
Assena dan Jasmine melangkah memasuki keramaian diantara para tamu yang lain.
Semakin melangkah menerobos masuk ke dalam keramaian. Keadaan mulai terasa begitu tidak nyaman bagi Assena, ketika pandangan semua orang mulai mengarah padanya.
Sudah mulai terdengar orang-orang membicarakannya dengan terang-terangan ada juga yang berbisik-bisik, namun masih tertangkap di indra pendengaran Assena, membuat ia begitu merasa risih.
"Apa dia Assena?"
"Dia cantik sekali."
"Dia kan murid kelas X11 B."
"Dia yang terkenal cantik tapi sedingin es batu itu!"
"Wah dia cantik, aku hampir tidak mengenalinya."
"Namanya Assena."
"Dia gadis incaranku, tapi tak susah didekati."
"Iya dia cantik!"
"Terlihat anggun yah!"
Begitulah setiap kata yang terdengar di telinganya, ia tidak begitu merasa nyaman menjadi pusat perhatian dan pusat pembicaraan.
"Kau terkenal juga yah, sampai-sampai semua orang membicarakanmu." Bisik Jasmine menggoda.
"Coba lihat mereka semua memperhatikanmu dari tadi, aku merasa minder dekat-dekat dengan gadis cantik cantik sepertimu." Sambungnya lagi dengan nyengir kuda.
"Kau tahu? Hal yang ku inginkan saat ini adalah pergi dari sini." Ucap Assena berdecak sebal.
Jasmine yang mendengar itu hanya cekikikan saja.
Seiring menjadi pusat perhatian, itu juga membuat sang tuan rumah menemukan sosok yang menjadi pusat perhatian para tamunya. Matanya menatap lekat pada sosok Assena dengan gaun berwarna baby pink itu. Terlihat jelas ada kekaguman dalam pandangannya. Ia mengulas senyum, lalu melangkah hendak menhgampiri.
"Hey selamat datang." Sapanya tersenyum menatap Assena.
"Hai.." Ucap Jasmine sedikit mengangkat tangannya melambai. Seolah memberi tahu bahwa dia juga ada.
Dan hey berhentilah menatap Assena. Dan akui juga keberadaan Jasmine.
Dan seketika Alvin melirik Jasmine dan mengulas senyum "eh hai, terima kasih sudah datang" ucapnya berbasa-basi.
"Selamat ulang tahun yah!" Jasmine mengulurkan tangannya.
Alvin juga membalas uluran tangan. "Terima kasih." Ucapnya tersenyum.
Kini Alvin menatap Assena lagi dengan lekat, membuat Assena tidak suka. Ingin sekali dia menghilang dari keramaian ini.
Hey apa? menghilang? yang benar saja.
__ADS_1
Dengan sedikit malas, Assena memberanikan diri untuk mengulurkan tangan. "Selamat ulang tahun!" Dengan wajah datar malas untuk tersenyum walau hanya memaksakan.
"Terima kasih Assena." Ucap Alvin bersemangat menyambut uluran tangan Assena.
"Alvin ini untukmu!" Jasmine menyodorkan kado papper bag itu.
Alvin yang enggan melepaskan genggaman tangannya, terpaksa melepaskan dan mengambil kado itu.
"Ini dariku." Susul Assena tidak mau berlama-lama. Ia menyodorkan kado berbentuk kotak kecil yang ia beli tadi. Setelah ini ia sudah berencana untuk pergi menghindar dari keramaian ini.
Alvin tersenyum lebar, menerima kado dari Assena. "Terima kasih Assena, aku senang kau datang." Senyumnya terus merekah seraya terus memandangi wajah Assena.
Banyaknya pasang mata yang melihat Alvin dekat dengan Assena yang membuat mereka merasa iri. Terutama para gadis penggemar Alvin tentunya.
Tak terkecuali juga sepasang mata yang sedari tadi menatap dengan tidak suka. Mengeratkan gerahamnya, mengepalkan kedua tangannya.
"Sial, dia lagi!" Ucapnya bersungut-sungut. Dia itu Viona.
Memangku kudua tangannya di dada. "Akan ku beri dia pelajaran malam ini, akan ku permalukan dia disini." Ucapnya tersenyum licik.
Saat pengumuman acara potong kue akan dimulai.
Suasana sedikit membaik bagi Assena, karena ia tak lagi jadi pusat perhatian. Karena hampir semuanya sibuk menyaksikan yang menjadi bintang malam ini akan segera memotong kue.
**
Masih bisa terdengar nyanyian selamat ulang tahun yang dinyanyikan ramai-ramai, juga suara tepuk tangan dan sorakan masih terdengar di telinga Assena. Meski sekarang ia sedang duduk sendiri di taman yang berada jauh dari keramaian.
Karena ia tahu Jasmine sangat ingin menghadiri pesta ini, ia tidak mau hanya karena dirinya membuat Jasmine melewatkan acara ini.
Meski sedari tadi Jasmine setia membuntuti Assena, Jasmine enggan meninggalkan sahabatnya sendirian. Tapi karena Assena benar-benar memaksa dan Jasmin pun terpaksa pergi, setelah mendengar bahwa Assena mengatakan ia akan baik-baik saja.
Duduk sendiri dengan tatapan mata yang memperhatikan sekitar.
Taman yang luas, dengan cahaya lampu yang menerangi. Terlihat bunga-bunga bermekaran terlihat tersorot cahaya lampu.
Angin berhembus, menyapu sekitar taman. Terlihat dahan pohon juga bergerak-gerak karenanya. Dedaunan berjatuhan terbawa angin.
Juga dipermukaan kulit Assena yang tersentuh angin, begitu terasa dingin, ia menggigil segera memeluk dirinya sendiri. Sesekali ia menyatukan kedua telapak tangannya dan mengesekannya, sudah terasa hangat ditelapak tangannya lalu menempelkannya pada kedua pipinya. Ia lakukan itu berulang kali.
"Disini dingin yah!"
Suara dari belakang yang terdengar tiba-tiba, terdengar tidak asing bagi Assena.
Assena menoleh. "Petter!" Ucapnya mengerutkan dahi.
"Kenapa kau disini sendiri?" Petter berucap seraya melangkah mendekat dan ikut duduk disamping Assena.
"Aku tidak begitu suka keramaian." Ucap Assena melirik Petter yang kini sudah ada di sampingnya.
Terlihat Petter melepaskan mantel yang melekat di tubuhnya, lalu memakaikannya pada Assena.
__ADS_1
Assena terkejut ketika benda hangat itu menempel dibelakang tubuhnya.
"Pakailah ini!" Ucap Petter seraya tersenyum.
"Tapi bagaimana denganmu?" Ucap Assena. kini pipinya mulai merah merona, terasa panas sekali seiring dengan detak jantungnya yang berdatak semakin kencang.
Duh kenapa setiap perlakuan Petter selalu membuat Assena dalam keadaan yang sama.
Sama dengan degup jantung yang serasa mau meledak saja.
Untung saja penerangan lampu yang tidak terlalu terang, tidak menampakan wajah Assena yang sudah memerah.
Tetapi meski begitu, sepertinya Petter tahu akan hal itu.
Lama terdiam dalam kecanggungan.
"Sebentar yah aku akan mengambil sesuatu untukmu." Ucap Petter seraya berdiri, menampakan dirinya dengan kaos polos berwarna putih itu.
Assena hanya mengangguk, sedikit menoleh ke arah kemana Petter pergi.
Seolah tersadar, ia mengerutkan dahi. Ia heran karena melihat Petter hanya memakai baju santai. Mana mungkin menghadiri undangan memakai baju seperti itu.
Ia masih bergelut dengan pemikirannya dan kebingungannya mengenai Petter. Belum ada jawaban atas itu.
Sudah terdengar langkah kaki yang mendekat, ia menoleh dan benar itu Petter telah datang dengan dua gelas coklat panas ditangannya.
Hah kenapa waktu pertama tadi tidak terdengar langkah kakinya, dan sekarang malah terdengar.
Apa dia mengendap-ngendap saat yang pertama kali datang tadi??
"Ini untukmu!" Petter seraya menyodorkan segelas coklat panas itu, dan duduk lagi disebelah Assena.
Assena segera menerimanya. "Terima kasih".
Kehangatan langsung terasa menjalar di kedua telapak tangan kala menakup gelas berisi coklat panas itu.
Aromanya yang manis sudah tercium begitu menghangatkan.
"Hati-hati masih panas!" Ucap Petter tersenyum dengan menatap lekat wajah Assena yang sedikit menunduk.
Assena terlihat endekatkan wajahnya pada gelas itu untuk mendapatkan uap dari gelas yang terasa hangat di wajahnya.
Mendengar itu, Assena menoleh dan sedikit tersenyum. Lalu ia kembali menghadapkan wajah pada gelasnya. Karena jika harus berlama-lama memandang Petter ia begitu tak sanggup menghadapi degupan jantungnya.
Ahhh rasanya ingin menghilang saja, ketimbang terjebak dengan degupan jantungnya yang susah dikendalikan.
Dirasa sudah hangat, sedikit demi sedikit Assena menyesap isi dalam gelasnya, terasa begitu nikmat saat dingin seperti ini.
Begitu juga dengan Petter, sambil mengabiskan isi dalam gelasnya. Sesekali ia melirik Assena.
Sungguh dua gelas coklat panas ini, bukan hanya terasa sebagai minuman coklat nikmat di lidah. Tapi ada rasa lain yang menyentuh di bagian hati.
__ADS_1