Seberkas Cahaya

Seberkas Cahaya
Merahasiakan


__ADS_3

**


Saat di perjalanan pulang dari rumah sakit, pak Sur sesekali melirik kaca spion. Ia khawatir melihat wajah Assena begitu murung saat keluar dari rumah sakit itu, terlebih sangat sebentar sekali waktu menjenguk ayahnya tadi.


"Apa terjadi sesuatu?" Batin pak Sur.


**


Memasuki gerbang rumah yang besar dan mewah.


"Silahkan nona!" Pak Sur membukakan pintu mobil.


Assena turun dengan wajah masih murung menunduk. Dengan melangkah malas memasuki rumah.


"Oh nona sudah pulang dari rumah sakit ya." Sapa bi Nem berada di dapur yang melihat kedatangan Assena.


Assena hanya sedikit tersenyum yang di paksakan. Terus melangkah menaiki anak tangga.


Brugh Assena membanting tubuhnya di atas ranjangnya yang empuk.


Bayangan perkataan ayah dan pamannya terus berputar di kepalanya.


"Kau benar ayah, aku memang masih membencimu." Lirihnya memejamkan mata.


"Tapi kau tak pernah tahu, di atas kebencianku masih ada rasa sayang untukmu. Bagaimana pun kau adalah ayah kandungku, sosok ayah yang sudah memberikan kenangan-kenangan indah waktu aku kecil dulu. Tertawa bersama denganmu dan dengan ibu waktu dulu. Meski setelahnya kau juga sosok ayah yang menghancurkan semuanya." Lirihnya lagi masih terpejam membayangkan kenangan indah keluarga kecilnya dulu sebelum kehancuran itu terjadi.


Kemudian air matanya menetes. Bayangan masa lalu keluarga kecil yang bahagia, terus berlarut sampai pada bayangan kepergian ibunya.


**


Tok tok tok


"Nona Sena sudah waktunya makan malam."


Suara itu membangunkan Assena dari tidurnya.


Ah iya dia tertidur sore itu.


Masih mengumpulkan kesadarannya, mengucek-ngucek kedua matanya. Sesekali juga ia menguap.


"Apa mau bibi antar makan malamnya ke kamar nona?" Ucap bi Nem lagi saat tak mendapat jawaban dari dalam kamar.


"Tidak usah bi, sebentar lagi aku akan turun." Jawab Assena dengan suara parau.


Ya dia bersedia turun untuk makan malam. karena dia tahu untuk sekarang di rumah ini tidak ada ayah dan ibu tirinya yang membuat ia malas makan bersama.


**


Usai mandi, Assena bergegas turun untuk makan malam.

__ADS_1


Menggeser kursi lalu duduk, nampak di meja banyak makanan kesukaannya. Tapi makanan nya tidak terlalu banyak seperti biasa karena memang Arkan, Evelin dan Isabella tidak ada.


"Bi.." Panggil Assena melihat bi Nem berada di dapur.


Bi Nem bergegas menghampiri. "Iya nona ada apa?" Ucapnya dengan kain lap tersampai di pundaknya.


"Duduklah temani aku makan bi." Ucap Assena tersenyum.


"Emm anu tapi.." Bi Nem nampak ragu.


"Tidak apa-apa bi, duduklah! Dan ajak juga pak Sur kemari." Senyumnya dengan ramah.


Kini, di meja makan sudah ada bi Nem dan pak Sur. Mereka nampak canggung.


"Tidak usah sungkan, kalian juga adalah keluarga bagiku." Ucap Assena tersenyum menatap bi Nem dan pak Sur silih berganti.


Lihatlah, bahkan dia lebih nyaman makan bersama para pekerja di rumahnya di banding dengan keluarnya sendiri.


Melihat Assena yang nampak bahagia di temani, juga membuat bi Nem dan pak Sur saling beradu pandang dan saling tersenyum.


**


Di rumah sakit, di ruangan perawatan Arkan.


"Sayang kau pulang lah dulu, bawa Isabella pulang. Kasihan dia lelah." Ucap Arkan yang duduk bersandar di ranjang perawatannya. Ia melihat Isabella yang tertidur di sofa yang berada di samping ranjang.


Ruang perawatan yang luas dengan pasilitas mewah.


"Kalau begitu, besok pagi kita pulang saja. Lagi pula aku sudah bosan seharian berada disini." Ucap Arkan.


"Tapi bagaimana dengan kondisimu? Kau belum sembuh benar." Timpal Evelin menatap Arkan dengan khawatir.


"Aku sudah lebih baik, aku akan meminta dokter Roghi untuk memeriksa ke adaanku di rumah nanti. Lagi pula aku memang tidak bisa sembuh. Ini hanya mampu memperlambat saat-saat kematianku saja." Ucap Arkan tersenyum getir.


"Tolong jangan bicara seperti itu, itu hanya diagnosa dokter. Dokter itu hanya manusia biasa jangan terlalu percaya pada apapun yang di ucapkannya. Tapi kita bisa berharap pada tuhan." Ucap Evelin seraya beranjak dari duduknya, menghampiri Arkan.


"Berharap semoga ada keajaiban dari tuhan, kau harus percaya itu." Bisik Evelin menangkup wajah Arkan, menatap kedua bola mata Arkan. Ia berusaha meyakinkan dan menyemangati Arkan.


Lama beradu pandang, bola mata Arkan terlihat berkaca-kaca. Ia begitu terharu akan usaha Evelin yang menyemangatinya.


Seketika ia memeluk Evelin dengan erat.


"Berjanjilah untuk tidak memberitahu ini pada Assena dan Isabellam" Bisik Arkan di tengah pelukan yang masih begitu erat.


**


Hari-hari berlalu.


Sudah beberapa hari ini Arkan tidak pergi ke kantor ia hanya memantau perusahaannya dari rumah, dengan laporan dari sekertarisnya.

__ADS_1


Assena mengetahui ayahnya yang sejak pulang dari rumah sakit, belum terlihat beraktivitas seperti biasa lagi.


Mungkin ayahnya hanya harus beristirahat dan memulihkan kesehatannya. Begitulah pemikiran Assena.


**


Hari ini hari sabtu. Assena sudah berada di sekolah.


Di dalam kelas.


"Ayolah Sena kau harus datang!" Bujuk Jasmine.


Dari tadi ia begitu bersusah payah membujuk Assena untuk hadir ke pesta ulang tahun Alvin.


"Kau tidak bosan terus membujukku? Aku saja yang mendengarnya begitu bosan dan begitu sakit sekali telingaku." Ucap Assena masih tidak perduli.


"Aku tidak akan menyerah, kau harus datang. Aku tidak mau datang sendiri, hanya kau teman ku satu-satunya. Apa kau tega membiarkan aku datang sendiri, kau temanku tapi kau begitu jahat padaku." Kini aktingnya merajuk dengan mata berkaca-kaca.


Menghembuskan napas dan memutar kedua bola matanya. "Baiklah baiklah berhenti berpura-pura merajuk, aku akan datang menemanimu" ucap Assena seoalah tahu akting sahabatnya ini.


Langsung berhambur memeluk. "Yeay, kau memang temanku yang paling cantik, manis dan baik hati." Ucap Jasmine kegirangan.


"Lepaskan aku tidak bisa bernapas!"


Tersadar dan melepaskan pelukannya yang sangat erat. "Maaf aku terlalu bahagia." Ucap Jasmine tersenyum lebar.


"Tapi ingat aku hanya menemani mu. Jangan mengajakku yang aneh-aneh di sana nanti." Ucap Assena memperingati.


"Baiklah baiklah tuan putri, terserah kau saja." Jawab Jasmine tidak mau perduli dengan peringatan temannya ini.


"Sepulang sekolah ayo kita berbelanja dulu membeli gaun untuk acara nanti." Ajak Jasmine.


"Tidak, aku malas."


"Ayo lah aku mohon, aku harus membeli gaun bagus untuk acara nanti. Aku lupa membelinya, sedangkan acaranya nanti malam." Rengek Jasmine memohon.


"Baiklah terserah" Jawab Assena datar.


"Yeay, kita bisa pergi dengan mobilmu saja yah!" Ucap Jasmine tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya.


Assena hanya memutar kedua bola matanya, tidak bisa menolak lagi kemauan Jasmine.


Lagi pula ia berpikir, ia tak punya gaun baru. Ia juga berniat untuk membeli bersama Jasmine nanti.


**


Saat pulang sekolah, Assena dan Jasmine menunggu di depan gerbang.


Tidak biasanya pak Sur telat menjemput.

__ADS_1


Cekiiit... Suara motor sport yang berhenti tepat di depan mereka.


__ADS_2