
*Kisahku kini terasa berbeda
kisah yang hadir dengan tiba-tiba
Rasaku ingin segera 'tuk bisa memilikimu
Meski tak tepat ku mendapatkanmu
Cinta mengalir begitu saja
Begitu sulit untuk aku redam
Meski ku tahu perasaan
Engkau dan aku tak bisa lepas
Biarkan ini adalah jalannya*
(Lagu setia band, vocal Charly)
Lantunan lagu yang di putar dari ponsel terdengar melalui headset yang menempel di telinga, mata Assena terpejam menghayati setiap kata yang mengandung makna baginya.
Bayangan saat-saat kebersamaan, tentang seseorang itu, tentang kerinduan, harapan dan penantian semua muncul bersamaan saat lagu itu di dengar.
Lagu ini, lagu yang Petter putar saat di danau waktu itu, Petter mengatakan bahwa itu lagu kesukaannya.
Lagu itu telah usai, dan tidak terdengar lagi. Ia menarik napas pelan, matanya mulai terbuka. Melihat langit yang gelap dengan cahaya bintang sebentuk titik yang bertebaran. Ya, Assena tengah berada di balkon kamarnya, ia duduk bersandar disofa.
Menatap sayu bintang-bintang, "sedang apa dia? apa dia mengingatku?" gumamnya dalam hati.
___
Hari-hari telah berlalu, setelah acara kelulusan itu, dimana pada waktu itu Assena mengetahui bahwa Petter telah pergi.
Assena kembali menjadi pendiam, keceriaan itu padam lagi setelah Petter pergi.
Karena sosok Petter yang membuat Assena bisa tersenyum sehangat mentari pagi, dan kini seolah Petter pergi membawa semuanya. Hanya menyisakan Assena yang kembali menjadi dirinya yang dulu.
**
"Aku akan membicarakannya dengan putriku, tapi jujur saja aku tidak bisa memaksanya. Semua tergantung keinginannya. Jika dia bersedia tentu aku bersyukur kita akan menjadi besan. Jika pun putriku menolak, aku tidak bisa berbuat apa-apa." Ucap Arkan sembari menempelkan ponsel di telingannya. Ia tengah duduk bersandar pada tumpukan bantal diranjangnya.
Tak lama kemudian, ia mengakhiri percakapan lewat panggilan suara itu.
"Apa yang tuan Jemmy katakan?" tanya Evelin yang ada disamping Arkan, juga yang sedari tadi mendengarkan.
"Jemmy ingin menjodohkan anaknya dengan anak kita, Assena."
__ADS_1
"Anaknya yang mana? Alvin atau Petter?" tanya Evelin lagi.
"Dia mengatakan bahwa Alvin yang akan di jodohkan dengan Assena.
Yang ku tahu Jemmy telah mengirim Petter ke luar negeri untuk melanjutkan kuliahnya." Ujar Arkan.
"Apa, ke luar negeri?" Evelin terkejut. "Ku kira tuan Jemmy akan menjodohkan Petter dengan Assena. Karena menurutku Assena lebih dekat dengan Petter." Sambungnya, ada kekecewaan di raut wajahnya.
"Ya, aku pun berfikir begitu sebelumnya. Bagaimana aku membicarakannya dengan Assena. Aku ragu dengan reaksinya nanti." Ucap Arkan memijit pangkal hidungnnya.
"Kita bicarakan saja dengan pelan, apa pun keputusannya. Kita harus terima," ucap Evelin seraya menggeser tubuhnya lalu mengusap tangan Arkan.
"Aku mengerti, aku juga mengharapkan putri kita berjodoh dengan salah satu putra Jemmy. Akan menyenangkan jika kita bisa berbesanan deng Jemmy" ucap Arkan tersenyum. "Tapi aku tidak bisa jika harus memaksa Assena, aku bukan ayah yang baik baginya, aku tidak setega itu mengikatnya dalam perjodohan. Aku ingin membebaskannya memilih sosok yang akan menjadi pendampingnya kelak. Tentunya yang terbaik, yang bisa membahagiakannya, yang bisa menjaganya melebihi aku yang hanya sebagai ayah yang tidak berguna ini." Sambung Arkan kini sudah terdengar nada kesedihan.
"Jangan berbicara seperti itu, seburuk apa pun keslahan kita di masa lalu. Tapi sekarang kau tetap ayah yang sedang berusaha membahgiakan anak-anaknya." Ucap Evelin dengan menyandarkan kepalanya di bahu Arkan.
Dan lagi, pembicaraan yang sering kali
berakhir mengungkit masa lalu.
**
Tak lama lagi Assena akan mulai kuliah, ia didaftarkan oleh ayahnya di Universitas ternama dengan mengambil jurusan bisnis. Karena Assena sudah di gadang-gadang sebagai penerus pemimpin di perusahaan ayahnya.
Sedang Jasmine pun masuk di Universitas yang sama, hanya saja ia mengambil fakultas kedokteran. Karena memang ayahnya juga adalah seorang dokter.
Dan kabar yang lebih membahagiakan adalah, sepupunya yang bernama Yumna anak dari paman Rey itu juga akan kuliah bersamanya.
Kabarnya beberapa hari lagi Yumna akan segera pindah ke kota ini.
**
Suara deru mesin mobil dibawah sana, mengalihkan perhatian Assena yang saat itu tengah duduk bersandar menatap langit dan mencari udara segar di balkon kamarnya.
Segera ia beranjak berdiri dan mengintip dari atas lantai dua itu dimana letak balkon kamarnya "Siapa yang datang? apa bi Nem dan pak Sur sudah kembali?".
Assena memang mendapat kabar bahwa bi Nem dan pak Sur telah pulang kampung.
"Tapi kenapa hanya satu hari saja, dan mereka sudah kembali." Ucap Assena sembari memperhatikan ke bawah sana.
Nampak Pak Sur dan bi Nem keluar dari mobil, juga ada seorang pemuda yang terlihat keluar dari mobil.
Karena Arkan selalu mengizinkan pak Sur dan bi Nem jika pulang kampung mengendarai salah satu mobil miliknya.
Dahi Assena mengkerut. "Siapa itu? aku baru melihatnya," gumamnya.
Karena gelap malam, hanya terkena pencahayaan lampu saja, membuat Assena tidak terlalu jelas untuk memperhatikan seseorang yang ia rasa asing itu.
__ADS_1
"Apa itu pegawai baru? ah entahlah." Ucapnya dengan mengangkat kedua bahu.
**
Pagi telah tiba, hari ini masih libur, Assena belum memulai aktivitas kuliahnya.
Seperti biasa di hari libur, Assena bangun terlambat. pukul 09.00 ia baru terbangun, lalu meminta bi Nem mengantarkan sarapan ke kamarnya.
Selesai mandi, Assena masih mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Tok tok tok, "Nona ini bibi bawakan sarapan" suara bi Nem terdengar di balik pintu.
"Masuk saja bi!".
Bi Nem sudah menaruh nampan yang berisi bebrapa keping roti, selai dan segelas susu hangat itu di meja.
Bi Nem tidak langsung pergi, ia masih berdiri. "Anu nona setelah sarapan tuan meminta nona untuk turun ke bawah."
Mendengar itu, sejenak Assena menghentikan pergerakannya yang sedang mengeringkan rambut dengan handuk itu. Tak lama lalu ia menganggukan kepala, "Baik bi".
"Bibi permisi dulu nona." Dan Bi Nem sudah menghilang di balik pintu.
"Ada apa ayah menyuruhku turun ke bawah?" gumamnya.
Lima belas menit setelah menghabiskan sarapan, Assena melangkah menuruni satu persatu anak tangga, dengan pertanyaan dan penasaran begitu mengisi penuh di kepalanya.
Sebelum sampai diruang tamu, Assena sempat mengintip terlebih dahulu.
Ia sudah bisa melihat Arkan dan Evelin tengah duduk. Dan terlihat seorang pemuda yang tidak ia kenal, terlihat mereka sedang mengobrol.
"Siapa orang itu? sepertinya orang yang ku lihat tadi malam." Gumamnya dengan arah pandang matanya lurus ke depan mengamati pemuda itu.
Setelah mengamati, Assena memberanikan diri untuk menampakan dirinya.
Suara langkah kakinya, membuat orang yang ada di ruangan itu serentak menoleh bersamaan.
"Selamat pagi sayang," sapa Arkan tersenyum.
"Duduklah!" ucap Evelin menepuk sofa, seraya menyuruh Assena untuk duduk di sampingnya.
Assena sudah mendudukan tubuhnya.
"Sayang apa kau masih ingat siapa dia?" ucap Arkan menunjuk pemuda itu.
Seketika Assena menoleh pada pemuda itu, dan juga pemuda itu sedang memandangnya. Mereka saling bertatap, senyuman hangat terukir dari bibir pemuda itu.
"Senyuman itu.... Dia? siapa dia?"
__ADS_1