Seberkas Cahaya

Seberkas Cahaya
Bukan penggemar


__ADS_3

**


Assena sudah berada di kelas, ia duduk sendiri. Karena Jasmine belum datang.


"Kenapa Jasmine belum datang juga" gumamnya sesekali melirik ke arah pintu, berharap Jasmine itu segera muncul.


"Hah pantas saja ini masih pagi" ucapnya usai melirik jam ditangannya yang berwarna putih itu.


Hanya terlihat beberapa murid saja yang sudah datang.


Kemudian seolah teringat sesuatu, Assena membuka tas nya dan mengambil ponsel yang ada di dalamnya. Ia menatap benda itu, lalu menghidupkannya.


"Apa aku datang sepagi ini ya? lalu Alvin? dia juga datang sepagi ini? kenapa bisa kebetulan sekali" gumamnya lagi masih menatap ponselnya yang sudah menyala.


Tapi seolah tidak berniat memainkan ponselnya, ia meletakkannya diatas meja.


Ia bingung hendak melakukan apa, bosan sekali menunggu Jasmine.


"Ah iya kenapa aku tidak menghubunginya saja" seraya mengambil kembali ponselnya itu.


Assena: Kau dimana? aku sudah berada di kelas.


Jasmine: Yang benar saja ini masih pagi. Aku masih diperjalanan.


Assena: Ya itu dia, aku datang terlalu pagi.


Jasmine: Ngomong-ngomong kau menghubungiku pakai nomor ponsel yang sudah hilang itu bukan? kenapa bisa?


Assena: Aku akan menceritakannya setelah kau sampai nanti.


Jasmine: Baiklah, sampai nanti di sekolah. Bye..


**


Lima belas menit kemudian, nampak Jasmine sudah berdiri diambang pintu. Lalu memperhatikan Assena tertidur dengan berbantalkan tangannya yang bersedekap diatas meja.


"Apa dia benar-benar tertidur?" Jasmine berjalan menghampiri.


Di guncangnya bahu Assena dengan pelan, "hey bangun, Assena".


Nampak Assena mengangkat kepalanya dengan malas, menatap Jasmine dengan mata yang masih berat. Hoaam dia menguap, lalu mengucek-ngucek kedua matanya.


Masih mencoba mengumpulkan kesadaran ternyata.


"Dimana ini? kenapa kau juga ada di sini" ucap Assena bergumam masih sesekali menguap.


"Hey, ini di kelas, kau ini ya, baru tertidur sebentar saja sudah hilang ingatan"


Assena nampak melihat ke sekeliling, ternyata benar ia berada di kelas.


"Ah iya aku baru ingat" ucap Assena.


"Astaga" teriak Jasmine setengah menggebrak meja, dengan mata membulat dan mulutnya sedikit terbuka.

__ADS_1


Assena terkejut, "ada apa?" tanyanya dengan cepat.


"Aku lupa memelukmu, aaah aku merindukanmu" ucap Jasmine seraya berhambur memeluk.


"Kau ini mengaggetkan saja, ku kira ada apa" Assena berdecak sebal, tapi tak urung membuat ia tersenyum juga.


"Aku senang kau sudah sembuh" ujar Jasmine melepas pelukannya.


"Eh, bagaimana ceritanya ponselmu bisa kembali padamu?" tanya Jasmine.


Lalu Assena menceritakan saat ia bertemu Alvin tadi.


"Oh" bentuk bibir Jasmine membentuk hurup O.


**


"Ayo kita makan disini saja" ucap Jasmine seraya mendudukan tubuhnya


di bangku taman.


Assena dan Jasmine berada di taman pada jam istirahat. Mereka sengaja tidak pergi ke kantin, karena Jasmine membawa bekal yang banyak untuk berbagi dengan Assena.


Mereka pun makan bersama, dengan di selingi canda tawa. Sampai bekal makanan itu habis.


Saat mereka masih duduk di bangku taman. Terdengar ada kegaduhan dari kejauhan.


Assena dan Jasmine sontak menoleh ke arah suara gaduh itu berasal.


Hey apa itu tadi? sapu?


"Sedang apa mereka itu?" ucap Jasmine masih memperhatikan.


"Hey itukan Petter" sambungnya lagi sembari menunjuk.


Seketika Assena, memperhatikan dengan jeli untuk memastikan.


"Sedang apa dia di sana?" kata Assena membenarkan bahwa yang ia lihat itu adalah Petter.


Seketika terdengar tawa dari Jasmine. "Astaga dia sedang di kejar-kejar murid perempuan" ucapnya, sembari terus memperhatikan, lalu kembali lagi tertawa.


"Jangan lari bocah nakal"


"Jangan lepaskan si pembuat onar itu"


"Awas kau Petter, kembali kemari"


Itu lah teriakan murid perempuan yang terdengar.


Hah, bahkan bukan penggemar yang mengejar Petter. Malah segerombol murid perempuan pembawa sapu.


"Pasti dia membuat ulah lagi, haha dia itu konyol sekali" pecah lagi tawa Jasmine. Sungguh begitu lucu bagi Jasmine melihat pemandangan seperti itu.


Assena malah geleng-geleng kepala menyaksikannya.

__ADS_1


kini nampak Petter berlari ke arah Assena dan Jasmine, ternyata dia berhasil lolos dari kejaran para murid perempuan itu.


Dengan cepat Petter menjatuhkan tubuhnya diatas bangku dan terduduk. keringat bercucuran diwajahnya, terdengar juga napasnya yang masih memburu.


Seperti biasa, Petter selalu terlihat berantakan, dengan rambut acak-acakan, seragam kusut dan dasi yang sudah tidak berbentuk.


Jasmine dan Assena hanya diam menatap seperti terksima.


"Air... Air.." lirih Petter.


"Hah apa? kau mau minum?" tanya Jasmine.


Dengan cepat Jasmine menyodorkan sebotol air mineral yang terlihat berisi setengah lagi, karena sisa dirinya minum tadi.


Petter langsung meneguknya sampai habis tak bersisa.


"Apa yang terjadi? kenapa mereka bisa mengejarmu?" tanya Jasmine, sebenarnya ia tahu alasannya. Tapi ia hanya berpura-pura tidak tahu.


"Apanya? siapa yang kau maksud?" Petter malah balik bertanya.


"Bukannya kau di kejar-kejar murid perempuan, aku melihatnya" ujar Jasmine.


"Oh itu, mereka hanya penggemarku saja" ucap Petter.


"Aku ragu kau memiliki penggemar, yang ku tahu mereka pasti segerombol orang-orang yang sedang murka terhadapmu" ucap Jasmine yang langsung tertawa.


Petter yang mendengar itu juga ikut tertawa. "Hanya bermain-main saja, hanya menyembunyikan tas mereka diatas pohon. Apa yang salah?? mereka langsung mengejarku dan berteriak-teriak dengan membawa sapu pula".


Bugh, Jasmine langsung memukul bahu Petter "Astaga kau jahil sekali, aku tidak bisa berhenti tertawa".


"Aku juga akan melakukan hal yang sama jika kau melakukan itu padaku" ucap Jasmine di sela tawanya.


Diantara mereka bertiga hanya Assena yang tak ikut tertawa, dia hanya geleng-geleng melihat kedua temannya itu.


**


Suara bell sudah terdengar tanda waktu istirahat telah usai.


"Ayo kita masuk ke kelas" ajak Assena yang sudah berdiri dan melangkah.


Jasmine ikut berdiri dan mengikuti langkah Assena, lalu ia menoleh ke belakang.


"Kenapa kau masih diam?" tanya Jasmine pada Petter yang masih duduk dibangku.


Itu juga membuat Assena menghentikan langkahnya dan ikut menoleh.


"Ah malas sekali rasanya kembali ke kelas, pasti mereka sedang menungguku untuk menyerangku" keluh Petter.


Ia pun terpaksa bangun dan ikut melangkah.


"Kenapa kau jadi penakut seperti ini?" ledek Jasmine.


Mereka pun berjalan beriringan, sampai dimana Petter harus berbelok arah karena kelasnya berbeda dengan Assena dan Jamine.

__ADS_1


__ADS_2