Seberkas Cahaya

Seberkas Cahaya
Merasa iri


__ADS_3

Cuci muka gosok gigi


Buah salak buah pepaya


Haihai author balik lagi


Tinggalkan jejaknya ya 😉


Ke pasar naik motor


Kaki sakit kena kenalpot


Terus dukung ya author


Dengan like komen juga vote 😊😊


***


Mobil yang membawa Altur, Assena juga Yumna telah sampai di rumah Assena. Mereka pun turun dari mobil.


"Itu mobilnya, pasti ayahku ada di dalam." Ucap Yumna sembari menujuk sebuah mobil yang terparkir di halaman rumah.


Dengan langkah semangatnya, Yumna masuk ke dalam rumah. Di susul oleh Assena.


"Assena... Eh maksudku nona Assena tunggu!" Suara Altur terdengar, ia hampir lupa dengan memanggil nama dari anak majikannya itu. Ia yang sudah terbiasa jika di luar rumah memanggil nama Assena sesuai permintaan Assena. Tapi di lingkungan rumah Altur ia akan memanggil dengan mana semestinya.


Assena yang telah menghentikan langkahnya, karena panggilan Altur itu pun menoleh. "Ada apa Altur?"


"Apa aku boleh ikut masuk? aku ingin melihat keadaan tuan." Ucap Altur.


"Tentu saja. Ayo masuklah!" Ajak Assena dengan tersenyum.


Assena dan Altur pun masuk ke dalam, menyusul Yumna yang sudah tidak terlihat.


Saat menginjakan kaki di ruang tamu, Assena melihat Rey dan Yumna.


"Ayah aku rindu." Rengekan manja itu terdengar.


Terlihat Yumna menggelayuti tangan Rey.


"Kau ini, baru semalaman saja tidak bertemu." Rey mencubit hidung Yumna hingga terlihat merah.


"Aku kan anak ayah. Tidak salahkan kalau aku rindu" Yumna mengerucutkan bibirnya, mengusap hidungnya yang sedikit merah itu.


"Kau bukan anak ayah, kau itu anak ibumu. Kau kan lahir dari perut ibumu." Rey semakin gemas tehadap anaknya yang manja itu.

__ADS_1


"Yasudah sana pergi! aku tidak mau melihat ayah yang tidak mengakuiku sebagai anak." Yumna menghempaskan tangan Rey, ia berpura-pura merajuk.


"Anak ayah yang tersayang.. Kemari.. Kemari ayah ingin memelukmu. Ayah juga rindu semalaman tidak bertemu dengan anak ayah yang manja ini." Rey meraup tubuh Yumna dalam pelukannya.


Pemandangan itu terpampang jelas di mata Assena, ada rasa iri kepada Yumna yang bisa bermanja-manja pada ayahnya. Tidak seperti Assena yang tidak terlalu dekat dengan Arkan. Bukan, tapi mereka pernah dekat sedekat-dekatnya saat ia kecil dulu, sebelum peristiwa pahit itu terjadi.


"Lihatlah apa kau tidak malu ada Assena dan Altur melihat kau manja seperti anak kecil." Rey masih saja menggoda Yumna.


Seketika Assena dan Altur pun tersenyum.


"Benar itu, kau seperti anak kecil." Assena meledek.


"Biarkan saja." Yumna melepaskan pelukannya, lalu menjulurkan lidahnya.


Yumna memang sangat manja, sebagai putri satu-satunya tentu saja Rey juga memanjakan Yumna. Yumna sangat beruntung, di samping pasilitas yang mewah yang ia dapatkan, ia juga tidak kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya.


"Apa paman sudah melihat ayah?" Tanya Assena.


"Sudah, paman baru saja mengobrol dengan ayahmu. Tapi sekarang dia sedang istirahat." Jawab Rey yang kini mendudukan tubuhnya di sofa yang ada di ruang tamu.


"Yasudah nona Assena aku tidak mau mengganggu istirahat tuan Arkan, biar nanti saja aku akan melihatnya." Suara Altur terdengar, sembari melirik Assena.


"Baiklah kalau begitu." Assena tersenyum.


"Kau mau kemana Altur? duduklah di sini." Titah Rey sembari menepuk sofa.


"Iya, duduklah dulu." Assena ikut menimpal.


"Terima kasih tuan, tapi saya ingin membersihkan badan." Altur sembari tersenyum menolak dengan halus. Sebisa mungkin ia menghindar karena ia merasa canggung jika harus ikut nimbrung dengan keluarga majikannya.


Altur pun melangkahkan kaki, pergi ke halaman belakang.


Di halaman belakang itu lah kamar Altur, juga bi Nem dan pak Sur berada.


Meski terletak di halaman belakang, tapi dua kamar yang mereka tempati untuk satu keluarga itu cukup mewah sekedar untuk para pekerja.


Karena Arkan sangat menghargai para pekerjanya. Keluarga Arkan memperlakukan mereka dengn baik, tidak seperti majikan pada para pekerja pada umumnya. Gajih dan pasilitas lebih dari cukup, bonus pun sering mereka terima.


Maka tak heran bi Nem dan pak Sur betah bekerja hingga puluhan tahun, karena Arkan pun sudah menganggap mereka seperti keluarga.


--


Assena pun ikut mendudukan tubuhnya di samping Rey dan Yumna.


"Bibi Lusi dimana paman?" tanya Assena karena ia tidak melihat istri dari pamannya itu.

__ADS_1


"Tadi bibi di ruang tengah sedang menonton tv bersama Evelin dan Isabella." jawab Arkan.


"Astaga.. Aku hampir saja melupakan ibu. Kenapa aku tidak menanyakan ibu ya??" Yumna dengan heboh sseraya menepuk jidatnya.


"Dasar kau ini, baru semalam tidak bersama ibumu. Kau sudah lupa pada ibumu sendiri." Rey mengacak-ngacak rambut Yumna.


Assena pun pamit pergi ke kamarnya, di susul dengan Yumna. Meninggalkan Rey yang duduk sendiri di ruang tamu.


Saat mereka melewati ruang tengah, terlihat Lusi, Evelin dan Isabella tengah menonton tv.


"Kalian sudah pulang." Sapa Evelin tersenyum.


Assena hanya sedikit mengangguk dan tersenyum. Ia pergi ke kamarnya terlebih dulu.


"Ibuuuu..." Yumna berhambur duduk disamping Lusi dan memeluknya.


"Kau bau sekali, cepatlah mandi." Lusi mendorong tubuh putrinya yang tengah memeluk itu.


Seketika Yumna mengendus dirinya sendiri. "Aku tidak bau. Ibu jahat sekali mengataiku bau. Apa ibu tidak merindukanku." Rengeknya dengan mengerucutkan bibirnya. kepada ibunya pun majanya tetap sama.


"Ini bukan di rumah kita, kau tidak malu. Isabella saja yang masih kecil tidak semanja dirimu. Sana mandi!" Alih-alih meladeni sikap manja putrinya, Lusi berpura-pura acuh. Ia begitu suka menggoda Yumna.


Yumna pun melirik Isabella.


karena baru saja Lusi yang telah menyebut namanya membuat Isabella juga menatap Yumna. Terlihat gadis kecil itu sedang mengejek Yumna yang manja dengan bersikap menahan tawanya.


Yumna pun merasa sedikit malu. "Aku ke kamar Assena dulu." pamitnya.


Saat memasuki kamar Assena, Yumna mendudukan tubuhnya di sofa. Terdengar suara gemercik air di dalam kamar mandi. Sepertinya Assena tengah mandi.


Cukup lama, pintu kamar mandi terbuka. Assena keluar dengan handuk melilit di tubuhnya. Lalu ia mengegeleng-gelengkan kepala seraya tersenyum kala melihat Yumna yang tengah tertidur di sofa.


Assena pun melangkah menghampiri lemari.


Selesai berpakaian, Assena mengeringkan rambutnya. Ia berjalan menuju sofa. Ia hendak membangunkan sepupunya itu, tapi rasanya ia tidak tega.


Assena hanya ikut mendudukan tubuhnya di samping Yumna. Hentakan pada sofa tercipta, membuat Yumna mengerjapkan mata. Seolah alam mimpimya terenggut secara paksa, membuat ia menoleh pada Assena yang telah membuat getaran di sofa itu.


"Aku tidak bermaksud membangunkanmu." Assena menyadari tatapan Yumna yang memprotes telah terbangun karena dirinya.


Yumna menarik napas kasar, "Aku mau mandi." Seolah kantuknya hilang ia melangkahkan kaki ke kamar mandi.


Hari kerja upnya cuma malem ya, karena siangnya author kerja.


Kalo hari libur sama upnya juga malem 😂 karena kalo siang di ganngu bocil hehee

__ADS_1


__ADS_2