Seberkas Cahaya

Seberkas Cahaya
Melenceng


__ADS_3

Flashback


Bugh, setelah kayu balok itu dibentukan dengan keras ke belakang kepala Altur, membuat pemuda itu jatuh tak sadarkan diri.


Orang yang berhasil melumpuhkan Altur masih berdiri gagah ia sudah mengacungkan kayu balok itu hendak memukul tubuh yang sudah tak berdaya itu.


"Sudah hentikan, jangan pukul dia!" Jessy menjerit sambil menangis, ia duduk bersimpuh mendekap tubuh Altur. Ia mencoba menjadi pelindung agar Rolan tidak memukul Altur lagi.


Ternyata Rolan lah lelaku pemukulan itu.


"Apa yang kau lakukan? menyingkir dari tubuh sampah itu!" teriak Rolan yang tidak sabar ingin memukul lagi.


"Tidak, aku tidak akan meninggalkannya. Kalau kau mau memukulnya, pukul saja aku.." Teriak Jessy, ia masih bersikukuh mendekap tubuh Altur.


"Kenapa sekarang kau malah melindunginya?" Tanya Rolan, ia mengeratkan gerahamnya menahan amarah.


"Dia laki-laki yang baik, dia sudah menolongku saat musuhmu mencoba mencelakakanku." Masih dengan suara yang keras, Jessy ingin kakaknya mendengarkannya degan baik dan jelas. Ya, meski pendengaran Rolan masih berpungsi dengan baik, tapi Jessy benar-benar menekankan agar kakaknya sadar.


Rolan tercengang mendengarnya, kayu balok yang ia pegang kini perlahan terlepas dan terjatuh ke lantai.


"Siapa yang ingin mencelakaimu?" tanya Rolan ia melangkah untuk mendekati adiknya itu.


"Pikir saja sendiri! Bukan kah kau pasti lebih mengetahuinya dari pada aku? karena kau memiliki banyak musuh, aku hampir celaka karena dirimu..." Terdengar suara Jessy melemah karena ia terus menangis.


"Apa yang kau katakan? kenapa jadi menyalahkan aku? aku selalu melindungimu selama ini." Rolan tak habis pikir. Hanya karena Altur kini Jessy sudah berani berbicara seperti itu.


"Kau melindungi aku karena kau memiliki banyak musuh. Jika saja kau tidak memiliki banyak musuh, kau tak perlu melindungiku, kau tidak perlu melakukannya." Entah keberanian datang dari mana, membuat Jessy berani berkata seperti itu. Karena biasanya ia tidak berani membantah kakaknya.


"Kenapa? kenapa kau jadi seperti ini? apa karena lelaki itu?" Rolan menatap tajam tubuh Altur, rasanya ia ingin menerkam pemuda itu. Baginya Altur membawa pengaruh buruk bagi adiknya. Ya, buktinya malam ini. Jessy berani menentangnya hanya karena ingin melindungi Altur.


"Karena kau sudah melukainya. Bukankah aku sudah mengirim pesan untuk membatalkan semua rencana kita?" Kini Jessy mengangkat wajahnya untuk menatap langsung wajah Rolan.

__ADS_1


Rolan mendengus, "Apa yang kau pikirkan? mengapa begitu mudah membatalkan rencana yang sudah kita rancang." Rolan menatap lekat wajah Jessy yang masih terlihat air mata di kedua pipinya.


"Apa kau tidak mengerti? dia sudah menyelamatkan nyawaku. Jika kau benar-benar menyayangiku kau akan memikirkan keselamatanku, dan setidaknya kau bisa menghargai orang yang telah menyelamatkanku.


Bisa kah kau lupakan ambisimu untuk balas dendam kepada Altur? dia lelaki baik, dan sekarang dia temanku." Lirih Jessy, ia sudah tidak bertenaga jika harus berteriak lagi.


Rolan hanya membuang napas dengan kasar, ia masih merasa geram karena Jessy telah melenceng dari rencananya. Tapi bagaimana pun Jessy adalah adik perempuan satu-satunya juga sebagai kesayangan. Ia hanya harus mengalah saja untuk saat ini.


"Aku akan membawanya ke kamar tamu, biarkan dia menginap di sini." ucap Jessy saat di rasa kakaknya itu sudah mengalah.


Dua orang penjaga keamanan disuruh oleh Jessy untuk membawa Altur ke kamar. Karena jika ia harus meminta tolong pada kakaknya rasanya itu tidak mungkin. Rolan sudah pasti menolaknya mentah-mentah.


Flashback Off


**


Sampai saat ini Jessy masih setia menunggui pemuda yang terbaring di atas tempat tidur, yang belum sadar juga. Bahkan semalam ia rela tidur di sofa yang ada di dalam kamar tersebut.


Jessy mengulurkan tangannya untuk mengusap pipi Altur, ia baru menyadari ternyata wajah pemuda itu lebam. Mungkin karena saat ini tirai kaca jendela yang telah di buka, hingga kamar terang karena sinar mentari dari luar yang menembus masuk. Menjadikan lebam di wajah Altur yang semalam tidak terlihat, kini terlihat dengan jelas.


"Ini karena dia menyelamatkanku." Batin Jessy dengan menatap sendu.


Kemudian ia berbalik badan dan melangkah keluar dari ruang tersebut, ia hendak membersihkan diri.


Tak lama setelah Jessy pergi, Altur nampak mengerjapkan mata. Saat kedua matanya terbuka, yang pertama ia lihat adalah langit kamar, ia mengedarkan pandangannya ke sekitar. Tempat ia berada saat ini sangat asing baginya.


"Ini dimana?" lirihnya. Ia hendak bangun, tapi saat kepalanya terangkat terasa begitu sakit. Bagian belakang kepalanya terasa berdenyut, hingga refleks ia memegang kepalanya dengan meringis menahan sakit.


Ia masih mencoba mengamati lagi seisi ruang kamar itu, ini bukan kamarnya.


"Kau sudah bangun?" Suara Jessy terdengar, gadis itu muncul di ambang pintu dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman.

__ADS_1


Altur begitu bingung, kenapa ada gadis itu? begitu pemikirannya.


Ia mencoba mengingat lagi apa yang telah terjadi. Lalu ia ingat saat ia menemui Jessy di cafe, ia berkelahi untuk menyelamatkan Jessy, lalu mengantar gadis itu pulang. Sampai ada seseorang yang telah memukulnya dari belakang. Ya, Altur sudah mengingat semuanya.


"Makan lah dulu!" titah gadis itu sembari menyodorkan piring.


"Aku hanya ingin minum." Ucap Altur sembari memegang tenggorokannya yang terasa kering.


Jessy pun menyodorkan air minum di gelas bening jangkung, yang baru saja ia bawa.


Altur pun meneguknya hingga habis tak bersisa. Lalu menyodorkan kembali gelas kosong itu kepada Jessy.


"Kau harus makan," Jessy kembali menyodorkan piring, sesaat setelah menyimpan gelas kosong di atas meja.


"Tidak. Aku tidak ingin makan, aku tidak lapar. Aku hanya meminta penjelasan darimu, apa sebenarnya yang terjadi? siapa yang telah memukulku?"


Jessy terdiam sejenak, ia sudah bisa menduga bahwa Altur akan menanyakan apa saja yang telah terjadi pada pemuda itu.


"Aku harus menjawab apa? jika aku jujur Altur pasti akan membenciku" Batin Jessy.


"Kenapa diam?" tanya Altur yang mendapati Jessy hanya diam tidak menjawab pertanyaannya.


"Aku harus jujur. Bagaimana pun tanggapannya aku harus tetap jujur. Aku ingin memulai semuanya dari awal tanpa ada kebohongan." Jessy membatin memantapkan niatnya untuk berkata jujur.


"Setelah aku menjelaskan semuanya, ku mohon jangan membenciku." Ucap Jessy mata sayu miliknya yang terlihat letih karena tidak tidur nyenyak semalaman itu menatap kedua manik milik Altur.


"Apa maksudmu?" tanya Altur dengan heran. Apa yang ia bisa duga saat ini setelah mendengar penuturan Jessy.


Jessy menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan semuanya. "Sebenarnya kakakku yang telah memukulmu, yang menyebabkan kau jatuh pingsan."


"Tapi kenapa?" tanya Altur dengan cepat, Sesaat setelah mendengarnya. Sebenarnya itu tidak perlu di tanyakan lagi. Toh Altur sudah menduga jika Rolan bisa saja melakukan itu, mengingat ia pernah menjungkir balikan pemuda itu. Ia sudah bisa menyangka bahwa pemuda seperti Rolan mungkin saja akan membalas dendam. Tapi ia tidak memikirkan hal itu kala pertama Jessy tiba-tiba mendekatinya. Ia berpikir bahwa Jessy tulus menjadi temannya.

__ADS_1


"Maafkan aku Altur..." Ucap Jessy menunduk.


__ADS_2