Seberkas Cahaya

Seberkas Cahaya
Berhalusinasi


__ADS_3

"Aku harus pulang.." Jasmine mengaitkan tas di salah satu pundaknya.


"Sebaiknya kau menginap saja!" titah Assena, ia enggan di tinggalkan sahabat baiknya.


"Mau nya begitu, tapi aku belum izin pada orang tuaku. Minggu depan aku janji akan menginap di sini. " timpal Jasmine melempar senyum penuh janji.


"Baiklah, aku akan menagihnya nanti.." Assena tersenyum.


Assena mengantar Jasmine turun ke bawah.


Jasmine pun berpamitan pada Arkan dan Evelin yang kebetulan ada di ruang tengah.


Langit sudah hampir gelap, Assena melambaikan tangan saat Jasmine sudah melajukan mobilnya. Assena pun kembali masuk ke dalam rumah.


***


Hari ini hari minggu, libur aktivitas kuliah.


Cahaya mentari masuk ke dalam ruang kamar Assena. Angin semilir masuk lewat pintu yang terbuka, pintu yang menghubungkan dengan balkon.


Sedang gadis itu tengah duduk di depan cermin. Usai mandi, kini ia tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Lalu menyisirnya hingga rapih, juga mengoles sedikit lipstik saja. Ia bangkit berdiri dan mengambil mantel di dalam lemari.


Mantel milik Petter itu kini sudah melekat di tubuhnya, ia berdiri di depan cermin seraya memutar tubuhnya beberapa kali untuk memastikan penampilannya.


Seketika ia tersenyum dan mendekap mantel yang ia pakai. Teringat kembali kenangan-kenangan yang hingga membuat mantel milik Petter itu kini ada padanya.


Untuk terakhir kalinya, ia memperhatikan lagi penampilannya dengan senyum mengembang.


Assena menyilangkan tas kecil di tubuhnya, lalu beranjak pergi meninggalkan kamar. Rencananya di hari minggu ini ia akan mengunjungi makam ibunya.


"Selamat pagi semuanya..." Sapa Assena saat menginjakan kakinya di ruang makan.


"Pagi sayang.." Timpal Evelin.


"Pagi sayang, kau mau mengunjungi makam ibumu?" tanya Arkan yang sedang sarapan duduk di atas kursi roda.


"Iya ayah, aku hendak mengunjungi makam ibu." Sahut Assena yang menarik salah satu kursi dan mendudukan tubuhnya di sana.


"Ayo makan sarapanmu!" Evelin menyodorkan roti yang sudah di olesi selai.


"Terima kasih bu.. Oh iya, dimana Bella?" tanya Assena saat tidak mendapati Isabella.


"Sepertinya dia masih di kamarnya." Jawab Evelin yang tengah mengunyah.


--


Usai sarapan Assena berpamitan pada Arkan dan Evelin untuk pergi.


Saat berada di depan rumah, Assena sudah mendapati Altur duduk di kursi kayu yang ada di teras.


"Berangkat sekarang?" tanya Altur yang langsung bangun berdiri.


Assena mengangguk dan melangkah mendahului ke arah mobil yang sudah terparkir di halaman rumah.

__ADS_1


Mobil pun melaju keluar dari area rumah.


--


Assena menyampaikan kerinduan lewat do'a yang Assena panjatkan untuk mendiang ibunya.


Sedang Altur masih setia menemaninya dengan ikut duduk berjongkok di samping Assena.


Seperti biasa jika berkunjung kemari, wajah Assena terlihat bersedih.


"Ibu.. Aku telah berdamai dengan ayah dan juga ibu Evelin. Ku harap ibu merestui.." Assena mengusap batu nisan yang betuliskan nama ibunya itu.


Usai menyampaikan rindu dan do'a Assena bangkit berdiri di susul oleh Altur. Mereka pun mrlangkahkan kaki meninggalkan tempat pemakaman tersebut.


--


Assena dan Altur baru saja masuk ke dalam mobil.


Saat Altur tengah memasang sabuk pengaman, kemudian suara dering berasal dari ponselnya. Ia pun merogoh ponsel dari dalam saku celana jeans.


Seketika kedua alisnya nampak berkerut saat mendapat nomor tak di kenal menghubunginya. Segera ia menggeser ikon berwarna hijau.


"Hallo.. Siapa ini?" tanya Altur, setelah menempelkan ponsel di telinganya.


"Sombong sekali kau ya, tidak menyimpan nomor ponselku." Gerutu seseorang dari dalam ponsel.


"Memangnya siapa kau?" tanya Altur lagi, ia tidak mengenalinya juga.


"Ck, sial. Berikan ponselnya pada Assena aku ingin bicara dengannya!!"


Rasanya ia enggan mengizinkan Alvin berbicara dengan Assena, namun apa haknya? tidak ada pilihan lain selain mengalah saja.


Altur pun melirik Assena dan langsung menyerahkannya pada Assena.


"Siapa?" tanya Assena sembari menerima ponsel itu.


Namun Altur enggan menjawabnya, tidak di jawab pun Assena akan segera mengetahuinya.


"Hallo.." Sapa Assena.


"Hai Assena, kau tidak lupa bukan untuk hari ini?" tutur Alvin, yang mungkin kini ia tengah mengembangkan senyum semangatnya.


Bahkan Assena sendiri baru mengingatnya. Jika Alvin tidak menghubunginya,mungkin ia tidak akan ingat.


"Ya, aku ingat." Jawab Assena dengan wajah datarnya.


"Oh bagus lah, apa sekarang kau sudah bisa pergi?"


Karena Assena juga tengah berada di luar rumah, sekalian saja ia menyanggupinya.


"Baiklah aku akan pergi sekarang."


"Mau bertemu dimana?.

__ADS_1


"Terserah kau saja." timpal Assena.


"Baiklah akan ku kirim tempatnya.."


Setelah itu panggilan pun terputus.


Altur menatap Assena dengan mengangkat kedua alis. Seolah menunggu perintah yang memang telah ia duga.


"Antar aku untuk menemui lelaki itu." Perintah Assena.


"Kemana?" tanya Altur.


"Aku juga tidak tahu, tapi dia bilang akan mengirim alamatnya." Timpal Assena seraya mengangkat bahu.


Kemudian ponsel Altur bergetar, tanda pesan masuk. Ternyata benar, itu pesan alamat yang di kirim Alvin.


"Dia mengirim alamatnya, dan itu di restaurant X." Tutur Altur.


"Apa dia gila, untuk apa harus bertemu di restaurant mewah seperti itu." Protes Assena. Ia tahu restaurant yang Alvin maksud adalah salah satu restaurant bintang lima.


"Apa kita akan ke sana?" tanya Altur.


Assena memutar kedua bola matanya dengan jengah, "Turuti saja apa maunya!" cetus Assena sedikit kesal.


Mobil pun melaju menuju alamat yang di maksud.


Perjalanan yang memakan waktu satu jam itu pun membuat Assna tertidur.


"Hey nona Assena bangun!" ucap Altur dengan mengoyangkan bahu Assena.


Assena mengerjapkan mata, ia mencoba mengumpulkan kesadarannya.


"Ada apa Altur? kita dimana?" tanyanya, sepertinya gadis itu belum sepenuhnya sadar.


"Kita sudah sampai, bukankah kita akan menemui Alvin." Tutur Altur mencoba mengingatkan.


Assena terdiam sejenak, mencoba mencerna dengan baik apa yang baru saja Altur katakan.


"Oh iya aku baru ingat, apa aku tidur terlalu lama?" tanya Assena karena yang dirasa ia lama tertidur.


"Sepanjang perjalan kau tertidur." Ucap Altur menatap wajah Assena dengan tersenyum, gadis yang baru bangun dari tidur itu nampak menggemaskan sekali di kedua mata Altur.


"Ah ingin sekali ku gigit pipi yang mulus itu, ingin cubit hidung mancung itu. Ah ingin sekali ku sentuh bibir mungil itu, ingin ku..."


"Hey Altur, kenapa diam?" kini malah Assena yang menyadarkan Altur.


"Eh iya kenapa?" Altur yang baru saja tersadarkan dari berhalusinasi itu di buat gelagapan.


"Coba hubungi laki-laki itu, apa dia sudah sampai?" titah Assena.


Baru saja Altur mengeluarkan ponselnya, satu panggilan berhasil masuk. Altur tahu jika itu Alvin, ia segera menyodorkannya pada Assena.


Assena menerima ponsel itu dan segera mengeser ikon berwarna hijau.

__ADS_1


"Aku sudah sampai di tempat aku janjikan tadi." Suara Alvin terdengar dari dalam ponsel.


__ADS_2