Seberkas Cahaya

Seberkas Cahaya
Mencintainya


__ADS_3

***


Hari menjelang sore, sinar mentari masih menerangi buminya. Langit masih cerah, seolah masih jauh menggapai gelap.


Dalam ruang kamar Jasmine dengan serius mendengarkan cerita Assena. Ya, tidak lain dan tidak bukan. Sesuai janji Assena, kini Jasmine tengah menagih untuk mendengarkan penjelasan tentang hubungan Assena dan Petter. Hari ini Jasmine sengaja usai kuliah, ia langsung ikut pulang ke rumah Assena.


Mimik wajah Jasmine sesekali berubah, sesekali nampak terkejut, kadang berubah keheranan, juga sesekali mangut-mangut tanda mengerti.


"Apa? Petter menciummu? astaga dia mencuri ciuman pertamamu?" pekik Jasmine terkejut, kedua bola matanya membulat dengan sempurna menatap wajah Assena yang sudah bersemu merah karena malu.


"Lalu? lalu apa yang kalian lakukan lagi setelah Petter menciummu?" sambung Jasmine dengan antusias.


Assena memutar kedua bola matanya "Memangnya apa yang kau pikirkan, aku tidak melakukan apa-apa selain itu." Cetus Assena, ia merasa tersinggung karena mengerti apa yang di maksud Jasmine.


Hahaha Jasmine tertawa, "Syukurlah, aku takut jika si pembuat onar itu melakukan apa-apa terhadapmu." Dengan di akhiri dengan tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya.


"Sudah puas menertawakanku." Kini Assena membuang muka, merasa sebal terhadap sahabatnya.


"Sudah sudah jangan marah, lanjutkan lagi ceritamu!" ucap Jasmine sedikit merayu.


Assena masih cemberut dan membuang muka. Namun melirik wajah Jasmine yang menatapnya dengan penuh harap itu membuat Assena tidak tega mengacuhkannya. Ia membuang napas lalu menghadapkan kembali pandangannya ke arah Jasmine, lalu meneruskan ceritanya kembali.


Jasmine menjadi pendengar yang baik, ia tidak berani berkomentar lagi. Hanya ekspresi wajahnya yang menanggapi.


"Jadi begitu..." Jasmine mangut-mangut. Mencerna cerita yang telah ia dengar.


"Apa menurutmu dia bersungguh-sungguh dengan janjinya?" tanya Assena menatap wajah Jasmine dengan serius.


"Entahlah.. Tapi ku rasa dia memang menyukaimu, dia memang tahu segalanya tentangmu. Kau ingat? saat aku dan dia menjenguk kemari karena kau sakit? dia bahkan tahu Alamat rumahmu tanpa ku beri tahu. Saat itu aku tidak curiga apa-apa terhadapnya. Dan juga dia bisa tahu hari ulang tahunmu, bahkan sampai memberimu kado. Ku rasa sejauh ini dia selalu mengingat dirimu." Tutur Jasmine panjang lebar.


Mendengar itu pipi Assena bersemu merah, bibirnya melengkung tersenyum tipis. Ada kepuasan atas apa yang baru saja Jasmine katakan, seolah memperkuat kepercayaannya pada janji Petter dan mampu mengikis sedikit demi sedikit setiap keraguan.


"Tapi aku sebal kepadamu dan Petter, terutama kau!" kini Jasmine mengerucutkan bibir sembari memangku kedua tangannya di dada.

__ADS_1


Seketika Assena menautkan kedua alisnya yang nampak berkerut. "Kenapa memangnya?" tanyanya dengan polos seraya tak mengerti.


"Aku temanmu, juga Petter adalah temanku. Tapi baru sekarang kau menceritakannya padaku, itu pun aku yang menanyakannya terlebih dahulu. Jika saat itu aku tidak bertemu dengan Petter dan Petter tidak menitipkan kado kepadaku. Mungkinkah aku tidak akan tahu selamanya?" tutur Jasmnie masih dengan menunjukan kekesalannya.


Assena terdiam. Benar, memang dia tidak pernah cerita pada Jasmine. Meski selama ini Jasmine adalah teman terdekatnya.


Assena memejamkan mata di iringi hembusan napas yang berat. "Dengar, maafkan aku karena tidak menceritakannya padamu. Tapi semua terjadi begitu saja, aku malu jika harus menceritakannya. Karena yang kau tahu aku dan Petter hanya teman biasa. Bahkan aku tahu jika kau akan menertawakan tentang hubunganku dengannya." Ucap Assena dengan lembut, seolah meminta pengertian.


Jasmine pun luluh, kini ia melirik Assena dengan tersenyum tipis. "Baiklah aku mengerti. Lalu apa kau sungguh mencintai Petter?"


Butuh waktu untuk menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Jasmine, yang sesungguhnya itu lah poin yang belum Assena pahami.


"Emm aku tidak tahu." Assena menggelengkan kepala pelan. "Kau tahu sendiri aku tidak pernah dekat dengan lelaki mana pun. Jadi aku tidak tahu jatuh cinta itu seperti apa."


Jasmine menggeleng-geleng kepala dengan tersenyum tipis, ia merasa geli pada sahabatnya yang polos seperti Assena.


"Begini, apa kau masih mau menunggu Petter?" tanya Jasmine.


"Apa kau selalu memikirkannya?"


Assena mengangguk lagi.


"Apa kau rela jika seandainya Petter memiliki kekasih lain di luar negeri sana?"


Assena menggeleng cepat, pertanyaan yang ke tiga itu sedikit membuatnya ngeri.


Jasmine tersenyum lagi. " Itu tandanya kau mencintainya."


"Benarkah?"


"Hem.." Jasmine mengangguk.


"Sahabatku ini ternyata sedang jatuh cinta." Jasmine memeluk Assena.

__ADS_1


Assena membalas pelukan itu, ia tersenyum dan menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah di balik punggung Jasmine.


"Jika Assena benar-benar mencintai Petter, maka tidak ada harapan untuk Alvin mendapatkan hati Assena. Dan itu membuatku memiliki kesempatan untuk mendapatkan Alvin." Batin Jasmine yang merasa lega. ia menarik salah satu bibirnya ke atas.


Setelah cerita panjang lebar itu, dua gelas jus jeruk yang telah di suguhkan oleh bi Nem pun sudah tandas.


Jasmine pun bangkit berdiri, ia melangkahkan kaki ke arah balkon. Assena pun mengekori di belakang.


"Hah tidak terasa sudah sore," saat tubuh Jasmine sudah menempel pada railing besi balkon, pandang matanya menatap langit yang tidak secerah saat ia datang ke rumah ini. Ia sangat menyayangkan, padahal ia masih ingin berlama-lama di rumah Assena.


"Kau benar ini sudah sore." Timpal Assena yang juga telah berdiri di samping Jasmine.


Arah pandang Jasmine tertuju ke bawah saat ia mendengar suara.


Ternyata di bawah sana ada Arkan yang duduk di atas kursi


yang tengah memperhatikan burung kesayangannya, terlihat Arkan sedang berbincang-bincang dengan Altur.


"Assena.." Panggil Jasmine, namun arah pandang matanya masih lurus ke bawah sana.


"Hem.." Timpal Assena yang juga kini pemandangan ayahnya yang bersama Altur menjadi perhatiannya.


"Apa ayahmu masi bisa berjalan lagi?" tanya Jasmine yang melemparkan tatapan iba pada ayahnya Assena.


Tiba-tiba tatapan Assena menjadi sendu, ia menatap tubuh ayahnya yang berada di atas kursi roda. Karena ia tahu bahwa ayahnya tidak akan bisa berjalan lagi seperti biasa. Dari pengetahuannya tentang penyakit ayahnya yang ia cari di internet, kelumpuhan adalah yang pasti akan terjadi. Bahkan kemungkinan terburuknya adalah kematian.


Assena segera menepis bayangan buruk yang akan terjadi pada ayahnya, ia menggelengkan kepala seraya memejamkan mata.


"Ayahku memang sudah tidak bisa berjalan lagi." Ucap Assena tersenyum getir.


Jasmine menyadari kesedihan Assena, ia merasa menyesal karena telah menyinggung keadaan ayah dari sahabatnya itu.


Jasmine melingkarkan tangannya ke tubuh Assena, memberi usapan di bahu Assena dan menempelkan kepalanya pada kepala Assena. Seolah ia mengerti akan kesedihan sahabatnya.

__ADS_1


__ADS_2