Seberkas Cahaya

Seberkas Cahaya
Dijodohkan?


__ADS_3

"Beri pelajaran bocah itu!"


"Hajar saja!"


"Habisi dia!"


Begitu yang terdengar dari teriakan para teman-temannya.


Pemuda itu masih menatap tajam pada Altur, telapak tangannya sudah terkepal membentuk tinju.


Lalu dengan gerakan cepat, pemuda itu meninju ke arah Altur dan wajah sebagai sasarannya.


Tapi tidak kalah cepat Altur menahan kepalan tangan pemuda yang ada dihadapannya ini dengan telapak tangannya.


Nampak ekspresi pemuda itu terkejut, Altur bisa menahan pukulannya hanya dengan satu tangan saja. Dan yang lebih mengejutkan adalah tubuh Altur tidak bergeming sama sekali.


Dengan cepat Petter mencengkeram tangan pemuda itu, lalu menariknya dan menjungkir balikan tubuh itu dengan satu tangan saja.


Bugh, tubuh pemuda itu langsung terjungkal.


Semua orang yang menyaksikan itu, menatap antara terkejut dan takjub. Tak terkecuali juga dengan Assena. Ia membulatkan kedua bola matanya, mulutnya menganga. Ia tidak menyangka Altur sehebat itu.


Assena tidak tahu harus melerai atau malah menikmati tontonan menarik ini.


Dengan cepat para teman-teman dari pemuda itu berhambur menghampiri tubuh yang roboh sedang menahan sakit itu.


"Kakak apa kau baik-baik saja?" Pekik seorang gadis yang ada di antara teman-teman pemuda itu.


"Rolan kau tidak apa-apa?" Tanya salah seorang sembari membantu pemuda itu berdiri.


Jadi nama pemuda itu Rolan ya!


"Berani-beraninya dia, apa kita harus beri dia pelajaran?" Salah seorang lagi bersuara.


Pemuda bernama Rolan itu, mengangkat sebelah tangannya ke udara lalu menggelengkan kepala. "Tidak perlu, kita akan memberi pelajaran pada bocah itu. Tapi bukan di sini tempatnya." Ucap Rolan menatap tajam Altur.


"Awas saja kau! Tidak akan ku lepaskan semudah itu." Rolan dengan wajah memperlihatkan amarah. Jari telunjuk itu menunjuk Altur mempertegas ancamannya.


"Ayo kita pergi dari sini!" Altur seolah tidak memperdulikan ancaman itu, ia menarik tangan Assena melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Menerobos kerumunan orang-orang yang sedang menonton.


"Apa yang kalian lihat? Bubar!!" Teriak salah satu teman Rolan yang melihat kerumunan orang-orang yang menyaksikan kejadian ini.


Semua orang langsung membubarkan diri.


--


"Sial, reputasi kita akan hancur gara-gara bocah itu." Geram Rolan. "Kita tidak akan di takuti lagi dengan adanya kejadian ini." teriaknya dengan mengacak-ngacak rambut dengan kesal.


"Apa yang akan kita lakukan pada bocah itu?" Tanya Max salah satu teman Rolan.


"Tentu saja kita akan membalasnya." Ucap Rolan dengan menyeringai penuh siasat.


"Jessy!" Panggil Rolan.

__ADS_1


"Iya kak." Seorang gadis cantik mendekat.


Dia Jessy, adik Rolan.


**


Assena baru saja keluar dari dalam toilet. Ia hendak melangkahkan kaki.


"Hey tunggu!" Suara seorang gadis, yang menghentikan langkah Assena.


Assena menoleh dan berbalik, nampak gadis cantik di hadapannya. Assena mengerutkan dahi, ia tidak mengenali gadis itu.


"Boleh kita berkenalan? Namaku Jessy. Siapa namamu?" Gadis itu tersenyum manis dengan mengulurkan tangannya.


Assena meneriman uluran tangan gadis itu. "Panggil saja aku Assena."


"Nama yang cantik, sepeti pemilik namanya." Goda Jessy masih mengulas senyum termanisnya.


"Kau bisa saja."


"Aku mau minta maaf atas perlakuan kakakku tadi." Wajah Jessy berubah menjadi sedih karena merasa bersalah.


"Jadi dia itu kakakmu?" Tanya Assena.


"Iya dia kakakku, namanya Rolan. Ia memang seperti itu, dia salah satu yang ditakuti di kampus ini." Tutur Jessy.


Assena mangut-mangut. "Oh begitu.".


"Aku harus pergi, temanku sudah menunggu." Assena tersenyum melangkah pergi.


Mereka berjalan bersama, menghampiri Altur yang sudah menunggu Assena sedari tadi.


Demi menjalankan tugas, Altur pun tetap setia menunggu dan mengawasi Assena meski hanya sekedar ke toilet.


Altur tersenyum dengan kedatangan Assena, lalu pandangannya teralih pada gadis di samping Assena.


Lalu Assena menjelaskan siapa Jessy ini.


"Jadi kau adik dari laki-laki tadi?" tanya Altur menatap Jessy.


"Iya, dia kakakku. Aku mewakili kakakku meminta maaf atas kajadian tadi." Jessy mengatupkan kedua tangannya di dada, sebagai bentuk permohonan maaf.


"Lupakan saja. Itu bukan masalah." Altur tersenyum menatap gadis itu.


"Terima kasih. Ku harap kita bisa menjadi teman baik." Jessy berucap dangan melirik Assena dan Altur bergantian.


"Tentu saja." Jawab Altur tersenyum.


Assena pun menganggukan kepala tersenyum.


"Terima kasih sudah mau menjadi temanku. Baiklah aku harus pergi. Sampai jumpa lagi!" Jessy melambaikan tangan lalu pergi.


Lalu Assena dan Altur saling melempar pandang dan tersenyum.

__ADS_1


"Dia manis, tidak seperti kakaknya." Ucap Altur.


Assena terkekeh mendengar itu. "Apa kau menyukainya?".


Terdengar gelak tawa Altur, ia menatap Assena. "Aku malah lebih menyukaimu." Batin Altur.


***


Saat jam makan malam, di meja makan sudah ada Arkan, Evelin, Assena juga Isabella.


"Bagaimana kuliahmu sayang?" Tanya Arkan.


"Baik, semua lancar."


"Baguslah nak. Usai makan malam, ayah memintamu untuk datang ke ruang kerja ayah. Ada hal yang ingin ayah bicarakan."


Assena menghentikan gerakan mengunyahnya saat mendengar penuturan Arkan. Ia mengangkat pandangannya menatap wajah ayahnya. Dahinya mengerut dalam, ada pertanyaan terlintas di benaknya.


Tak lama, lalu Assena mengangguk. Tanpa mengemukakan petanyaan.


--


Assena membuntut di belakang, mengikuti langkah kaki ayahnya.


Sesuai dengan permintaan Arkan, usai makan malam mereka pun bergegas pergi menuju ruang kerja Arkan.


Anak dan ayah itu kini sudah duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


"Apa yang ingin ayah sampaikan?" Assena tidak tahan untuk bertanya. Pertanyaan yang sedari tadi berputar-putar di kepalanya.


Hening sejenak mengambil alih, sebelum Arkan benar-benar siap untuk menyampaikan niatnya.


Arkan menarik napas dalam. "Begini...." Arkan memberi jeda, ia benar-benar mengumpulkan keberanian untuk menyampaikannya.


Terlihat Assena benar-benar tidak sabar, dengan rasa penasaran memenuhi isi kepalanya.


"Kau tahu? tuan Jemmy sahabat ayah itu?" Arkan berucap dengan santai untuk menghilangkan ketegangan.


Assena seketika mengangguk. Tapi ada firasat buruk langsung mengelayuti hatinya kala mendengar nama itu.


"Jadi tuan Jemmy menyampaikan keinginannya untuk...." Arkan menggantungkan ucapannya, lalu menatap putrinya dengan ragu.


Assena masih sama menatap ayahnya, dengan dahi mengkerut. Menunggu keterusan dari ucapan ayahnya, meski kemungkinan terburuk yang ia sudah sangka-sangka.


"Emm... Untuk menjodohkanmu dengan Alvin putra dari tuan Jemmy." Akhirnya semua sudah tersampaikan meski dengan ragu.


Dahi Assena mengkerut, mulutnya terbuka. Seperti mengucapkan "Hah!!" Tanpa suara, ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Arkan.


Jelas saja Assena tersentak, ia begitu terkejut. Meski ia sudah menduga dari hal terburuk, dan inilah kenyataannya terburuknya.


"Apa ayah sedang bercanda?" Assena tidak bisa menahan untuk mengutarakan apa yang ingin ia katakan, mengenai kata perjodohan itu.


Terdengar seperti lelucon saja. Apa itu tadi? Perjodohan?

__ADS_1


Arkan sudah menduga bagaimana tanggapan Assena tentang perjodohan ini. Lalu ia menggelengkan kepalanya. "Tidak, ayah tidak sedang bercanda nak." Ucap Arkan menatap putri sulungnya seolah meyakinkan.


__ADS_2