Seberkas Cahaya

Seberkas Cahaya
Penyesalan


__ADS_3

**


Kedua kelopak mata Assena nampak bergerak-gerak, berusaha untuk membuka mata. Yang pertama ia lihat adalah langit kamarnya.


"Akhirnya kau sadar juga."


Suara itu menyadarkan, bahwa ada orang lain di kamarnya. Ia melirik seseorang yang tengah duduk di kursi samping tempat tidurnya, dia yang tak lain adalah Yumna.


"Kau ada disini?" tanya Assena.


"Iya aku kesini besama ibu dan ayahku, saat mendapat kabar paman sakit."


Assena terperangah mendengarnya, ia mencoba mengingat apa yang telah terjadi.


Ia baru ingat setelah mendengar semua tentang ayahnya dari Evelin, Assena pingsan tak sadarkan diri.


Assena melirik jam dinding, ternyata ini sudah malam.


"Ayah.." Lirihnya dengan suara lemah, mencoba bangun dari tidurnya.


Yumna berdiri menjongkok mencoba membantu Assena untuk duduk.


"Assena kau tidak apa-apa?" Yumna berucap dengan nada khawatir akan sepupunya itu.


"Aku baik-baik saja, aku ingin melihat ayahku." Assena bergerak mencoba turun dari tempat tidur.


"Kau yakin sudah tidak apa-apa?" Sekali lagi Yumna meyakinkan keadaan Assena.


"Aku tidak apa-apa, kau lihat aku bisa berdiri bukan? Apa perlu aku loncat-loncat supaya kau percaya?." Assena bersikukuh.


"Baiklah ayo kita turun!" Yumna menuntun tangan Assena.


Mereka menuruni satu persatu anak tangga, dan Yumna masih setia menuntun Assena.


"Aku tidak apa-apa, kau seperti sedang menuntun orang sakit saja." Ucap Assena terkekeh melihat tingkah sepupunya.


"Kau ini banyak bicara sekali." Timpal Yumna tersenyum mendengar protesan tersebut.


Assena dan Yumna sudah menginjakan kaki di ruang tengah, yang nampak di sana Evelin, Isabella, Rey dan Lusi.


Mereka yang berada di ruang tengah pun menoleh bersamaan kala menyadari kehadiran Assena dan Yumna.


"Sayang kau sudah sadar? syukurlah." Evelin seraya berdiri lalu berjalan menghampiri Assena.

__ADS_1


"Kau tidak apa-apa? apa masih lemas atau pusing?" Tangan Evelin memegang kedua bahu Assena, seraya memastikan.


"Aku baik-baik saja."


"Ayo duduklah!" ajak Evelin menuntun tangan Assena untuk mengikutinya mendudukan tubuh di kursi sofa.


Setelah itu, Rey dan Lusi pun silih berganti menyapa Assena dengan penuh perhatian. Bagai mana tidak? Assena adalah keponakan kesayangan Rey. Ketimbang dengan Isabella mereka tidak terlalu dekat dengan Isabella.


"Bagaimana keadaan ayah?" pertanyaan Assena membuat Evelin, Rey dan Lusi saling melempar pandang. Bagaimana tidak? keadaan Arkan yang masih belum sadar juga.


"Ayah sedang istirahat sayang." Jawab Evelin di iringi dengan seulas senyuman.


"Aku ingin melihatnya." Assena menatap Evelin seraya meminta izin.


"Boleh saja, tapi jangan berisik. Jangan sampai mengganggu istirahat ayahmu!"


Assena pun mengangguk, dan ia melangkahkan kaki memasuki kamar ayahnya.


Saat dirasa Assena sudah tidak terlihat. Rey mencoba memulai percakapan yang sempat tertunda tadi sebelum kedatangan Assena. Sengaja tidak membahasnya di depan Assena. Karena ia tidak mau membuat Assena semakin khawatir atas Arkan.


"Apa kakakku benar-benar menolak untuk di rawat di rumah sakit?" tanya Rey pada Evelin.


"Dia benar-benar menolak. Ia hanya ingin di rawat di rumah saja. Dengan alasan tidak mau jauh dari keluarga. Dia hanya ingin berkumpul bersama keluarga." Tutur Evelin kedua bola matanya terlihat mengkilat karena di lapisi cairan bening. Tak dapat di pungkiri keadaan Arkan yang semakin memburuk begitu menyedihkan baginya.


Sedang di dalam kamar Arkan, Assena tengah duduk di sisi ranjang. Kedua matanya sedari mula ia memasuki ruang kamar ini hanya tertuju pada tubuh yang terbaring lemah tak berdaya itu. Dengan alat bantu pernapasan dan juga selang infus yang masih terpasang di tangan kanan ayahnya. Terlihat Arkan bernapas dengan tenang.


Wajah yang sudah terlihat keriput nan pucat, rambut yang sudah sedikit beruban, juga tubuh yang kurus. Gambaran itulah yang terpampang di depan matanya. Hatinya begitu pilu melihat keadaan ayahnya seperti itu. Tak terasa air matanya menetes, tidak pernah terbayang bahwa keadaan ayahnya akan semenyedihkan ini.


Perlahan tangannya terulur mengusap punggung tangan ayahnya lalu membawanya dalam genggamannya.


Terasa dingin sekali jari jemari ayahnya. Seolah ingin memberi kehangatan, Assena terus menggenggam telapak tangan ayahnya itu, mengapitkannya dengan kedua telapak tangan Assena.


"Maafkan aku ayah, maafkan aku dengan segala ke egoisanku. Karena masa lalu itu, aku selalu bersikap acuh pada ayah. Aku sering menolak permintaan ayah. Tapi ketahuilah aku menyayangi ayah. Ayah satu-satunya yang ku miliki setelah ibu tiada. Maafkan aku, tolong jangan tinggalkan aku ayah." Lirihnya dengan air mata yang terus berderai. Penyesalan begitu merasuki dirinya. Rasanya ia ingin memutar waktu untuk bersikap baik pada ayahnya.


"Ayah mau minta apa? aku akan lakukan asal ayah sembuh. Aku mau ayah sembuh." Assena benar-benar telah menunjukan sisi lain dari dirinya terhadap ayahnya, berbeda dari ia yang biasa dingin dan acuh.


Karena mungkin sifat asli dirinya memang seperti itu, sosok yang lembut, riang dan ramah. Tapi karena kisah masa lalu menjadikan ia menunjukan sikap dinginnya.


Matanya sudah sembab karena habis menangis, rasanya ia enggan untuk meninggalkan ruang kamar ini. Assena pun beranjak dari duduknya.


"Cepat sembuh ayah, setelah ini aku akan menebus semuanya." Ucapnya sedikit tersenyum. Lalu langkah kakinya meninggalkan ruang tersebut.


Saat sesudah keluar, tatapan semua orang yang ada di ruang tengah mengarah pada Assena. Dan ternyata dokter Roghi juga sudah ada di sini.

__ADS_1


Mereka mengerti saat terlihat mata Assena menjadi sembab, namun tidak ada yang berani menyinggungnya.


"Sayang paman dan bibi pamit pulang." Ucap Rey yang berjalan mendekat. Lalu mengusap lembut kepala keponakannya itu.


"Tidak perlu khawatir sayang, semua akan baik-baik saja. Berdoalah selalu!" Lusi pun memeluk Assena.


"Dan Yumna akan menginap disini untuk menemanimu." Sambung Lusi seraya melepas pelukannya.


"Benarkah?" senyum Assena nampak mengembang, lalu melirik Yumna. Yumna pun tersenyum menatapnya.


Setelah Rey dan Lusi berpamitan pada Evelin juga dokter roghi, mereka pun pulang.


Sedang dokter Roghi akan menginap untuk memantau keadaan Arkan.


Assena dan Yumna pun kembali ke kamar.


"Dokter Roghi itu tampan juga ya." Ucap Yumna tersenyum sembari membayangkan wajah dokter Roghi.


Mendengar itu Assena tersenyum geli. "Apa kau menyukainya?"


"Tidak, aku hanya mengaguminya saja. Lagi pula aku sudah memiliki kekasih. Dan aku akan setia pada kekasihku."


Mendengar jawaban Yumna, Assena melempar bantal ke wajah sepupunya itu.


"Dasar kau ini.."


Yumna pun tak mau kalah membalasnya. Terjadilah saling lempar melempar bantal.


Dimana dulu waktu kecil mereka sering tidur satu kamar. Dan sekarang mereka bisa mengulanginya lagi.


***


Di malam yang sama, di tempat berbeda.


"Bagaimana Jessy?" tanya Rolan.


"Semua sedang dalam proses kak." Jawab Jessy.


"Bagus, ku sarankan kau jangan membuang-buang waktu lagi." Tegas Rolan penuh penekanan.


"Tenang saja kak, tidak lama lagi aku akan membawanya." Jessy tersenyum penuh makna.


"Aku senang kau bisa ku andalkan. Kau memang adikku yang pintar. Aku tidak sabar menunggu waktu itu tiba." Rolan menyeringai.

__ADS_1


__ADS_2