Seberkas Cahaya

Seberkas Cahaya
Demam


__ADS_3

Petter dan Jasmine masih setia membantu Assena untuk berjalan sampai depan gerbang.


"Dimana mobilmu?" Tanya Jasmine seraya mengedarkan pandangannya.


"Sebentar, aku akan menghubungi pak Sur." Assena seraya merogoh tas kecilnya yang basah. Dan ia baru teringat kalau saat tercebur tadi ponselnya entah jatuh kemana.


"Astaga, ponselku mungkin terjatuh saat tercebur tadi."


"Lalu bagaimana menghubungi sopirmu itu?" Tanya Jasmine.


"Biar aku saja yang mencari di tempat parkir, kalian tunggu disini!" Sahut Petter bergegas cepat menuju tempat parkir khusus mobil.


Sepuluh menit saja, Petter sudah kembali.


"Aku sudah menemukannya, mobilnya sedang menuju kemari." Ucap Petter.


Benar saja tak butuh waktu lama, suara deru mobil sudah terdengar. Dan kini berhenti tepat didepan mereka.


Pak Sur bergegas turun, "Apa yang terjadi nona? Kenapa basah kuyup seperti ini?" Tanyanya dengan panik.


"Aku tidak apa-apa hanya sedikit ceroboh, lalu terjatuh ke dalam kolam." Jawab Assena tersenyum. Ia mencoba menampakan bahwa ia baik-baik saja, ia tidak mau jika pak Sur khawatir.


"Baiklah kita harus segera pulang, nona bisa kedinginan dengan baju yang basah seperti itu." Ujar pak Sur seraya membukakan pintu.


Assena mengangguk, lalu melirik pada Petter da Jasmine bergantian. "Aku akan pulang, terima kasih Petter, Jasmine." Ucapnya mengulas senyum.


"Baiklah hati-hati!" Ucap Jasmine balas tersenyum.


"Beristirahatlah! Mengenai ponselmu, aku akan mencarinya." Ucap Petter tersenyum.


Seketika Assena menatap Petter. "Terima kasih." Dengan mengulas senyum.


Assena sudah berada didalam mobil, menurunkan kaca, lalu melirik ke arah Petter dan Jasmine. Tepatnya lebih melirik ke arah Petter.


Mobil mulai melaju, Jasmine melambaikan tangannya, sementara Petter masih memandang dimana arah mobil itu melaju dengan memasukan kedua tangannya kedalam saku celananya.


**


Sepanjang perjalanan Assena hanya diam bersandar, memejamkan mata. Memeluk dirinya sendiri, mengelus-ngelus mantel yang melekat di tubuhnya.


Tercium wangi parfum khas milik Petter, wanginya begitu terasa nyaman untuk di hirup. Seketika ia tersenyum tatkala menyentuh mantel itu. Sederetan peristiwa yang terjadi malam ini bersama Petter tebayang-bayang.


Membayangkan itu, membuatnya tak bisa menahan senyum. Apa? mengapa seperti itu?


**


Mobil yang membawa Assena kini sudah memasuki halaman depan rumah yang luas.


Assena membuka pintu melangkah masuk, di ruang tengah ternyata Arkan dan Evelin masih terjaga. Mereka sedang menonton televisi.


Dengan terdengarnya suara langkah kaki, membuat Arkan dan Evelin menoleh bersamaan.


Terlihatlah didepan mata mereka, Assena yang begitu berantakan, wajah pias, bibir pucat, rambutnya terlihat masih basah. Membuat mereka dengan cepat meberondong petanyaan dengan kecemasan.


"Astaga sayang apa yang terjadi? Kenapa kau basah kuyup seperti ini?" Tanya Evelin yang langsung menghampiri dan memegang rambut, wajah dan bahu silih berganti.

__ADS_1


"Apa yang terjadi? Apa kau baik-baik saja?" Arkan tak kalah ikut menghampiri karena merasa khawatir.


"Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit ceroboh membuat aku terjatuh ke dalam kolam


" Jawaban yang sama, Assena sedikit memaksakan senyum melirik wajah Arkan dan Evelin silih berganti.


"Ya tuhan kenapa kau begitu ceroboh seperti itu sayang. Ayo cepatlah ganti baju, kau pasti kedinginan. Ibu akan membuatkan mu susu hangat untuk menghangatkan tubuhmu." Ucap Evelin seraya merangkul bahu Assena dan mengusap-ngusapnya, lalu membawa langkahnya menggiring Assena mengantar ke dalam kamarnya.


**


Kini Assena sudah berbaring dengan selimut tebal menyelimuti tubuhnya. Setelah menghabiskan segelas susu hangat yang Evelin tadi bawakan ke kamarnya.


Ia merasa kepalanya sedikit pusing dan masih terasa menggigil dingin meski sudah berselimut.


Menatap langit-langit kamarnya dengan cahaya remang. Ia masih betah membayangkan kembali saat-saat bersama Petter. Sesekali membuatnya tersenyum sendiri.


Entahlah, membayangkannya ada rasa bahagia tersendiri .


Sampai matanya sudah terasa berat. Lalu jatuh ke alam mimpi.


**


Semenjak Assena mengenal Petter, ia tidak terlalu larut lagi dengan bayangan masa lalu yang menyedihkan itu.


Bahkan mimpi- mimpi buruk yang selalu hadir hampir di setiap malam itu kini sudah jarang ia impikan.


Setiap mengingat dan membayangkan kedekatannya dengan Petter ia merasa kehangatan terasa menyusup ke dalam hatinya.


Sebenarnya Assena masih tidak mengerti untuk mengartikan perasaannya terhadap Petter, ia merasakan rasa yang aneh jika bersama Petter. Ia merasakan rasa yang tak pernah ia rasakan sebelumnya pada siapa pun.


**


Sinarnya memaksa menembus masuk kaca jendela. Yang ternyata gordennya telah dibuka. Hingga cahaya terang menghangatkan itu leluasa masuk kedalam ruang kamar Assena.


Kedua bola mata Assena kini perlahan mengerjap, merasa begitu silau karena cahaya matahari mengenai wajahnya.


Ini hari minggu, jadi ia memang sengaja untuk bangun terlambat. Terlebih lagi karena menghadiri pesta itu sampai larut.


Dengan mata masih terasa berat, ia melirik jam dinding, sudah pukul 09.00 pagi. Ia begitu malas untuk bangun, di tambah kepalanya terasa begitu berat.


Kini ia memilih untuk meringkuk lagi, membalikan badannya, membelakangi cahaya matahari.


**


"Aku akan melihatnya." Ucap Evelin seraya berdiri dari duduknya, meninggalkan Arkan dan Isabella di meja makan.


"Mungkin dia akan terlambat bangun, dia butuh istirahat karena pulang larut malam tadi." Sambung Evelin seraya terus melangkah menaiki satu persatu anak tangga.


"Baiklah sayang,pastikan dia baik-baik saja." Sahut Arkan tersenyum yang masih dengan sarapannya.


**


Ceklek, Evelin membuka pintu. Dan nampak Assena masih meringkuk membelakangi.


Evelin mengulas senyum, melangkah mendekat. Kini sudah duduk di tepi ranjang.

__ADS_1


Dengan lembut mengusap rambut Assena. "Sayang bangun! Kau harus sarapan dulu." Ucapnya dengan lembut.


"Bukankah kau harus pergi mengunjungi makam ibumu?"


"Tapi jika kau masih ingin tidur, beristirahatlah! Kau bisa pergi nanti sore saja." Sambungnya lagi masih dengan gerakan mengusap rambut hitam nan panjang itu.


Namun tak juga ada sahutan. Membuat Evelin berinisiatif menyentuh kening Assena. Begitu terasa panas saat telapak tangannya menyentuh dikening Assena.


"Astaga panas sekali, dia demam!" Ujarnya panik. Segera Bergegas keluar kamar.


**


"Dia demam, badannya panas sekali" ucap Evelin menyampaikan pada Arkan.


Mendengar itu, Arkan terlihat terkejut. Dan wajah penuh kekhawatiran begitu nampak jelas "aku akan menghubungi dokter Roghi" ucapnya cepat.


"Baiklah, sambil menunggu dokter Roghi datang, aku akan membawakan air untuk mengompres."


Evelin bergegas menaiki tangga dengan membawa air hangat dalam wadah baskom kecil yang sudah di siapkan bi Nem.


Perlahan handuk kecil yang lembut itu di masukan ke dalam wadah berisi air hangat, di angkat lalu di peras. Selanjutnya menempelkannya pada kening Assena.


Sampai dirasa handuk kecil itu mulai kering karena menyerap panas, Evelin kembali memasukan lagi ke wadah air, lalu kembali menempelkan lagi padah kening Assena. Begitu seterusnnya.


Arkan dan Isabella juga ada di ruangan yang sama, untuk memastikan kondisi Assena.


Arkan begitu gelisah, sembari ikut duduk ditepi ranjang.


"Bagaimana keadaannya sekarang?" Tanya Arkan pada Evelin.


"Kompresan ini sedikit membantu mengurangi panasnya, tenanglah dokter Roghi akan segera datang." Jawab Evelin masih dengan telaten mengompres.


"Kakak Sena sakit apa ibu?" Tanya Isabella dengan wajah polosnya.


"Kakak demam sayang." Ucap Evelin tersenyum menatap lembut pada putrinya itu.


Assena sedari tadi sudah sadar, hanya saja matanya terasa berat, pusing, badannya terasa panas dan lemas.


Ia hanya berbaring terlentang, memejamkan mata, sesekali melirik orang-orang di sekitarnya dengan memaksakan membuka matanya sedikit meski berat.


"Sebentar lagi sayang, dokter Roghi akan datang." Ucap Evelin tersenyum tapi masih menampkan kecemasan.


Assena hanya mengangguk lemah.


**


Dokter Roghi, Pov


Dokter Roghi adalah dokter pribadi keluarga Arkan. Dia dokter muda yang usianya sekitar 30 tahun. Dia adalah dokter penerus dari ayahnya, Dokter Jhon.


Dokter Roghi menggantikan ayahnya yang sudah mengabdi sejak lama sebagai dokter pribadi keluarga Arkan.


Dokter Jhon yang sudah meninggal, dan kebetulan dokter Roghi bersedia menjadi penerus mendiang sang ayah untuk menjadi tenaga medis bagi keluarga Arkan. Setiap anggota keluarga yang sakit, dokter Roghi akan datang untuk menanganinya.


Dokter Rhogi juga rutin dua minggu sekali datang untuk memeriksa kondisi Arkan.

__ADS_1


Selama ini dokter Roghi telah menjadi dokter pribadi keluarga Arkan hampir 3 tahun.


__ADS_2