
Dikarenakan authornya sibuk kerja, cuma bisa up 1 eps aja perharinya. Itu juga diusahain yak😂
Maklum aja badan capek jadi agak sudah yak, otakku mentok gak bisa berimajinasi😂
Dukung juga author yak, dengan kasih like, komen dan votenya😊
Pokoknya.....
Si Mamat ketemu gatot kaca...
Selamat membacaaaa.... 😊😊
**
Semangkuk bubur itu sudah ada di tangan Assena. Sesendok penuh hampir ia masukkan ke mulut ayahnya. Namun gerakannya terhenti kala Arkan meminta untuk menikmati sarapan di luar.
"Nak ayah mau sarapan di luar, ayah begitu bosan berada di kamar ini." Pinta Arkan pada Assena.
Assena terdiam sejenak, apa itu tidak apa-apa? pikirnya.
"Apa ayah kuat untuk berjalan?" tanya Assena.
Arkan menggeleng dengan cepat, "Kaki ayah terasa lemas sekali." Ucapnya. "Tetapi ayah bisa menggunakan kursi roda yang ada di sana itu." Jari telunjuknya mengarah ke sudut kamar.
Pandangan Assena yang seketika langsung mengikuti arah telunjuk ayahnya itu, ia bisa melihat kursi roda itu terlipat di sudut kamar.
"Baiklah aku akan mengambilkannya untuk ayah." Asena melangkah ke arah dimana kursi roda itu berada, dan membawanya tepat di samping ranjang.
Ya, karena penyakitnya itu kini kedua kaki arkan terasa lemas dan itu akan berakhir dengan kelumpuhan. Arkan sudah bisa menduga ini, karena saat dokter menyatakan ia mengidap penyakit tersebut. Dokter juga telah menjelaskan apa saja yang akan Arkan alami akibat yang di timbulkan dari penyakitnya ini.
Karena itu dokter Roghi pun sudah menyarankan untuk menyediakan kursi roda. Karena itu akan sangat di butuhkan untuk kondisi Arkan yang sekarang.
Untung saja sesuai saran dokter Roghi, Evelin dengan cepat menyediakan kursi roda yang canggih dan terbaik. Hingga hari ini Arkan bisa menggunakannya.
Assena pun membantu ayahnya untuh duduk di atas kursi roda.
__ADS_1
"Ayo kita keluar!" Assena sudah berada di belakang kursi roda, dia siap untuk mendorong.
Kursi roda itu sudah terdapat beberapa tombol kendali. Seperti untuk maju dan mundur, belok ke kiri dan ke kanan. Hingga penggunanya dengan mudah menjalankannya, juga tidak harus mendapat bantuan orang lain untuk di dorong.
Ya, seorang Arkan tentu saja mampu membeli barang-barang yang canggih dan mahal seperti kursi roda miliknya.
Meski begitu, Assena bersikukuh untuk mendorong kursi roda itu sendiri. Bahkan Arkan sudah menolaknya, ia tidak mau merepotkan putri sulungnya. Tapi apa boleh buat, Assena begitu memaksa.
Assena pun mendorong kursi roda keluar dari kamar. Sesaat setelah keluar, Evelin terlihat berdiri di hadapan mereka. Sepertinya ia hendak masuk, jika tidak tercegat oleh Assena dan Arkan.
"Kalian mau kemana?" Tanya Evelin menatap suaminya yang duduk di kursi roda.
"Aku bosan di dalam, aku ingin keluar." Jawab Arkan.
"Baiklah, tunggu sebentar!" Evelin berlalu masuk ke kamar.
Tak lama Evelin sudah keluar lagi, dengan membawa syal rajut berwarna coklat tua di tangannya.
"Pakailah ini! Di luar sangat dingin." Tubun Evelin sedikit membungkuk, tangannya terulur untuk melilitkan syal rajut itu di leher suaminya.
Assena tersenyum melihat pemandangan itu, ia senang karena mendapati Evelin begitu perhatian pada ayahnya.
"Terima kasih sayang..." Arkan tersenyum balas menatap wajah istrinya.
Setelah mendorong kursi roda keluar dari rumah. kini Assena dan Arkan sudah berada di taman yang terletak di samping sebelah kanan rumah. Karena Arkan lah yang meminta membawanya ke taman.
Taman yang luas, dengan beberapa pohon rindang juga bunga warna-warni bermekaran menghiasi taman. Juga terlihat hamparan rumput swiss menutupi permukaan tanah. Hingga warna tanah tidak terlihat di taman ini karena tertutup rumput swiss. Rumput swiss adalah jenis rumput yang memiliki tekstur yang paling halus diantara rumput lainya. Hingga terlihat rapih, dan cocok sebagai penghias taman.
Cahaya matahari yang terjun bebas ke permukaan bumi. Dedaunan dan rumput yang berembun menguap karena terkena sinar matahari. Jika di lihat dari dekat mungkin akan terlihat seperti asap tipis karena uapan itu.
Terlihat bi Nem membawakan nampan yang berisi bubur tadi, yang Assena tinggalkan di dalam kamar. Karena tangannya yang mengharuskan mendorong kursi roda, maka ia menyuruh bi Nem untuk membawakannya.
Kini Assena duduk di kursi panjang yang terbuat dari besi, juga yang bercat warna putih itu.
Duduk berhadapan dengan Arkan yang duduk di kursi roda. Dan ia sudah mulai menyuapi ayahnya.
__ADS_1
Hangat cahaya mentari menerjang tubuh keduanya. Arkan terlihat sangat menikmati sentuhan cahaya matahari yang terasa hangat.
"Rasanya seperti sudah lama ayah tidak merasakan hangatnya sinar matahari." Ucap Arkan disela mengunyahnya.
Assena pun tersenyum melihat ayahnya sesenang ini hanya sekedar menikmati hangatnya sinar mentari.
Dan tidak terasa semangkuk bubur telah tandas, Assena menyimpan mangkuk kosong itu di atas nampan yang berada di sampingnya, di kursi taman yang ia duduki. Lalu menyodorkan segelas air putih untuk ayahnya. Terlihat Arkan meneguknya, hingga tersisa setengah lagi. Assena meletakan gelas itu kembali, bersebelahan dengan mangkuk yang telah kosong itu.
Lalu Assena melorotkan tubuhnya dari kursi, hingga kini ia berjongkok di hadapan ayahnya dengan bertumpu pada kedua lututnya.
"Apa ayah senang berada di sini?" tanyanya.
"Ayah senang sekali sayang.. Ayah rindu suasana taman seperi ini." Jawab Arkan tersenyum, pandangannya mengedar ke sekitar taman.
Hanya beberapa hari saja Arkan terbaring di tempat tidur, tapi rasanya sudah lama sekali.
"Apa yang ayah inginkan saat ini?" tanya Assena yang masih dengan posisi berjongkok menatap wajah ayahnya yang pucat nan keriput itu.
"Apa yang ayah inginkan?" Arkan malah membeo. Ia hanya heran saja, putri sulungnya menanyakan hal seperti itu.
"Katakan apa yang ayah inginkan! Dan aku akan melakukannya untuk ayah." Ucap Assena lagi, menatap lamat-lamat kedua manik milik ayahnya.
Ya, sesuai janjinya saat itu. Saat keadaan ayahnya memburuk, Assena dilanda penyesalan karena selalu menolak keinginan dan permintaan ayahnya. Dan saat itulah ia berjanji pada dirinya sendiri untuk mewujudkan apa pun keinginan ayahnya.
Kening Arkan terlihat berkerut dalam, ini benar-benar mengherankan baginya. "Kenapa kau tiba-tiba berbicara seperti itu??" Arkan pun bertanya.
"Aku hanya ingin mengganti apa yang sudah terlewatkan. Aku selalu menoalak permintaan ayah, aku selalu bersikap acuh terhadap ayah...." Kini Assena berucap dengan kedua bola matanya terlihat mengkilat, karena dilapisi cairan bening yang hampir tumpah itu.
"Aku minta maaf ayah... Atas sikapku selama ini..." Kedua tangan Assena menggenggam erat jari-jemari ayahnya.
Arkan pun tidak bisa menahan air matanya untuk tidak keluar. Bagaimana tidak, kini ia merasa putri sulungnya itu begitu dekat dengannya tanpa ada celah yang memisahkan. Apa lagi setelah kata-kata yang begitu mengharukan itu terucap dari mulut putri sulungnya yang sangat ia sayangi dan cintai itu.
"Tidak.. " Arkan menggelengkan kepala pelan. "Tidak sayang.. Kau sama sekali tidak perlu meminta maaf seperti ini." Arkan berucap dengan bibir bergetar karena pria yang sudah berusia 50 tahun itu tengah menangis.
"Ayah lah yang harusnya meminta maaf, karena ayah telah bersalah padamu..." Sambung Arkan, ia juga membalas genggamannya dengan erat.
__ADS_1
"Apa kau mau memaafkan ayahmu ini nak?" Terlihat cairan bening itu terus menetes, melewati pipi keriputnya hingga berjuntai di ujung dagu, mempertemukan beberapa tetes air mata dari kedua pipinya. Hingga kini berjatuhan membasahi tangan Arkan dan Assena yang saling menggenggam erat itu.
Assena mengangkat tangannya yang terlepas dari genggaman ayahnya itu, ibu jarinya mengusap pipi ayahnya yang sudah basah karena air mata.