Seberkas Cahaya

Seberkas Cahaya
Ternyata


__ADS_3

Arkan dan Evelin sudah turun dari mobil, di susul oleh Assena dan Isabella.


"Sepertinya Jemmy dan keluarganya sudah sampai terlebih dahulu." Ucap Arkan sembari melirik mobil yang terparkir di sebelah mobil miliknya.


Mereka masuk ke dalam restaurant tersebut, Arkan dan Evelin berjalan terlebih dahulu dengan tangan Evelin yang mengait pada tangan Arkan, layaknya pasangan pada umumnya. Sedang Assena dan Isabella mengekor di belakang.


Pandangan Arkan menyapu sekitar, "Itu mereka!" Seru Arkan sembari menunjuk ke salah satu meja.


Lalu mereka melangkah untuk menuju tempat dimana orang-orang yang di maksud itu berada.


"Selamat malam, maaf kami terlambat." Ucap Arkan yang berhenti tepat disebuah meja.


Dimeja itu sudah nampak empat orang yang tengah duduk.


Dengan kehadiran Arkan, orang yang bernama Jemmy sontak berdiri.


"Kalian sudah datang, ini tidak terlambat. Kami juga baru saja sampai." Ucapnya tersenyum.


Assena yang hanya berdiri dibelakang, hanya melirik sekitar ia tidak tertarik untuk melihat siapa keluarga sahabat ayahnya itu.


"Apa kabar Jemmy? Nyonya Irreta?" Ucap Arkan sembari menyalami Jemmy dan istrinya Irreta.


"Kami baik." Ucap Jemmy tersenyum.


"Perkenalkan ini anak-anakku," sambung Jemmy.


Nampak kedua anak laki-laki yang nampak bermalas-malasan itu berdiri hendak menyalami.


Salah satu anak laki-laki itu hendak mengulurkan tangannya, "Saya Pett.." Ucapnya menggantung kala ia melihat Arkan dan Evelin.


"Lho, rasa-rasanya saya pernah liat." Ucap Arkan menatap anak laki-laki itu.


"Temannya Assena kan?" tanya Evelin yang juga menatap anak laki-laki itu.


Assena yang mendengar namanya di sebut, seketika memajukan tubuhnya sedikit yang kala itu tehalang tubuh Arkan dan Evelin.


Langsung saja Assena merasa terkejut siapa yang ada dihadapannya saat ini.

__ADS_1


"Petter?" ucapnya pelan tanpa suara.


Dan yang tak kalah mengejutkan juga ternyata di samping Petter juga ada Alvin.


"Kenapa ada mereka?" begitulah batin Assena, ia begitu diselimuti keterkekejutan dan pertanyaan.


Begitu juga dengan Petter dan Alvin mereka juga sangat terkejut dan tidak menyangka bahwa Assena bagian dari acara malam ini.


Usai saling berjabat tangan dan saling bertanya kabar. Mereka sudah duduk, dengan posisi keluarga Arkan Berhadapan dang keluarga Jemmy. Dan kebetulan saja Assena duduk berhadapan dengan Petter.


Dimeja itu sudah penuh dengan berbagai menu hidangan makanan dan minuman.


"Apa? jadi mereka itu saudara?." Batin Assena, ia begitu terkejut mengetahui kenyataan bahwa Petter dan Alvin itu saudara. Mengingat ia tak pernah melihat kedekatan antara keduanya. "Juga tidak ada kemiripan". Batinnya lagi.


"Kebetulan sekali anak-anak kita itu sudah berteman dekat ternyata." Ucap Arkan tersenyum.


"Iya aku tidak menyangka, aku juga baru sadar padahal anak-anak kita satu sekolahan." Timpal Jemmy.


"Iya paman, bibi aku juga sudah berteman baik dengan Assena." Ucap Alvin tersenyum menatap Arkan dan Evelin silih berganti, lalu berakhir dengan menatap Assena.


"Bibi senang sekali nak, eh siapa tadi namanya?" ucap Evelin.


"Alvin bibi." Jawab Alvin tersenyum ramah.


"Dengan begini hubungan antara keluarga kita semoga semakin dekat. Apa lagi sampai diantara anak-anak kita ada yang berjodoh." Ujar Irreta istri dari Jemmy itu sontak membuat semua orang yang mendengarnya menoleh seketika.


"Ah itu benar sekali," timpal Arkan, "benarkan sayang?" sambungnya menoleh pada Evelin.


"Iya sayang aku sangat mendukung jika di antara anak-anak kita ada yang berjodoh." Timpal Evelin tersenyum.


Seketika wajah Assena menjadi pias mendengar hal itu. Ia begitu tidak suka, juga ada pirasat buruk yang merayapi.


Apa? Acara apa ini sebenarnya? lebih mendekati ke acara perjodohan s**epertinya.


Lain halnya dengan Alvin, ia nampak santai dengan bibir mengulas senyum. Ada makna dibalik senyumnya.


"Putrimu cantik sekali, aku tidak keberatan jika dia jadi menantuku." Canda Jemmy, lalu terdengar tawa setelahnya.

__ADS_1


Lalu dua keluarga itu menyantap makan malam bersama dengan di selingi obrolan, candaan, juga sesekali menyindir soal perjodohan.


Dan yang tidak mereka sadari adalah, tatapan mata Petter dan Assena yang saling menatap satu sama lain.


Meski sudah selesai dengan acara makan malamnya, tapi mereka masih sibuk dengan obrolannya yang sudah beberapa kali ganti tema dan judul.


Assena sudah mulai bosan, ia ingin segera pulang. Tapi melihat Arkan dan Evelin yang masih menikmati obrolan seperti itu rasanya tidak mungkin jika akan pulang lebih cepat.


Lama ia berkutat dengan pikirannya, mencari jalan keluar untuk bisa segera pergi.


"Permisi semuanya, aku akan pergi keluar dulu ingin mencari angin." Pamit Assena berdiri menatap semua orang yang kini sedang menatapnya.


"Baiklah sayang, jangan jauh-jauh," ucap Arkan memberi izin.


Assena melangkah keluar dari tempat yang menurutnya membosankan itu.


"Aku juga permisi pamit keluar dulu." Ucap Petter berdiri, lalu bergegas menyusul Assena.


Alvin yang melihat itu, menatap tajam ke arah dimana Assena dan Petter tak terlihat lagi. Tatapan matanya yang menampakan ketidak sukaan.


**


Assena menghampiri mobil milik ayahnya, lalu berdiri bersandar disamping mobil tersebut, ia menarik napas dan memejamkan matanya.


"Hey..."


Suara itu, membuat Assena membuka matanya dan menoleh.


"Petter??" ucap Assena tanpa suara.


Ternyata sudah ada Petter ikut bersadar disampingnya.


Seketika petter tersenyum dengan lebar menampakan deretan giginya.


Assena baru menyadari ternyata ada yang berbeda dari Petter, ia memperhatikan Petter dari atas sampai bawah. Ia nampak rapih dan tampan.


"Kenapa menatapku seperti itu? apa aku tampan?"

__ADS_1


__ADS_2