabrakmu? katakan, katakan padaku!" rentetan pertanyaan Altur, ia menyelidik sekujur tubuh Assena. Ia harus benar-benar memastikan majikannya tidak lecet sedikit pun.
Mendengar itu, Assena hanya memutar kedua bola matanya dengan jengah.
"Kenapa sekarang kau banyak bicara sekali, bukankah kau sedang sakit gigi?" Cetus Assena.
Tubuh Altur menegang, ia menjadi sedikit gugup.
"Emm.. Ka-karena aku memaksakan untuk berbicara. Bagaimana pun aku harus memastikan kau baik-baik saja." Timpal Altur.
"Aduh.. Aduh.. gigiku sakit lagi." Altur meringis memegang pipinya.
"Itu lah. Banyak bicara sekali." Ucap Assena seraya pergi meninggalkan Altur.
Altur pun menyusul di belakang, menatap punggung Assena dengan tersenyum geli.
__ADS_1