Seberkas Cahaya

Seberkas Cahaya
Terlihat bodoh


__ADS_3

"Aku sudah sampai di tempat yang sudah aku janjikan tadi.." Suara Alvin terdengar dari dalam ponsel.


"Aku tahu.." Sahut Assena. Karena dia melihat Alvin turun dari mobil yang terparkir bersebelahan dengan mobil yang Assena tumpangi. Terlihat lelaki itu berjalan sembari menempelkan ponsel di telinganya.


"Kenapa kau bisa tahu?" tanya Alvin.


"Karena aku melihatmu" cetus Assena.


Seketika Alvin menghentikan langkahnya dan mengurungkan niat untuk masuk ke dalam restaurant mewah tersebut. Ia berbalik badan dan mengedarkan pandangannya, mencari sosok Assena.


"Kau dimana?" tanya Alvin pandangan matanya masih mencari.


Dengan segera Assena turun dari mobil demi menunjukan dirinya agar Alvin melihatnya.


Tanpa di perintah Altur pun ikut turun mengikuti sang majikan.


Senyum Alvin mengembang saat mendapati Assena yang berjalan ke arahnya. Namun saat melihat Altur yang juga membuntut dari belakang membuatnya merasa sebal.


"Sial, kenapa juga harus mengajak lelaki itu. Ini akan merusak suasana saja.." Gerutu Alvin dalam hati.


"Kenapa harus di tempat seperti ini?" cetus Assena yang sudah berdiri di hadapan Alvin.


"Memangnya kenapa? apa tempat ini tidak bagus?" Alvin malah balik bertanya, namun masih menyelipkan senyum.


"Ini berlebihan sekali." Timpal Assena dengan wajah datarnya.


"Kau sendiri yang menyuruhku untuk menentukan tempatnya." Ucap Alvin. Tatapannya masih melekat pada tubuh gadis yang ada di hadapannya. Gadis itu terlihat cantik sekali. Namun saat Alvin menyadari mantel yang Assena pakai, sepertinya ia mengenali mantel tersebut.


"Bukankah itu mantel Petter? Ya, aku tidak salah itu memang mantelnya. Tapi kenapa bisa ada pada Assena. Sedekat apa hubungan mereka itu?" Alvin membatin, mantel yang Assena pakai itu masih menjadi sorotan matanya.


"Ah tidak, mungkin itu hanya kebetulan sama saja. Ya, benar. Aku masih bisa berkesempatan mendapatkan hatinya. Selagi Petter masih berada di luar negeri, bukan tidak mungkin jika jarak dan waktu bisa merenggangkan hubungan mereka.." Batin Alvin ia merasa begitu optimis, dengan menarik salah satu sudut bibirnya.


Altur pun berdehem, "Apa kita akan tetap berdiri di sini?" tanyanya menatap Alvin.


"Ayo Assena kita masuk!" ajak Alvin, melangkah terlebih dahulu.

__ADS_1


Mau tidak mau Assena mengikuti saja. Toh sudah terlanjur datang kemari.


Kini mereka bertiga sudah duduk di salah meja yang berada di sudut. Sengaja Alvin lebih memilih di pojok, untuk lebih leluasa membicarakan yang ia rencanakan.


"Kau mau pesan apa?" tanyan Alvin yang sudah memegang buku menu di tangannya.


"Aku tidak berniat untuk makan. Tentunya kau masih ingat bukan apa tunjuan kita bertemu." Ucap Assena dengan ketus.


"Ah baiklah, baiklah. Aku hanya berpikir takutnya kau akan haus atau lapar selama kita ngobrol disini." Timpal Alvin masih memaksakan tersenyum, walau pun ia sedikit tersinggung karena Assena tidak ada manis-manisnya jika bersangkut paut dengannya. Tetapi itu memang sudah biasa bukan? Alvin hanya harus menumbuhkan semangat yang lebih untuk terus berusaha meluluhkan Assena.


Setelah itu Alvin hanya memesan 3 minuman saja. Lama saling terdiam, hanya sesekali dari mereka meminum minuman mereka masing-masing.


Entah apa yang membuat Alvin belum juga memulai percakapannya.


"Apa yang ingin kau katakan?" Assena bertanya terlebih dahulu.


Alvin tidak menjawab, ia hanya melirik Altur. Seolah menunjuk Altur untuk tidak berada di sini untuk ikut mendengarkan.


Assena yang menyadari apa maksud Alvin, "Biarkan di sini, apa masalahnya?"


"Maaf, aku akan pergi jika nona Assena sendiri yang menyuruhku untuk pergi." Altur melirik Alvin dengan tersenyum manis, namun penuh kesinisan.


"Kau masih tidak mau bicara?" tanya Assena kepada Alvin sekali lagi.


"Yang akan ku bicarakan ini bersifat pribadi, aku keberatan jika ada orang lain yang mendengar." Sahut Alvin.


"Ciih, bilang saja kau tidak mau terganggu karena kehadiranku.." Altur membatin seraya mendelik.


"Astaga..." keluh Assena dengan menggeleng-geleng kepala karena kesal. Kalau bukan karena menyangkut Petter, ia sudah akan meninggal Alvin dengan segera.


"Baiklah Altur, kau tunggu di mobil saja!" titah Assena, dengan sorot mata penuh permintaan maaf.


"Baik nona, aku akan menunggu di mobil." Altur bangkit dari duduknya.


"Tolong jangan berbuat macam-macam pada nona Assena." Ucap Altur menatap tajam Alvin penuh peringatan. Ia pun pergi meninggalkan Assena dan Alvin

__ADS_1


Alvin hanya menarik salah satu sudut bibirnya, ia merasa menang sekarang. Meski tidak bisa di pungkiri jika melihat postur tubuh Altur yang terlihat tegap dan six spack itu membuat ia merasa ngeri sendiri. Meski mungkin Altur masih sama seusianya. Tetapi bagaimana pun jika berkelahi, Alvin yang hanya anak manja bermodalkan wajah tampan dengan sejuta pesona itu bisa di buat babak belur karenanya.


"Dia sangat mematuhi sekali perintahmu." Ucap Alvin berbasa-basi.


Assena yang tidak mau menanggapi, hanya mengubah topik pembicaraan.


"Apa yang ingin kau katakan tentang Petter?" ucap Assena.


Alvin menarik napas, "Hanya itu yang ingin kau tahu?" tanyanya. Jelas sekali ia kecewa, karena Assena masih menagih janji tentang Petter yang Alvin janjikan saat itu. Sepertinya Assena tidak tertarik lagi selain mengenai Petter. Apa lagi mengenai dirinya.


"Tapi sebelumnya aku ingin menanyakan sesuatu padamu?" tutur Alvin yang kini mengangkat kedua tangannya di atas meja. Sepertinya dia ingin menunjukan sesuatu pada Assena.


Seketika jam yang melingkar di pergelangan tangan Alvin menjadi pusat perhatian Assena. Ya, ia mengenali jam tersebut. Ia masih mengingatnya, jika jam itu sebagai kado dari Assena saat Alvin berulang tahun. Meski ia hanya memilih kado itu secara asal-asalan, namun Assena masih ingat jam itu.


Alvin tersenyum tipis, saat ia menyadari Assena memperhatikan jam yang ia kenakan.


"Apa yang ingin kau tanyakan tadi?" kini Assena mengangkat pandangannya, menatap pemuda yang duduk berhadapannya. Pemuda yang ia tidak sukai sama sekali.


"Kenapa kau menolak saat kedua orang tua kita menjodohkan kita?" tanya Alvin, menatap wajah Assena dengan lekat. Memperhatikan setiap ekspresi wajah gadis itu.


Seketika raut wajah Assena menampakkan ketidak sukaan. Jelas saja, apa maksud Alvin mengungkit soal perjodohan itu?


"Aku ingin memilih pasangan hidupku sendiri, tanpa paksaan dari orang lain, sekali pun itu orang tuaku. Aku berhak menetukan siapa pasangan hidupku kelak, aku tidak mau tergantung pilihan orang tuaku, yang mungkin akan memaksaku untuk hidup dengan orang yang tidak kucintau" Timpal Assena.


Deg, jawaban Assena itu berhasil membuat hati Alvin terasa sakit.


Dengan mendengar itu, Alvin bisa memastikan bahwa Assena benar-benar tidak berharap untuk bisa berjodoh dengannya.


Alvin mengakui jika dia begitu terlihat bodoh, hanya untuk mengejar satu gadis saja. Sedang ia yang terbiasa dengan banyaknya gadis yang mengejarnya, mengidolakannya bahkan menggilainya.


Di sini dia merasa begitu malu, di tolak dan di campakkan secara terang-terangan.


"Haha baiklah kau benar. Aku juga tidak setuju dengan rencana perjodohan konyol itu. Karena aku ingin mendapatkan gadis yang aku cintai dengan benar-benar bisa menaklukan hatinya, bukan dengan perjodohan yang menimbulkan rasa keterpaksaan saja." Timpal Alvin, dengan tersenyum kecut.


Padahal jelas-jelas rencana perjodohan itu adalah rencan Alvin, ia yang rela mendepak Petter hingga saudara tirinya itu harus di kirim ke luar negeri.

__ADS_1


__ADS_2