Seberkas Cahaya

Seberkas Cahaya
Kebenaran tentang ayah


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang, sesekali Assena menggoda Altur dengan membahas tentang Jessy. Altur hanya tersenyum saja dengan melirik Assena di balik kaca spion.


"Kenapa dia terlihat bahagia, mendukung sekali jika aku dekat dengan Jessy. Padahal aku berharap sekali jika yang menjadi Jessy itu adalah Assena. Ah apa? berpikir apa aku ini. Bahkan dia sudah memiliki kekasih. Sudah, sudah hentikan jangan berpikir seperti itu lagi." gumam Altur dalam hati, ia menggeleng-geleng kepala, segera menepis pikirannya yang masih saja berharap pada Assena. Tapi seperti apa posisinya saat ini begitu menyadarkan bahwa berharap pada Assena gadis anak dari majikannya itu adalah sebuah kesalahan. Ia berusaha mengubur dalam-dalam harapan itu, meski tak dapat di pungkiri itu sangat sulit sekali.


Perjalanan yang terasa panjang, Assena yang disibukan dengan memikirkan berbagai cara untuk mendekatkan Altur dan Jessy.


Sedang Altur masih bergelut dengan perasaannya sendiri, untuk berhenti menyimpan harapan yang tidak semestinya itu.


Tak terasa mobil yang mereka tumpangi itu, sudah memasuki gerbang rumah Assena.


Mobil sudah terparkir di depan halaman rumah. Pandangan Assena tertuju pada sebuah mobil yang terparkir, mobil yang ia ketahui siapa pemiliknya.


"Bukankah itu mobil dokter Roghi?" malah terdengar suara Altur.


"Kau benar." Assena menimpal.


Entah kenapa, perasaannya menjadi tidak enak. Saat memasuki kawasan rumahnya suasana seperti tegang mencekam, terlebih melihat mobil dokter Roghi sudah terparkir. Seketika bayangan ayahnya terlintas di benaknya.


Ketika Altur hendak turun, dengan cepat Assena mencegahnya. Saat terlihat dokter Roghi keluar dari dalam rumah yang di susul oleh Evelin.


"Tunggu sebentar Altur!".


Altur dengan terheran-heran menoleh ke kursi belakang tempat dimana Assena terduduk. "Ada apa?".


Namun Assena tidak menjawab, ia malah terfokus memperhatikan ke luar sana.


Altur pun mengikuti arah pandang Assena, ternyata dokter Roghi dan Evelim yang menjadi pusat perhatian Assena.


Nampak sekali ada percakapan serius antara Evelin dan dokter Roghi itu, dan yang tidak terlewat dari pandangan Assena adalah wajah Evelin yang terlihat cemas.

__ADS_1


Ada apa ini?


Assena segera membuka pintu mobil dan keluar. Ia melangkahkan kaki untuk menghampiri dokter Roghi dan ibu tirinya itu.


Kehadiran Assena itu juga di sadari oleh Evelin dan dokter Roghi, hingga membuat mereka menoleh bersama ke arah dimana Assena tengah berjalan menghampiri mereka.


"Sebenarnya ada apa? dimana ayah?" dengan menatap Evelin dan dokter Roghi secara bergantian. Assena tidak bisa menahan apa yang ia khawatirkan tentang keadaan ayahnya.


Seketika nampak dokter Roghi dan Evelin saling melempar pandang.


"Ayah sedang istirahat sayang." Evelin dengan mengulas senyum, berusaha menyembunyikan kecemasannya.


"Apa ayah sakit yang membuat dokter Roghi ada disini?" Assena benar tidak tahan untuk menanyakannya.


"Ayahmu hanya sedang tidak enak badan, dan butuh istirahat saja." Evelin mencari-cari kata yang tidak membuat Assena curiga dan khawatir.


"Ayahmu baik-baik saja, dia hanya butuh istirahat. Kau tidak perlu khawatir ya." Dokter Roghi ikut menyahut. Karena ia tahu, ia harus menyembunyikan kebenarannya atas kondisi Arkan pada Assena.


Perlahan ia membuka pintu, betapa mengejutkan apa yang ia lihat saat ini. Arkan tengah terbaring, matanya terpejam rapat. Dengan mengenakan alat bantu pernapasan, juga selang infus yang menempel di tangan kanannya.


Assena berjalan mendekat, pandangan matanya menyapu sekujur tubuh Arkan, ia benar-benar memastikan bagaimana kondisi ayahnya. Dan kenyataannya sepertia yang ia khawatirkan, bahwa ayahnya sedang tidak baik-baik saja.


Terlihat kedua bola mata Assena mengkilat yang terlapisi cairan bening yang masih ia tahan untuk tidak terjatuh.


Suara langkah kaki yang terdengar di belakangnya, itu adalah Evelin yang kini menghampiri Assena.


Lalu Assena melirik ibu tirinya yang sudah ada di sampingnya itu.


"Apa ini yang disebut bahwa ayahku baik-baik saja?" Assena menatap tajam wanita yang tertunduk itu. Ia meminta penjelasan atas ke adaan ayahnya.

__ADS_1


Evelin hanya terdiam, yang tidak tahu harus menjelaskan apa pada Assena.


"Sayang tenangkan dirimu, ayahmu baik-baik saja jika kita mendoakan untuk kesehatannya." Setengah berbisik Evelin mencoba memberi penjelasan.


"Ayo kita bicara di luar, kita tidak mau mengganggu istirahat ayahmu bukan?" Evelin menarik tangan Assena untuk keluar dari kamar Arkan.


"Katakan padaku? ayah kenapa? dia sakit apa?" saat sudah berada diluar kamar. Rentetan pertanyaan itu lolos dari bibir Assena yang sudah tidak tahan untuk mengetahui tentang ayahnya.


"Ayahmu hanya butuh istirahat saja, setelah itu dia akan baik-baik saja."


"Jangan berbohong! Katakan yang sebenarnya. Apa kau pikir aku akan menganggap semuanya baik-baik saja. Setelah melihat keadaan ayah seperti itu. Kau pikir aku tidak menaruh curiga saat dokter Roghi kini lebih sering datang kemari, dan aku melihat perubahan pisik ayah yang semakin kurus dan pucat itu?" deretan kata-kata yang ia lontarkan dengan masih menjaga suaranya agar tidak terlalu keras. Kini Assena tidak tahan untuk mencegah air matanya keluar.


Seketika Evelin meraup Assena dalam pelukannya, ia juga terlihat menangis.


"Sayang.. Dengarkan ibu, bagaimana pun keadaan ayahmu saat ini. Kita harus tetap berpikir positif untuk kesembuhan ayahmu, kita harus tetap berdoa.


Kau tahu? bukan hanya dirimu yang mengkhawatirkan ayahmu. Ibu juga mengkhawatirkannya, ibu juga menginginkan ayahmu tetap baik-baik saja." Ucap Evelin sambil terisak di sela pelukannya.


Seketika Assena melepaskan pelukan itu. Ia menatap wajah wanita yang menjadi ibu sambungnya. Terlihat matanya sembab yang basah dengan air mata.


"Apa maksudnya? apa keadaan ayah begitu tidak baik? ayah sakit apa?" Assena memegang kedua bahu Evelin, menatap kedua bola mata mencari kejujuran di dalamnya.


Evelin memejamkan mata sejenak. Ia masih mengumpulkan keberanian untuk mengatakan kebenarannya. Meski ia sedikit ragu, karena ia sudah berjanji pada Arkan untuk menutupi ini dari Assean. Tapi Assena yang sudah tumbuh dewasa, tidak mudah untuk menutupi ini semua darinya. Gadis itu pasti menuntut sebuah kebenaran tentang keadaan ayahnya. Yang seharusnya ia juga mengetahuinya.


"Berjanjilah jika ibu mengatakan semuanya. Kau harus berpura-pura tidak tahu. Karena ayahmu yang meminta untuk menyembunyikan ini semua. Ayahmu tidak mau kau mengkhawatirkannya, dia tidak mau keadaannya membebani pikiranmu yang bisa membuat mu bersedih." Evelin memberi jeda, merarik napas dalam sebelum menyambung lagi.


"Sebenarnya ayahmu mengidap suatu penyakit. Dan dokter sudah memvonis bahwa ayahmu tidak bisa disembuhkan. Hanya obat-obatan yang mampu membantu memperpanjang masa hidup ayahmu." Evelin kembali menangis, ini begitu menyedihkan baginya.


Assena mematung mendengar penuturan ibu tirinya, ini begitu mengejutkan. Meski ia sudah menduga hal terburuk tentang keadaan ayahnya, tapi ia tidak menyangka bahwa ayahnya akan mengidap penyakit yang tidak bisa disembuhkan seperti ini. Dadanya terasa sesak mendengar kenyataan itu, air matanya meleleh membasahi pipinya.

__ADS_1


Ia terlihat menggeleng-geleng kepala, mencoba menyangkal apa yang ia dengar. Tubuhnya terasa begitu lemas, dadanya terasa sesak. Hingga tubuhnya terhuyung terjatuh ke lantai.


"Ayah.." lirihnya sebelum kesadarannya menghilang.


__ADS_2