Seberkas Cahaya

Seberkas Cahaya
Membahas masa lalu


__ADS_3

Rey dan Assena membawa langkah kaki ke ruang perawatan Arkan.


"Rey, Assena sayang kalian kemari. Kapan kau kembali Rey?" Ucap Arkan tersenyum menyambut adik dan putri sulungnya itu.


Arkan bangun dari pembaringannya, dan duduk bersandar pada bantal di punggungnya.


"Aku baru tiba tadi pagi, ada pekerjaan yang harus ku selesaikan disini. Mendengar kabar kau masuk rumah sakit, aku bergegas kemari." Ucap Rey menatap Arkan.


"Kau hanya sendiri? Dimana Lusi dan Yumna?" Tanya Arkan.


"Mereka tidak ikut. Bagaimana kabarmu? apa sudah membaik?" Rey menelisik keadaan Arkan yang wajahnya terlihat pucat.


"Aku sudah membaik, hanya sedikit pusing saat di kantor." Jawab Arkan masih tersenyum menatap Assena dan Rey bergantian.


"Ngomong-ngomong kenapa kalian bisa bersama kemari?" Sambung Arkan.


"Saat aku kemari aku melihat Assena sudah berdiri di depan pintu. Aku rasa dia ragu untuk masuk, mungkin takut mengganggu kebersamaan kalian sebagai keluarga kecil yang bahagia." Ucap Rey menyindir.


Deg, hati Arkan seperti sakit mendengar itu.


Assena hanya menunduk saat Rey mengatakan itu.


Evelin yang mendengar perkataan Rey langsung menjadi tidak enak hati.


"Rey, Assena sayang apa kalian mau minum sesuatu atau makan? aku akan membelikannya untuk kalian. Tunggulah disini sebentar." Evelin berinisiatif menghindar dari kecanggungan atas sindiran Rey.


"Tidak usah repot-repot." Jawab Rey dengan wajah sedatar mungkin.


"Tidak, ini sama sekali tidak merepotkan. Sayang aku dan Isabella akan turun sebentar." Ucap tersenyum Evelin pamit pada Arkan.


Arkan menggangguk. "Baik lah hati-hati".


Evelin sudah menggandeng tangan Isabella, hendak membuka pintu lalu menoleh. "Silahkan mengobrol lah dengan nyaman." Ucapnya tersenyum. Lalu menghilang dibalik pintu.


"Assena sayang." Tatapan Arkan sendu menatap lekat Assena. Karena mendengar ucapan Rey yang membuat Arkan merasa bersalah pada Assena.


Assena masih menunduk disamping Rey.


"Kau juga putriku, kau juga bagian dari keluarga ini. Ayah menyayangimu, jangan pernah merasa seperti orang lain disini." Arkan menghela napas masih menatap putrinya dengan sedih.

__ADS_1


"Kalian yang sudah membuat Assena merasa seperti orang lain berada di sekitar kalian." Malah Rey yang menjawab dengan nada sedikit tinggi.


Assena sedikit menoleh pada Rey, mendengar ucapan pamannya itu.


Itu terdengar seseuatu yang harus dibenarkan oleh Assena.


"Aku mengerti Rey, aku salah. Aku selalu merasa bersalah. Tapi aku juga tetap menyayangi Assena, aku mencintainya." Ucap Arkan dengan begitu berat hingga suaranya terdengar begitu pelan.


"Semua kembali pada Assena, karena dia yang merasakan semuanya." Ucap rek menatap Arkan, lalu melirik Assena dan mengusap bahu Assena.


"Waktu tidak bisa di putar kembali. Maka yang bisa kulakukan adalah memperbaiki semuanya. Menyayangi dan mencintai Assena sepenuhnya. Meski aku tahu putriku masih membenciku." Ucap Arkan melirik Assena dengan tatapan sendu.


Mendengar itu, "Aku akan pulang. Semoga kau cepat sembuh ayah." Ucap Assena segera melangkah menuju pintu.


"Sampai jumpa lagi paman." Sambungnya segera menutup rapat pintu. Dan menghilang dari pandangan Arkan dan Rey.


Arkan dan Rey saling beradu pandang saat sesudah kepergian Assena.


Mereka sadar, bahwa tak seharusnya membicarakan itu di depan Assena.


"Dia masih membenciku." Lirih Arkan begitu sedih.


"Berusahalah memenangkan hati Assena, berusahalah membahagiakannya. Aku mendukungmu. Karena kebahagiaan Assena itu harapanku." Sambung Rey.


Rey berbalik badan, menatap ruang sekitar. Menghela napas berat. "Seharusnya aku tidak membiarkan Anna bersamamu. Seharusnya aku tidak harus melepaskan Anna kepadamu. Kalau akhirnya seperti ini, aku menyesali semua itu. Aku merasa bersalah membiarkan Anna bersama orang yang salah." Ucapnya kedua bola matanya sudah berkaca-kaca menahan bendungan air mata untuk tidak terjatuh.


"Itu kesalahan terbesarku." Lirih Rey begitu berat hingga suaranya hampir tidak terdengar.


Dan apa itu tadi?? jadi sebenarnya Anna wanita yang dicintai dua pria. Dicintai oleh dua bersaudara? kakak beradik ini?


"Jangan membuat ku semakin merasa bersalah Rey." Ucap Arkan menatap punggung adiknya, pandangan matanya meredup dan menunduk. Mencengkram selimut yang menutupi tubunya sampai pinggang itu.


"Justru kebodohanmu yang membuatku semakin merasa bersalah karena melepaskan Anna pada ******** sepertimu." Teriak Rey kini ia suara lantang dengan penuh emosi.


"Anha cinta pertamaku, aku mencintainya. Tapi dia lebih mencintaimu dan aku merelakannya menikah denganmu. Karena aku yakin itu kebahagiannya." Ucap Rey mulai mengepalkan kedua tangannya.


"Dan kau menyia-nyiakannya." Sambungnya suaranya melemah, kini tubuhnya bergetar dan lemas. Brugh tubuhnya terjatuh ke lantai , menumpu tubuh dengan kedua lututnya. Air matanya jatuh tak terbendung lagi, Rey menangis prustasi mengingat masa lalu yang ia sesali.


"Aku memang bodoh. Aku memang orang yang paling bersalah menyebabkan kepergian Anna. Aku menyesal Rey, hidupku dihantui rasa bersalah. Ini begitu berat bagiku. Tapi aku tidak bisa mengembalikan semuanya. Aku bodoh, aku memang bodoh." Ucap Arkan tangisannya pecah terus menjambak rambutnya sendiri.

__ADS_1


"Kalau saja Anna tidak sampai bunuh diri, mungkin aku tidak begitu menyesal seperti ini. Karena dia begitu mencintaimu, dan kau menyakitinya. Itu cukup membunuh jiwanya. Apa kau tidak merasa sebegitu besar dia mencintaimu?" Teriak Rey kini sudah mulai berdiri.


"Kenapa kau tidak melepaskannya saja, jika kau tidak bisa membalas cintanya dengan setimpal. jika kau tak mampu setia, kenapa tidak membiarkan dia bersamaku. Aku mengalah untuk kebahagian Anna, bukan untuk menyaksikan hidupnya berakhir menyedihkan seperti itu." Sambung Rey masih berdiri memunggungi.


"Aku juga mencintainya, sangat mencintainya. Tapi takdir tuhan aku tak pernah tahu, jika akan di pertemukan dengan Evelin." Ucap Arkan menyeka air matanya, menatap punggung Rey.


Rey mendengus, "Omong kosong. Itu bukan takdir, itu hanya ujian kecil untuk menguji kesetianmu. Tapi kau begitu lemah."


Deg, hati Arkan seperti tercabik-cabik. Sakit rasanya mengingat kebodohannya.


"Meski aku sudah berkeluarga, aku sangat bersyukur bertemu lusi dan memiliki Yumna. Mereka keluargaku yang mengisi hatiku pengganti dari Anna. Tapi untuk kepergian Anha seseorang yang pernah ku cintai dengan begitu menyedihkan, itu yang membuatku sangat menyesal." Sambung Rey.


Rey melangkah menuju pintu, dan menoleh, "Seharusnya aku tidak membahas hal menyakitkan seperti ini. karena ini hanya membuang waktu dan emosi saja. Ini tidak akan mengubah apapun." Membuka pintu dan pergi.


Arkan hanya bisa menatap kepergian adiknya. Matanya meredup menghela napas berat.


Sungguh ini begitu pedih. Membahas Anha, seperti menyaksikan ulang kepergian Anna untuk kedua kalinya. Bagi Rey juga Arkan.


**


Rey menuju lantai bawah, saat lift terbuka nampak Evelin dan Isabella sudah berdiri di depan lift. Ia melangkah keluar.


"Rey kau mau kemana? Apa kau sudah mau pergi? Aku baru saja membawa minum dan makan untukmu dan Assena." Deretan pertanyaan Evelin.


"Lalu dimana Assena?" Tanyanya lagi.


"Aku ada urusan mendadak, dan Assena sudah pulang terlebih dahulu." Ucap Rey belalu pergi tanpa menoleh sedikit pun.


Evelin hanya menatap punggung Rey yang sudah jauh melangkah.


Dia tahu hubungan Rey dan Arkan memang tidak baik, itu karena kehadirannya di hidup Arkan.


Evelin menunduk menatap dua kantung plastik yang dibawanya.


Evelin merasa bersalah. Karena kehadirannya, menghancurkan keluarga Arkan dan Anna. Menghancurkan hubungan kakak beradik antara Arkan dan Rey. Itu hanya salah takdir mempertemukannya dengan Arkan. Ini cinta yang salah, cinta yang tumbuh dan salah pada tempatnya.


Evelin mengeratkan pegangan tangannya pada dua kantung plastik yang berisi minuman dan makanan itu. Ia begitu tidak enak hati.


"Ibu kenapa diam? Ayo kita ke ruangan ayah." Ajak Isabella gadis polos yang tidak tahu apa-apa.

__ADS_1


"Ah iya, ayo sayang!" Seketika menyadarkan Evelin untuk bergegas menemui suaminya.


__ADS_2