
"Apa listriknya mati?" ucapnya dengan tidak tenang.
Karena usahanya tidak berhasil menghidupkan lampu, ia pun mencoba melangkahkan kaki berniat untuk pergi ke kamarnya. Baru beberapa langkah saja, kakinya terasa menedang benda ringan berbentuk bulat seperti bola, namun itu bukan bola karena terasa lebih ringan. Saat ia berjongkok hendak mengambil benda itu, tiba-tiba di bawah kakinya ada yang bergerak-gerak. Tangannya pun meraba apa yang bergerak itu, terasa sesuatu yang berbulu di telapak tangannya.
"Meooooong"
"AAAAAAAA" tiba-tiba Assena menjerit terjingkat-jingkat. Saat sesuatu yang berbulu yang ia raba dan juga mengeluarkan suara.
Seketika itu pula lampu menyala, daaan...
"SELAMAT ULANG TAHUN" suara serentak dari sekumpulan orang-orang yang Assena kenali.
Assena begitu terkejut. Raut wajah Assena yang semula ketakutan juga ingin menangis. Andai saja mereka tidak cepat menyalakan lampu, mungkin Assena akan memilih lari terbirit-birit keluar rumah.
Kini bibirnya sedikit terbuka yang ia tutup dengan telapak tangannya, matanya terlihat berkaca-kaca. Ini kejutan yang mengharukan.
Kemudian pandangannya teralih ke bawah kakinya, ada seekor kucing lucu yang sedang menggesek-gesekan kepalanya di kaki Assena. Ternyata sesuatu yang berbulu tadi itu adalah seekor kucing jenis persia yang lucu, bulu berwarna putih abu-abu dengan vita merah di lehernya. Menggemaskan sekali.
Tatapan haru yang di layangkan Assena, memandang satu persatu orang yang ada di hadapannya, yang tak lain ada Arkan, Evelin, Isabella, bi Nem, pak Sur,paman Rey, bibi Iretta, Altur, bahkan Yumna dan Jasmine juga ada. Mereka semua melempar senyum haru kepada Assena.
Lalu ruang tengah yang telah di hias menjadi pusat perhatian Assena. Terdapat tulisan selamat ulang tahun untuknya yang terpampang jelas di dinding.
"Selamat ulang tahun sayang.." Ucap Evelin yang memegang kue ulang tahun dengan lilin angka 19 yang menyala.
"Tiup lilinnya.. Tiup lilinnya.. Tiup lilinnya sekarang juga..." semuanya serentak bernyanyi.
Senyum Assena belum memudar sama sekali, sampai kini kue ulang tahun itu sudah di hadapannya yang siap ia tiup lilinnya.
"Jangan lupa berdoa." Bisik Evelin tersenyum seraya mengingatkan.
Assena pun mengangguk, lalu ia memejamkan mata.
"Terima kasih tuhan telah menghadirkan mereka untukku. Aku berharap kebahagiaan selalu menyertai kami semua. Emm satu lagi, semoga di pertemukan kembali dengan Petter" batin Assena, bibirnya masih melengkung membentuk senyum.
Kemuadian ia membuka mata dan meniup lilin hingga padam.
__ADS_1
Seketika semua bertepuk tangan, semua bersorak bahagia.
Assena memotong kue, orang pertama yang ia suapi adalah ayahnya.
Arkan menatap lekat wajah putri kecilnya yang dulu kini sudah tumbuh dewasa, dan hari ini mengenang hari kelahirannya. Wajah pucat itu mengulas senyum di sela mengunyahnya. Dalam hatinya ia memanjatkan do'a terbaik untuk putri sulungnya.
kemudian orang kedua yang disuapi adalah Evelin.
Evelin sampai menitikan air mata saat Assena menyuapinya, ia merasa terharu. Ini adalah bukti jika Assena benar-benar telah menerimanya.
"Terima kasih semuanya, terima kasih untuk hari ini." Ucap Assena sembari menatap wajah orang-orang yang ada di sekitarnya silih berganti. Seolah wajah mereka akan selalu di ingat karena untuk kejutan hari ini, dimana moment yang sangat membahagiakan.
"Selamat ulang tahun sayang." Ucapa Rey seraya memeluk keponakannya itu.
"Terima kasih paman."
"Selamat ulang tahun keponakan bibi yang cantik." Lusi memeluk Assena.
"Terima kasih bibi."
"Selamat ulang tahun sepupuku.." Yumna berhambur memeluk.
"Jadi kalian sengaja membuat aku merasa kesal seharian ini?" Ucap Assena mengerucutkan bibir namun tak urung membuatnya tersenyum setelahnya.
"Aku juga minta maaf." Ucap Jasmine tersenyum lebar, mengangkat tangannya dengan jari membentuk huruf V.
"Selamat ulang tahun sahabatku." Jasmine memeluk tubuh Assena.
Setelah pelukannya terlepas, kini Assena melirik Altur yang sedari tadi sudah berdiri menunggu giliran untuk mengucapkan selamat.
"Jadi apa sakit gigimu itu sungguhan??" tanya Assena menyipitkan kedua matanya menelisik Altur.
"Tentu saja itu hanya rekayasa nona, haha." Jawan Altur terus terang dengan tertawa.
"Kalau bukan karena ini, aku sudah ingin memukulmu. mengingat bagaimana tadi di perjalanan kau menjengkelkan sekali." Ucap Assena bersungut-sungut. Hingga mengundang tawa semua orang yang mendengarnya.
__ADS_1
Altur terkekeh mendengar itu, "Maafkan saya nona, selamat ulang tahun." Altur menyodorkan tangan ingin menyalami majikannya. Namun di luar dugaan, Assena malah memeluknya.
"Terima kasih Altur telah menjadi teman, telah menjagaku dan melindungiku selama ini." Ucap Assena, lalu melepaskan pelukan singkat itu. Pelukan sebagai mana antar teman biasa.
Namun reaksi Altur berbeda, detak jantungnya terus berpacu. Wajahnya mendadak terasa panas, ia menatap wajah gadis yang baru saja telah memeluknya dengan tanpa berkedip. Ini kali pertamanya ia bisa sedekat ini, meski hanya sebuah pelukan biasa, namun Altur merasa ini moment yang luar biasa.
"Hey Altur.." Assena mendaratkan tepukan di bahu Altur, saat pemuda itu masih diam saja.
"Ah iya, kenapa?" Altur menyahut saat tersadarkan.
"Kenapa kau diam saja?"
"Ah tidak apa-apa. Ini dariku, maaf hanya ini yang bisa aku berikan." Altur menyodorkan papper bag kecil bercorak batik warna crem.
Assena mengenali papper bag itu, karena ia tahu saat Altur membelinya. Ia pun mengulas senyum, "Terima kasih.." Ia menerima papper bag kecil itu.
"Ini hadiah dariku, ini lucu kan? apa kakak suka?" Ucap Isabella sembari memangku kucing.
"Ini lucu sekali, kakak sangat menyukainya. Terima kasih sayang." Assena memberi kecupan di pucuk kepala adiknya itu.
"Yey kakak menyukai hadiah dariku.." Ucap Isabella dengan girang.
Semua sudah memberikan kado pada Assena, termasuk juga Jasmine. Ia sudah memberikan kado miliknya tadi, berbarengan dengan Yumna. Namun di tangannya, Jamine masih memegang sebuah kado yang lain. Ia menunggu waktu yang tepat untuk memberikannya pada Assena.
Saat di rasa Assena sedang sendiri, Jasmine menghampiri sahabatnya itu.
"Ini..." Jasmine menyodorkan kado berbentuk kotak kecil berwarna biru bercorak.
Kedua alis Assena berkerut, "Bukannya tadi kau sudah memberikan kado kepadaku??" tanyanya.
"Yang ini bukan dariku," timpal Jasmine.
"Lalu dari siapa?" tanya Assena lagi.
"Kau akan tahu sendiri nanti." Jasmine tersenyum.
__ADS_1
Namun Assena tidak sedang ingin tersenyum, ia malah di buat keheranan. Lalu ia menatap lekat bendak berbentuk kotak yang ada di genggamannya.
"Dari siapa ini?" lirihnya, namun untuk saat ini tidak ada petunjuk sebagai jawaban.