Seberkas Cahaya

Seberkas Cahaya
Ini salahku


__ADS_3

"Apa Altur belum pulang?" Assena balik bertanya, ia begitu terkejut. Karena ia yang berniat menemui Altur, nyatanya pemuda itu belum pulang.


Terlihat kecemasan di raut wajah wanita paruh baya itu.


"Belum, Altur belum pulang sejak semalam ia pamit untuk bertemu dengan temannya." Tutur bi Nem sembari menggelengkan kepala.


Kini kakinya begitu terasa lemas dan gemetar, yang ia takutkan adalah terjadi sesuatu yang buruk kepada anak semata wayangnya itu. Karena sebelumnya Altur tidak pernah bepergian selain mengantar dan mengawal Assena saja. Dan kenyataannya sekarang Altur benar-benar belum kembali.


"Bibi tidak perlu khawatir aku akan menghubungi Altur." Assena yang menyadari kecemasan dalam raut wajah bi Nem pun mencoba menenangkan.


"Bibi sudah mencoba menghubunginya, tapi tidak bisa nona." Tutur bi Nem lagi dengan bibirnya sedikit gemetar, kini wanita itu tidak bisa lagi menyembunyikan kecemasannya. Terlihat di kedua sudut matanya sudah berair.


Assena kini ikut khawatir juga, "Aku akan menghubungi temannya bi." ia mengusap bahu bi Nem.


"Bibi jangan khawatir, bibi tenang saja Altur pasti pulang." Assena masih berusaha menenangkan.


Bi Nem pun mengangguk, sembari mengusap sisa air mata di pipinya. Tidak dapat di pungkiri wanita itu merasa sedikit malu telah menangis di hadapan majikannya.


"Aku akan mengambil ponselku untuk menghubungi teman Altur, untuk menanyakan dimana Altur berada." Pamit Assena, ia pun berlalu dengan langkah cepat untuk kembali ke kamarnya.


Sesaat setelah ia sampai di kamarnya, ia langsung mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja di samping tempat tidurnya.


Yang pertama ia hubungi adalah nomor ponsel Altur. Seperti yang telah di katakan bi Nem, ternyata memang sulit sekali menghubungi pemuda itu. sudah tiga kali Assena mengulang untuk menghubungi Altur, namun hanya terdengar suara operator saja menandakan yang di tuju tidak bisa di hubungi.


Ia pun mulai menghubungi Jasmine untuk meminta nomor ponsel Jessy. Namun ternyata Jasmine tidak memilikinya, malah Assena diserang beberapa pertanyaan oleh Jasmine yang merasa heran karena tiba-tiba Assena menanyakan nomor ponsel Jessy. Namun Assena memilih mematikan sambungan telepon itu, dari pada harus menjawabnya. Karena ia tahu ini bukan saatnya menjelaskan pada Jasmine.


Lalu tujuan selanjutnya yang Assena hubungi adalah sepupunya yaitu Yumna. Ia pun menghubungi Yumna untuk menanyakan hal yang sama, namun lagi lagi hasilnya nihil. Karena Yumna juga tidak memiliki nomor ponsel Jessy, malahan reaksi Yumna sama dengan Jasmine tadi, yang langsung menanyakan kenapa Assena menenyakan nomor ponsel Jessy. Assena pun langsung mematikan sambungan teleponnya.


"Kenapa juga hanya Altur yang memiliki nomor ponsel Jessy." Ucap Assena dengan gusar.


"Kenapa aku juga bisa lupa kalau Jessy itu adalah adik Rolan." Ucap Assena dengan menepuk jidat dengan telapak tangannya. Kini kekhawatiran benar-benar melingkupi. Seperti kenyataannya sekarang pemuda itu belum pulang, bahkan sulit sekali di hubungi.


Assena terlihat mondar mandir, ia begitu bingung harus melakukan apa untuk mengetahui dimana kebaradaan Altur. Ia benar-benar gelisah sekali. Ia harus mencari Altur kemana? atau rumah Jessy pun dia tidak tahu. Assena harus bisa menemukan dimana Jessy berada, karena gadis itu adalah kunci untuk bisa menemukan Altur.

__ADS_1


"Ya, aku harus mencarinya." Ucapnya dengan penuh tekad.


Lalu Assena mengotak-ngatik lagi layar ponselnya, ia hendak menghubungi Yumna lagi.


"Hallo.." Suara Yumna terdengar dari dalam ponsel.


"Bisakah kau menjemputku kemari, aku harus mencari Altur." Tutur Assena tanpa berbasa-basi.


"Memangnya kemana Altur?" pertanyaan yang di lontarkan Yumna terdengar.


"Nanti aku akan menjelaskannya, cepatlah kemari!" Sungguh Assena tidak mau berlama-lama lagi.


"Oke, aku segera ke sana."


Sebelum panggilannya ditutup oleh Yumna, dengan cepat Assena mencegahnya.


"Tunggu dulu.." Assena berucap dengan cepat karena takut Yumna menutupnya terlebih dulu.


"Ada apa lagi?"


"Baiklah.." Jawab Yumna. Setelah itu panggilan pun terputus.


Assena sengaja menyuruh Yumna untuk menjemputnya. Karena selain Yumna bisa menemaninya untuk mencari Altur, juga untuk menutupi agar orang rumah tidak curiga. Dan juga alasan lainnya adalah Assena merasa ragu kalau ayahnya akan mengizinkannya membawa mobil sendiri, ia meyakini pasti ayahnya akan melarangnya.


Assena sudah bersiap-siap, ia berdiri di balkon kamarnya. Agar ia bisa melihat langsung jika mobil Yumna telah sampai.


Namun sudah setengah jam saat panggilannya terputus belum ada tanda-tanda kedatangan sepupunya itu.


Assena sudah merasa jengah sekali menunggu Yumna. Tak lama mobil berwarna merah pun tiba di halaman depan rumah.


"Itu dia.." Ucapnya lalu bergegas turun ke bawah.


Setelah berpamitan kepada Arkan dan Evelin, sesuai rencananya berbohong untuk pergi mengunjungi makam ibunya. Dan Assena pun mendapat izin.

__ADS_1


Saat Assena sudah menghampiri pintu mobil hendak masuk, ia tidak sengaja melihat bi Nem berdiri memperhatikan Assena.


Assena bisa melihat bahwa bi Nem sedang ingin mengetahui bagaimana kabar tentang Altur. Assena hanya tersenyum, seolah ia berkata 'semua akan baik-baik saja'.


Mobil yang membawa Assena dan Yumna pun sudah keluar dari area rumah. Saat dirasa sudah cukup jauh dari rumah Assena, Yumna pun menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Yumna, ia tidak bisa menahan untuk bertanya. karena Assena berhasil membuatnya penasaran sedari tadi.


Assena pun menceritakan semuanya, tanpa ada yang terlewat. Dari mulai Altur pergi menemui Jessy sampai saat ini belum ada kabar lagi tentang pemuda itu.


Yumna pun nampak terkejut, sama halnya dengan Assena, ia pun sudah berpikiran buruk saja. Karena memang yang mereka tahu Jessy adik dari Rolan. Dan Rolan adalah senior di kampus yang ditakuti sekaligus pembuat masalah. Dan satu kenyataan lagi, bahwa Altur pernah berusan dengan Rolan.


Hingga Assena dan Yumna pun, telah menduga ini ada kaitannya dengan Rolan.


"Kenapa kau tidak melarangnya." Cetus Yumna.


"Apa hakku melarang orang berkencan." Timpal Assena.


"Tapi sepertinya itu bukan kencan biasa, itu rencana Jessy dan Rolan untuk menjebak Altur." Yumna berucap sesuai apa yang ia duga.


Assena pun untuk sekarang menduga hal yang sama, karena sebelumnya ia tidak pernah menduga hal seperti itu. Sebelumnya ia hanya menduga bahwa itu adalah acara kencan biasa, hingga membuat Assena memberi dukungan penuh atas hubungan Altur dan Jessy. Tapi hari ini, ia menyesal telah mendukung hubungan mereka. Dan yang lebih menyesalkan adalah bahwa Assena sendirilah yang memberikan nomor ponsel Altur kepada Jessy.


"Kau benar, ini salahku..."


Kini Assena benar-benar merasa bersalah.


"Bukan, bukan itu maksudku. Aku tidak menyalahkanmu." Ucap Yumna, mengapa jadi begini? pikirnya.


"Tapi ini memang salahku, aku yang memberikan nomor ponsel Altur pada Jessy." Ucap Assena, ia menghadapakan tubuhnya mengarah pada Yumna.


"Jangan berpikir seperti itu, kita akan menemukan Altur segera." Yumna mencoba menenangkan Assena.


"Tidak.." Assena menggelengkan kepala, "Ini memang benar-benar salahku. Jika aku tidak memberikan nomor ponsel Altur, mungkin Altur tidak akan pergi menemui perempuan itu.." Assena berucap dengan bibir gemetar, karena rasa bersalah sudah memenuhi isi kepalanya.

__ADS_1


"Kita akan mencari Altur, kita akan menemukannya. Tenang saja dia pasti baik-baik saja." Yumna mulai menjalankan mobilnya.


Assena hanya terdiam, menatap jalanan yang dilewati. Wajah bi Nem pun terbayang-bayang. Bagaimana tidak, wanita itu tengah mengkhawatirkan anaknya, sedang semuanya terjadi karena dirinya. Rasa bersalah semakin menembus masuk ke dalam hati, jiwa dan pikirannya.


__ADS_2