Seberkas Cahaya

Seberkas Cahaya
Mengunjungi makam ibu


__ADS_3

**


Mata hari pagi menembus masuk kaca jendela kamar Assena, membuat kedua bola matanya yang masih terpejam pun sedikit mengerjap meminta untuk terbuka karena silau matahari.


Lalu ia mengucek kedua matanya, menggeliat dan melirik jam dinding. Yaa ini sudah pukul sembilan dan ini hari minggu.


Assena melangkah memasuki kamar mandi sesekali masih manguap.


**


Mendengar suara pijakan kaki yang menuruni tangga, membuat Arkan yang duduk santai dengan membaca koran pun menoleh.


"Selamat pagi sayang, selamat hari libur." Sapa Arkan tersenyum.


"Apa kau hendak mengunjungi makam ibumu Sena??" sambung Arkan masih menatap putrinya dengan masih ukiran senyum di bibirnya.


Hanya anggukan kecil atas jawaban Assena.


Evelin yang baru keluar dari kamarnya, melihat Assena yang sudah rapih. "Sayang sarapan dulu sebelum pergi." Seolah ia sudah tahu akan kemana Assena di hari libur.

__ADS_1


Assena duduk dimeja makan, Evelin menyodorkan roti yang sudah diolesi selai.


"Pagi ibu, pagi ayah, pa pagi kakak!" Sapa Isabella yang masih memakai piyama tidurnya.


Entah kenapa Ia masih sungkan kepada kakaknya itu, ia mendudukan diri di sebelah Assena melirik sedikit dan tersenyum.


Assena yang melihat Isabella tersenyum pun membalas dengan tersenyum kecil.


"Ayo pak Sur!" Ajak Assena pada pak Sur. Dibukakan pintu "Silahkan nona".


Setelah menempuh perjalanan 30 menit, sampailah di tempat pemakaman umum.


Dari kejauhan nampak makam sang ibu, disana sudah terlihat taburan bunga, sebuket bunga mawar merah dan bunga lily putih yang bersandar di batu nisan. Assena tahu itu sisa kunjungan ayah dan ibu tirinya, biasanya mereka berkunjung lebih awal dari Assena. Karena Assena selalu menolak untuk berkunjung bersama.


Duduk berjongkok dan menaruh bunga itu tepat di depan Batu nisan yang bertuliskan nama ibunya. Ia menyentuh batu nisan itu dan menatap dalam dengan tatapan sendu. Matanya terpejam seolah sedang memanjatkan do'a untuk sang ibu.


Lama ia terdiam merenung, menghembuskan napas perlahan lalu bangkit berdiri. Terasa begitu berat meninggalkan tempat peristirahatan ibunya itu. "Minggu depan aku akan kembali lagi ibu, sampai jumpa lagi. Beristirahatlah dengan tenang" ucapnya dengan setengah berbisik.


Saat melangkah, langkah Assena terhenti tatkala tidak seberapa jauh tempat ia berdiri, terlihat seseorang yang ia kenali sedang berjongkok didepan sebuah makam. Orang itu tak lain adalah Petter.

__ADS_1


Terlihat jelas wajah petter tertunduk sedih, ini kali pertamanya ia melihat sisi lain dari Petter yang selalu ceria, tengil, rusuh dan menyebalkan itu.


Dan lihat itu!! Petter terlihat lebih tampan, penampilannya begitu rapih, rambutnya tersisir rapih ke belakang. Berbeda jauh dengan penampilannya saat disekolah yang selalu terlihat berantakan.


Tak lama memandang Petter, Petter sendiri terlihat sudah berdiri. Dan saat Petter hendak melangkah ia melihat Assena yang berdiri memperhatikannya.


Seketika Petter terdiam, pandangan mata mereka bertemu. Lalu Petter tersenyum, meski dalam raut wajahnya masih terlihat sedih. Mereka berjalan saling mendekat.


**


Di bawah pohon rindang. "Assena makam siapa yang sedang kau kunjungi?" Tanya Petter yang duduk diatas akar pohon.


"Aku mengunjungi makam ibuku." Jawab Assena menunduk menarik napas perlahan. "Kau sendiri??" Tanya Assena sembari melirik Petter.


"Aku juga sedang mengunjungi makam ibuku." Ucap Petter.


"Berarti kita berdua sama, sudah tidak memiliki ibu yah!" Sambung Petter tersenyum dan Assena pun mengangguk tersenyum seolah membenarkan.


"Sebenarnya aku sering melihatmu di tempat ini, karena aku sendiri setiap hari minggu selalu datang kemari." Ucap Petter menatap Assena.

__ADS_1


__ADS_2