
Mobil sudah melesat memecah jalanan, dengan kecepatan sedang Altur mengemudi.
Assena hanya duduk dan bersandar lemas, melempar pandangan ke luar jalanan. Ia memikirkan apa yang telah ia dengar dari cerita Alvin. Mengetahui alasan Petter pergi karena hukuman, membuat ia merasa lega sekaligus iba. Lega karena ternyata Petter tidak sengaja menjauh pergi darinya, melainkan pergi karena menjalani hukuman. Sedang ia merasa iba karena Petter berkelahi karena dirinya, lalu menanggung hukuman seperti itu.
Kruwuuukk suara yang berasal dari perut Altur yang terdengar nyaring. Berhasil membuyarkan lamunan Assena. Gadis itu pun melirik Altur. "Kau lapar?" tanyanya.
Rasanya Altur ingin mengumpat perutnya yang berbunyi begitu memalukan.
"Tidak nona.." Jawab Altur dengan memaksakan senyum untuk menyembunyikan rasa malu.
"Jangan berbohong, aku mendengar saat perutmu berbunyi.." Tutur Assena.
Altur hanya diam saja, seolah kali ini ia mengakuinya.
"Maafkan aku Altur. Pasti kau belum makan karena mengantar dan menungguku seharian ini."
"Tidak apa nona, itu sudah tugasku." Timpal Altur dengan menyempatkan melirik Assena dengan melempar senyum, lalu kembali memfokuskan arah pandang ke depan jalan setelahnya.
"Panggil namaku!" titah Assena, merasa risih saat Altur terus memanggil dengan sebutan nona.
"Baik Assena."
"Kau harus makan, ayo kita cari restaurant terdekat." Ajak Assena.
"Tidak perlu, nanti di rumah saja.." Tolak Altur.
"Aku tidak akan membiarkan kau kelaparan sepanjang perjalan, jika ada restaurant menepilah!" perintahnya tidak mau di bantah.
"Baiklah jika memaksa. Tapi tidak perlu di restaurant, aku mau makan bakso di pinggir jalan saja." Ucap Altur.
"Bakso?" rasanya Assena tidak pernah memakan jajanan di pinggir jalan seperti bakso.
"Iya bakso, apa kau suka bakso?" tanya Altur yang sedang terus mengemudi, dengan arah pandangnya terus ke depan.
"Aku tidak pernah makan bakso, apa itu rasanya enak?" tutur Assena menatap wajah Altur dari samping.
Seketika Altur menyempatkan melirik gadis yang tengah duduk di sampingnya itu.
"Hah" Altur sedikit terkejut.
"Orang kaya mana kenal sama bakso yaa.." Goda Altur.
__ADS_1
"Bukan begitu, dari dulu aku jarang keluar rumah selain sekolah. Jadi aku tidak terlalu tahu makanan di luar. Hanya pernah mendengar namanya saja, tapi tidak pernah mencoba rasanya." Tutur Assena.
Selama ini Arkan memang selalu menjaga pola makan. Ia hanya memperbolehkan Assena makan masakan rumah saja. Sedang dari sekolah pun Arkan memilihkan sekolah yang elit, yang dimana setiap kantinnya hanya menyediakan makanan sehat saja. Maka dari itu Assena tidak pernah makan di luar apa lagi tempat makan pinggiran jalan. Bukan karena makanan yang mewah atau tidak mewahnya, tapi lebih ke kesehatan dan kebersihannya.
"Oh begitu.." Altur mangut-mangut. Ia juga mengerti dengan kehidupan orang kaya yang pasti lebi pilih-pilih makanan untuk kesehatan.
"Mau coba makan bakso?" tanya Altur.
"Mau..." jawan Assen antusias.
"Apa tuan tidak akan marah?"
"Tidak," Assena menggelengkan kepala. "Jika ayah tidak tahu.." sambungnya lagi dengan terkekeh.
Altur hanya ikut tersenyum, begitu gemas dengan jawaban Assena.
--
Mobil menepi saat sampai di tukang bakso.
"Di sini bakso langgananku." Ucap Altur seraya membuka sabuk pengaman.
"Benarkah?? aku tidak sabar.." Assena juga dengan semangat membuka sabuk pengaman, ia sudah tidak sabar ingin segera turun.
Aroma khas bakso begitu menggoda di indra penciuman Assena. Sembari menunggu Altur yang sedang memesan, ia mengedarkan pandangannya, kebetulan sekali sedang ramai pengunjung. Tidak sengaja Assena seperti melihat Jessy di meja yang paling ujung. Namun tidak terlalu jelas, karena ada pengunjung lain yang duduk menghalangi.
Kini perhatian Assena terpusat saat melihat Altur sedang berjalan ke arahnya meja tempat duduknya.
"Aku lupa bertanya, kau mau pesan bakso pakai mie, bihun, sayuran atau hanya baksonya saja?" tanya Altur saat dirinya berhasil menghampiri Assena. Namun hanya berdiri saja.
"Emm terserah kau saja.." Ucap Assena.
"Terserah aku?" Altur membeo.
"Iya, karena aku tidak tahu. Samakan saja denganmu."
"Baiklah, aku akan segera kembali." Altur pergi untuk memesan bakso.
Tak lama Altur sudah kembali, lalu mendudukan tubuhnya duduk berhadapan dengan Assena.
"Sebentar lagi baksonya datang." Ucap Altur.
__ADS_1
Lima menit saja, seorang pemuda datang membawa nampan berisikan dua mangkok bakso.
"Silahkan.." Ucap pemuda itu setelah meletakan dua mangkok bakso lalu pergi.
"Bagaimana? enak?" tanya Altur saat melihat Assena memasukan bakso kecil beserta kuahnya dalam sendok ke mulutnya
Assena menganggukan kepala dengan cepat di sela mengungahnya. "Enak sekali." Ucapnya dengan girang.
--
"Aku kenyang sekali." Ucap Assena sesaat setelah menegguk setengah botol air mineral.
Altur hanya terkekeh melihat gadis itu. "Bagaimana tidak, kau habis dua mangkok." Ledek Altur.
"Hehe, habisnya enak." Assena tersenyum lebar.
"Kapan-kapan ajak lagi aku kemari" pinta Assena.
"Tenang saja.. Kalau tuan tahu marah tidak yah??" goda Altur.
"Paling kau saja yang di marahi karena kau yang sudah menjerumuskanku.." Ucap Assena, lalu terdengar tawa dari keduanya.
Setelah membayar, Altur dan Assena pun segera menuju mobil untuk pulang.
Namun sesaat keduanya berhasil mendudukan tubuh di kursi mobil. Tidak sengaja Assena melihat Jessy tengah berdiri di pinggir jalan.
"Bukankah itu Jessy?"
Altur yang mengikuti arah pandang Assena pun kini bisa melihatnya.
"Sedang apa dia di sini?" ucap Altur kedua matanya masih memperhatikan Jessy.
"Sebenarnya tadi aku melihat Jessy di meja paling ujung, sepertinya dia juga sedang makan bakso. Tapi ku kira aku salah melihat, karena tidak jelas juga." Tutur Assena.
"Sedang apa dia berdiri di pinggir jalan seperti itu?" Ucap Altur masih memperhatikan.
Di luar sana terlihat Jessy berdiri di pinggir jalan, namum nampak terhuyung dengan tangan memegang kepalanya.
"Kenapa dia? Apa dia sakit?" Assena juga yang tak kalah terus memperhatikan.
Terlihat juga saat ada sepeda motor membunyikan klaksonnya karena hampir menabrak Jessy yang masih terhuyung.
__ADS_1
"Bodoh, dia hampir tertabrak.."