
**
"Panasnya akan segera turun, jika obatnya segera di berikan. Istirahat yang cukup, dan kalau bisa untuk besok Assena tidak perlu memaksakan masuk sekolah. Untuk mempercepat penyembuhan." Jelas dokter Roghi panjang lebar menatap Arkan dan Evelin silih berganti, sembari memberikan resep obat.
Ya, mereka sekarang tengah berada di ruang kamar Assena.
"Tapi apa benar, ini hanya demam biasa??" Tanya Arkan masih dengan kekhawatirannya.
"Tenang saja tuan Arkan, putri anda hanya butuh istirahat yang cukup. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Jawab dokter Roghi tersenyum.
"Baiklah kalau begitu, terimakasih dokter." Senyum Arkan merasa lega.
Dokter Roghi sudah mengemas barang-barangnya. "Baiklah saya permisi pamit dulu".
"Silahkan, mari saya antar." Ucap Arkan.
Sebelum melangkah keluar, dokter Roghi menghampiri Assena yang tengah berbaring itu. "Cepat sembuh nona Assena, minum obatmu ya anak manis. Beristirahatlah!" Ucapnya tersenyum sembari mengacak-ngacak rambut Assena dengan lembut.
Assena hanya mengangguk, dengan sedikit tersenyum.
Seperti pada umumnya seorang dokter yang mencoba menyemangati pasiennya.
Mungkin karena sudah hampir tiga tahun dokter Roghi bekerja di keluarga Arkan, ia sudah terbiasa menangani anggota keluarga Arkan, tak terkecuali Assena. Membuat ia tak sungkan lagi untuk terlihat dekat.
**
"Ayo sesuap lagi sayang!". Ucap Evelin dengan menyodorkan sesendok bubur hangat.
Seusai kepergian dokter Roghi, Evelin meminta bi Nem membuat bubur untuk Assena.
"Aku sudah kenyang." Tolak Assena menggelengkan kepala.
"Kau baru saja makan tiga suap, kau harus makan banyak. Biar cepat sembuh". Bujuk Evelin.
"Kalau kau sembuh kau bisa segera mengunjungi makam ibumu lagi. Lihat sekarang karena kau sakit, kau tidak bisa pergi bukan? Ayo makanya harus banyak makannya supaya kau cepat sembuh sayang". Evelin tak mau menyerah.
Mendengar itu, Assena diam nampak berfikir. "Baiklah hanya satu suap lagi".
Evelin tersenyum seraya menyuapi. "Setelah ini minum obatmu".
**
"Apa sakit?" Ucap Petter terkejut.
"Iya, aku sangat khawatir sekali. Pulang sekolah nanti aku akan menjenguknya. Kau mau ikut tidak?" Tanya Jasmine.
Mereka tengah berada di kantin sekolah, di jam istirahat.
"Aku akan ikut menjenguknya." Ucap Petter dengan cepat. Ada kecemasan terlihat di wajahnya.
"Baiklah, aku tunggu di depan sekolah. Sekalian saja, kita pergi dengan motormu saja biar lebih cepat." Ucap Jasmine.
"Baiklah."
**
Kini Petter sedang melaju di jalanan dengan motor sportnya bersama Jasmine.
Mereka sempat membeli buah-buahan, untuk dibawakan ke rumah Assena.
__ADS_1
"Apa kau tahu dimana rumahnya? Kau tidak bertanya padaku." Tanya Jasmine mencondongkan wajahnya ke samping kepala Petter dengan sedikit berteriak, takutnya Petter tidak mendengarnya karena memakai helm dan karena suara bising kendaraan.
"Tentu saja aku tahu, aku tahu segalanya tentang Assena, tidak perlu bertanya kepadamu." Jawab Petter juga yang sedikit berteriak.
"Kenapa kau bisa tahu?" Tanya Jasmine lagi. Karena ia heran kenapa Petter bisa tahu. Setahunya hanya Jasmine teman Assena yang pernah mengunjungi rumah Assena. Terlebih lagi mengingat Petter dan Assena saling mengenal dekat itu belum lama.
Namun tidak terdengar lagi jawaban dari Petter.
Petter menghentikan motornya tepat di depan rumah Assena yang besar nan megah itu.
"Aku tidak salah bukan?" Ucap Petter membuka helm dan menoleh ke belakang.
"Aku heran kenapa kau bisa tahu?" Tanya Jasmine yang ternyata masih dengan keheran-heranannya itu.
"Rahasia!" Petter menjulurkan lidahnya.
"Kau pasti seorang penguntit, pasti kau sering menguntit Assena ya. Ayo mengaku!" Tuduh Jasmine dengan jari telunjuk menunjuk wajah Petter.
"Ah ternyata kau pintar juga." Jawab Petter asal.
"Apa? jadi kau benar penguntit?" Jasmine membulatkan kedua bola matanya dengan mulut terbuka, seolah ia sedang terkejut.
"Tidak, tidak. Aku hanya bercanda." Ucap Petter nyengir kuda dengan memperlihatkan deretan giginya.
Baru saja jasmine akan menimpal lagi, dengan cepat Petter menyela. "Sudah, sudah. Kau mau masuk atau tetap di sini?".
Seperti tersadar, Jasmine melirik ke arah sekitar, bahwa memang benar dia sudah ada di depan rumah Assena.
Jasmine berdecak sebal, lalu turun dari motor berjalan menghampiri pos security yang ada di samping depan gerbang.
"Permisi pak!"
"Saya teman sekolahnya Assena, saya mau menjenguk Assena" Ucap Jasmine.
"Sebentar!" Ucap security itu seraya memegang gagang telepon lalu menekan-nekan tombol nomor, hendak menghubungi orang dalam rumah.
Terdengar percakapannya dengan seseorang.
Tidak lama, sudah terlihat meletakan gagang telepon itu pada tempatnya.
"Baiklah nona, Silahkan masuk!" Security menekan tombol dan langsung gerbang terbuka secara otomatis.
Jasmine melangkah masuk, di susul Petter dengan motornya melaju pelan.
Sampai di depan pintu, Jasmine menekan tombol di samping pintu itu. Sedang Petter di belakangnya seraya pandangannya menyapu sekitar.
Ting tong, begitulah bunyinya.
"Rumahnya besar ya!" Ucap Petter masih menatap sekitar.
Sebelum Jasmine menjawab, pintu sudah terbuka.
Nampak wanita paru baya berdiri di depan mereka, itu bi Nem.
"Temannya nona Assena ya?" Tanya bi Nem.
"Iya kami temannya Assena, kami datang menjenguknya." Jawab Jasmine tersenyum.
Petter pun ikut tersenyum kala pandangan mata bi Nem mengarah padanya.
__ADS_1
"Ayo silahkan masuk dulu!" Titah bi Nem, seraya melangkah masuk terlebih dahulu.
Jasmine dan Petter tengah duduk di ruang tamu.
"Eh nak Jasmine!" Terdengar suara Evelin yang melangkah mendekat.
Jasmine dan Petter menoleh bersamaan.
Jasmine berdiri dan tersenyum. "Apa kabar bibi?" Seraya mencium punggung tangan Evelin yang kini sudah di depan mereka.
"Bibi baik-baik saja, apa kabar nak Jasmine?" Ucap Evelin tersenyum. "Ini siapa?" Tanyanya saat ia melihat Petter.
Petter ikut mengalami, dan mencium punggung tangan Evelin. "Saya Petter bibi, teman sekolah Assena" jawab Petter tersenyum.
"Oh, pasti kalian mau menjenguk Assena." Ucap Evelin.
"Iya bibi, Jasmine mendengar kabar bahwa Assena tidak masuk sekolah karena sakit". Ucap Jasmine.
"Silahkan!" Ucap bi Nem yang sudah meletakan tiga gelas minuman di atas meja.
"Terimakasih." Ucap Petter dan Jasmine bersamaan.
"Ya sudah, ayo bibi antar ke kamar Assena!" Evelin beranjak berdiri dan melangkah mendahului.
Petter dan Jasmine mengikuti dari belakang.
Tok tok tok, Evelin terlebih dahulu mengetuk pintu. "Sayang ini ada teman sekolahmu datang untuk menjengukmu".
Belum terdengar jawaban, Evelin sudah membuka pintu.
Assena tengah berbaring, dan menoleh seketika ke arah pintu yang sudah terbuka itu.
"Jasmine!" Ucapnya dengan suara pelan.
Saat orang yang ada di belakang kini sudah terlihat menampakan diri untuk langsung melihat keadaan Assena.
"Petter juga??" Ucapnya kini dengan dahi mengkerut, ia tidak menyangka bahwa Petter juga akan ikut menjenguknya.
"Ya sudah, bibi tinggal ya. Silahkan kalian mengobrol!" Pamit Evelin.
Saat Evelin sudah pergi, Jasmine tidak sungkan-sungkan, "Assena!!" Ia berhambur memeluk.
"Kau sakit apa Assena?" Tanya Jasmine yang kini duduk di tepi ranjang.
"Aku hanya demam saja." Jawab Assena tersenyum. Lalu mengubah posisinya menjadi duduk bersandar dan menatap Petter yang masih berdiri.
Petter yang sedari tadi menatap lekat Assena "Ini kami membawakan buah untukmu" Ucap Petter tersenyum sembari melangkah mendekat.
"Terima kasih kalian sudah mau menjengukku." Ucap Assena tersenyum menatap Jasmine, dan lalu ke arah Petter.
"Aku sangat mengkhawatirkanmu, kapan kau akan masuk sekolah? Aku kesepian duduk di kelas sendiri tanpamu." Ucap Jasmine dengan nada sedih.
"Lusa aku akan kembali masuk, tak perlu khawatir aku baik-baik saja. Aku sudah merasa baikan." Ucap Assena tersenyum seraya mengusap punggung tangan Jasmine yang sedari tadi mengganggam tangannya.
"Cepatlah sembuh Assena! Tidak menyenangkan jika tidak ada dirimu di sekolah, hanya berdua dengan Jasmine itu membosankan." ucap Petter yang kini mendapat tatapan tajam dari Jasmine
"Apa yang kau katakan, dasar kau..." Geram Jasmine masih menatap tajam, ia mulai berdiri dan berkacak pinggang seoalah ia siap menerkam Petter.
Sudah diduga akan seperti itu.
__ADS_1