
**
Pagi pun tiba. Assena menggeliatkan tubuhnya, ia melirik jam dinding ternyata ini pukul tujuh. Dilirik pula Yumna yang berada di sampingnya masih tertidur.
Assena menyingkab selimut lalu turun dari tempat tidur, lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka.
Masih mengenakan piyama tidurnya, Assena melangkah untuk turun ke bawah.
Tidak biasanya ia bangun pagi dan langsung turun, karena biasanya ia akan turun jika akan berangkat kuliah. Sedang jam kuliahnya masih dua jam lagi.
Sesampainya di bawah, Evelin tengah menata sarapan di meja makan di bantu oleh bi Nem. Terlihat juga Isabella sudah terduduk di meja makan dengan mengenakan seragam sekolah.
Evelin yang melihat Assena pun menyapa. "Sayang kau sudah bangun." dengan senyum hangat tentunya.
"Ayo sarapan!" titah Evelin. "Apa Yumna belum bangun?" sambungnya.
"Dia masih tidur" Assena sembari mendudukan tubuhnya di salah satu kursi.
Ia menatap Isabella yang sedang melahap roti yang diolesi dengan selai itu.
"Kau sudah mau pergu sekolah?" tanya Assena pada Isabella.
Isabella mengangkat pandangannya, lalu mengangguk pelan dan tersenyum.
Evelin yang melihat itu pun tersenyum, karena bagaimana pun hal itu jarang terjadi. Ia merasa senang hanya sekedar melihat Assena menyapa Isabella.
Saat Evelin membawa semangkuk bubur beralaskan nampan, lalu meletakannya di atas meja makan.
"Apa itu untuk ayah?" tanya Assena yang sudah bisa menebak.
Evelin pun mengangguk. "Iya ini untuk ayah, ibu akan mengantarkannya ke kamar." Usai menambahkan satu gelas air putih, Evelin segera mengangkat nampan itu.
Dengan cepat Assena menahannya. "Bolehkah jika aku saja yang membawakannya untuk ayah?".
Evelin tertegun, ia tidak menyangka Assena mau melakukan itu. Namun tak urung membuatnya mengulas senyum.
"Tentu saja sayang". Evelin menyodorkan nampan dengan semangkuk bubur dan segelas air putih. Dan dengan antusias kedua tangan Assena menerimanya.
Dengan langkah yang hati-hati, Assena berjalan menuju kamar ayahnya. Kebetulan sekali pintu yang tidak tertutup rapat, memudahkan dirinya untuk tidak bersusah payah membuka pintu karena kedua tangannya yang tengah membawa nampan. Hanya sedikit mendorong, pintu sudah terbuka.
Ternyata di dalam sana sudah ada dokter Roghi.
"Selamat pagi nona Assena." Sapa dokter Roghi tersenyum.
Arkan yang tengah berbaring pun menoleh ke arah dimana Assena berdiri, lalu tersenyum.
"Pa-pagi juga dokter." Assena sedikit gugup, karena ia kira tidak akan ada dokter Roghi.
Dokter Roghi melirik isi nampan yang dibawa Assena. "Kau membawa sarapan untuk tuan Arkan?."
__ADS_1
Assena hanya mengangguk.
"Baiklah, silahkan. Saya sudah selesai memeriksa tuan. Kalau begitu saya permisi pamit tuan Arkan, juga nona Assena." Pamit dokter Roghi. Ia meneteng tas miliknya, ia melangkah melewati Assena lalu melemparkan senyumnya.
Assena hanya membalas dengan sedikit tersenyum.
"Ayah, Assena bawakan sarapan untuk ayah." Seketika ia mendudukan tubuhnya di sisi ranjang, setelah menyimpan nampan di meja samping tempat tidur.
Arkan tersenyum dan mencoba bangun, Assena pun membantu ayahnya untuk duduk dengan meletakan dua bantal di belakang punggung ayahnya untuk bersandar.
Assena sedikit merasa lega, karena ayahnya yang sudah sadar dan tanpa alat bantu pernapasan. Itu tandanya keadaan ayah sudah membaik, begitu pikirnya.
Mangkuk berisi bubur sudah di tangan Assena, sesendok demi sesendok ia menyuapi ayahnya.
Arkan tak banyak bicara, hanya tersenyum disela mengunyahnya.
Ada rasa haru menyeruak. Dimana sekian lama, ini untuk kali pertamanya ayah dan anak itu bisa sedekat ini.
Begitu juga dengan Assena, ia tak banyak bicara, hanya tersenyum saat melihat ayahnya dengan lahap menerima suapan dari tangannya.
Sampai bubur itu telah tandas, setelah Arkan meneguk air minum yang Assena sodorkan. Assena tersenyum senang.
"Terima kasih sayang." Arkan tersenyum.
"Apa sudah selesai?" suara Evelin yang baru saja masuk.
"Baiklah, sekarang waktunya minum obat." Evelin seraya mengambil obat-obatan di laci meja yang ada di samping tempat tidur.
"Assena pergi dulu ayah, Assena harus bersiap-siap untuk kuliah."
Arkan mengangguk di iringi dengan senyuman.
--
Assena menaiki tangga untuk kembali ke kamarnya, saat ia membuka pintu terlihat Yumna baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk putih melilit di tubuhnya.
"Kau dari mana? pagi-pagi sudah menghilang." tanya Yumna sembari melilitkan handuk lain di kepalanya. Untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
"Aku baru saja melihat ayah."
"Bagaimana keadaan paman?" tanya Yumna dengan cepat, bagaimana pun ia juga mengkhawatirkan kakak dari ayahnya itu.
"Sekarang sudah lebih baik." seraya melangkahkan kaki menuju kamar mandi.
"Oh, syukurlah." Terdengar helaan napas lega dari Yumna.
Setelah Assena memasuki kamar mandi. Yumna membuka lemari untuk meminjam baju. Ia memilih-milih baju yang sekiranya cocok untuk dirinya.
Lama Yumna mengacak-ngacak isi lemari, ia belum menemukan yang cocok.
__ADS_1
Dan Assena pun keluar dari kamar mandi. "Kau belum memakai baju?" tanyanya.
"Aku tidak menemukan baju yang cocok untukku di lemarimu. Apa tidak ada pakaian yang sedikit seksi?" Yumna sudah menyerah, ia mendudukan tubuhnya di tepi ranjang.
Assena terkekeh mendengar itu. Memang benar Yumna adalah gadis cantik yang anggun, cara berpakaiannya berbeda dengan Assena. Jika Assena lebih menyukai pakaian yang terlihat lebih santai dan sederhana, ia tidak suka memakai baju yang terlalu seksi. Berkebalikan dengan Yumna yang begitu memperhatikan penampilannya.
"Tidak ada, aku tidak punya baju seksi seperti yang kau miliki." Assena menghampiri lemari mencarikan baju untuk Yumna.
"Pakailah!" Assena menyodorkan celana jeans dengan baju atasannya.
Namun terlihat Yumna seperti enggan menerimanya.
"Yasudah, kau tidak usah pakai baju saja." Assena seraya memasukan baju tersebut ke dalam lemari.
"Eh kemarikan! aku akan memakainya." Dengan cepat Yumna merebut baju itu.
Assena hanya tersenyum geleng-geleng kepala.
Setelah selesai bersiap-siap, mereka turun ke bawah.
"Ayo sarapan dulu!" ajak Assena. Mereka pun sarapan bersama.
Dari arah dapur bi Nem datang, "Mau bibi buatkan susu atau teh hangat nona?"
"Susu coklat panas saja bi." Sahut Assena.
"Aku teh manis saja." Yumna ikut menyahut.
"Baiklah." bi Nem kembali ke dapur.
"Kalian sudah mau berangkat?" tanya Evelin yang baru saja datang.
"Iya bibi, bagaimana kondisi paman?" tanya Yumna.
"Paman sudah membaik, dan sekarang sedang istirahat." Evelin seraya menggeser kursi untuk ikut duduk.
"Apa Isabella sudah pergi sekolah?" tanya Yumna lagi disela mengunyahnya.
"Isabella sudah pergi diantar supir, karena bibi harus menjaga paman jdi tidak bisa mengantarnya. Jadi untuk beberapa hari ini di antar supir dulu." Jelas Evelin.
Yumna hanya mangut-mangut saja.
"Silahkan nona!" Bi Nem sudah meletakan segelas susu panas, dan juga teh manis.
Setelah selesai, Assena dan Yumna berpamitan pada Evelin untuk pergi kuliah.
Di luar Altur sudah menunggu.
Yumna pun ikut dengan Assena dan Altur, ternyata ia tidak membawa mobil. Karena saat kemarin ia datang kemari, ia ikut bersama dengan mobil ayahnya.
__ADS_1