Seberkas Cahaya

Seberkas Cahaya
Apa bedanya?


__ADS_3

"Apa?? sial.. Ternyata Petter begitu berpengaruh sekali. Lagi pula apa bagusnya bocah nakal itu dibanding diriku yang tampan dengan sejuta pesona ini." Alvin membatin seraya menahan kesal.


"Besok aku akan menghubungimu, tulis nomor ponselmu di sini!" Alvin menyodorkan ponsel miliknya kepada Assena.


"Apa? tidak mau." Timpal Assena dengan cepat. Rasanya ia enggan harus berbagi nomor ponsel dengan Alvin.


"Lalu bagaimana aku bisa menghubungimu nanti?" Alvin tidak menyerah.


"Baiklah, kemarikan!" Assena menyaut ponsel milik Alvin itu dengan kasar.


Seketika senyum Alvin mengembang, senangnya bukan main ia bisa mendapatkan nomor dari gadis incarannya.


"Altur tulis nomor ponselmu di sini!" Assena menyodorkan ponsel milik Alvin itu kepada Altur.


"Kenapa jadi saya nona?" Ucap Altur bingung.


Seketika itu senyum Alvin yang sempat mengembang kini memudar. "Kenapa dia? aku meminta nomor ponselmu." Protes Alvin, ia mengerutkan kedua alisnya menunjukan ketidak setujuan.


"Apa bedanya? kau bilang untuk menghubungiku bukan? karena besok dia akan menemaniku." Assena bersikukuh.


Jujur kini Alvin sudah merasa kesal sekali, ia menatap tajam Altur yang kini sedang memegang ponsel miliknya. Berharap laki-laki itu tidak menuruti perintah Assena.


Altur yang mendapat tatapan tajam dari Alvin, sama sekali tidak membuatnya takut. Ia hanya takut kepada Assena. Secara gadis itu adalah anak majikannya, yang perintahnya harus di patuhi bukan?


"Cepat tulis saja Altur!" perintah Assena kepada Altur.


Altur yang masih bingung, mulai untuk mengetikkan nomor ponselnya pada layar ponsel milik Alvin dengan sedikit ragu, sesekali ia mengangkat pandangannya untuk melirik Assena lalu melirik Alvin secara bergantian.


"Sudah.." Lalu Altur menyodorkan ponsel itu kepada Alvin.


Alvin mengambilnya dengan kasar, ia sudah membuka mulut hendak mengatakan sesuatu.


"Alvin.." Terdengar suara Iretta memanggilnya.


Alvin pun mengurungkan niatnya. "Baiklah aku harus pulang. Sampai ketemu besok!" Altur berbalik badan dan melangkah sembari mengankat sebelah tangannya ke udara.


Altur yang mendengarkan percakapan singkat antara Alvin dan Assena yang menyebut-nyebut nama Petter.


Altur pun bertanya-tanya mengenai siapa Petter, karena dari yang ia dengar ia bisa menyimpulkan bahwa sesorang yang bernama Petter itu adalah sosok yang berpengaruh bagi Assena. Bagaimana tidak, setelah Alvin menyebut nama Petter, Assena langsung bersedia untuk menemui Alvin.

__ADS_1


"Siapa Petter itu? ada hubungan apa dengan Assena?" batin Altur. Apa dia harus menanyakannya langsung? apa itu tidak apa? begitu pemikirannya.


"Rupanya kau di sana.." Suara Yumna terdengar dari balkon kamar Assena.


Seketika membuat Assena dan Altur mengangkat pandangan mereka ke arah balkon. Juga yang membuat Altur melupakan niatnya untuk menanyakan perihal Petter pada Assena.


Terlihat di balkon itu Yumna berdiri masih mengenakan piyama tidurnya.


"Kau sudah bangun?" tanya Assena.


"Hem" Yumna sembari mendekatkan cangkir ke mulut, lalu menyesapnya.


"Hey bukankah itu minuman coklat panas milikku" Kini Assena berdiri, memperhatikan cangkir yang ada di tangan Yumna.


"Benarkah? tapi ini tidak terasa panas sekali. Lebih tarasa dingin.." Yumna sembari menangkupkan kedua telapak tangannya ke cangkir itu, merasakan bahwa isi dalam cangkir itu tidaklah panas sama sekali.


Assena mencebik sebal. Ya, secangkir coklat panasnya tadi ia tinggalkan, hingga tidak heran jika sudah terasa dingin.


---


"Rey bagaimana keadaan perusahaan?" tanya Arkan pada Rey.


Sore ini Rey sengaja datang untuk melaporkan ke adaan perusaan dan sekalian untuk melihat keadaan kakaknya itu. Juga sekalian sembari menjemput Yumna.


Rey yang baru saja mendudukan tubuhnya di sofa yang ada di dalam ruang kerja Arkan. Ia melirik Arkan dan terdengar hembusan napas beratnya. "Keadaannya tidak begitu baik.. Beberapa petinggi di perusahanmu telah melakukan kecurangan dengan menggelapkan dana perusahaan dengan jumlah yang sangat besar." Rey memberi jeda, lalu menyandarkan kepalanya ke belakang sofa.


"Mereka menggunakan kesempatan saat kau jatuh sakit, mereka pikir dengan kau tidak memimpin perusahaan lagi mereka bisa melakukan kecurangan dengan mulus.... Tapi tenang aku sudah mengatasinya.." Sambung Rey.


Memang setelah Arkan jatuh sakit, Rey lah yang di tugaskan untuk menggantikan kepemimpinan di perusahaan, sebelum menunggu Assena lulus dari kuliah sebagai calon penerus pemimpin perusahaan.


Arkan menghembuskan napas lega, ia tidak salah jika memilih Rey untuk menggantikannya untuk sementara.


"Kau memang bisa ku andalkan. Terima kasih atas kerja kerasmu." Ucap Arkan.


***


Malam ini Altur sudah bersiap untuk menemui Jessy. Sesuai dengan perintah Assena, ia membawa mobil yang biasa ia bawa ke kampus.


Jessy telah memberitahunya lewat pesan singkat bahwa ia akan menunggu di sebuat cafe.

__ADS_1


Setelah berpamitan pada ayah dan ibunya, ia melesatkan mobil yang ia kendarai menuju tempat pertemuannya dengan Jessy.


Tiga puluh menit lamanya, mobil yang Altur bawa baru saja tiba di depan sebuah cafe. Ia memarkirkannya berjajar dengan pelanggan lain.


Langkah kaki Altur membawanya masuk ke dalam cafe, dengan pandangannya menyapu mencari sosok Jessy.


Di sudut sana ia bisa menangkap gadis cantik itu, terlihat Jessy pun melambaikan tangannya ke atas seraya tersenyum.


Altur pun membawa langkah kakinya yang panjang untuk menghampiri Jessy.


"Sudah lama menunggu?" tanya Altur setelah mendudukan tubuhnya duduk behadapan dengan Jessy.


Jessy menggelengkan kepala, "Tidak, aku baru saja sampai." Ucap Jessy.


Mereka pun memesan makanan dan minuman. Mereka menikmatinya dengan saling diam, Altur hanya sesekali melirik Jessy dan tersenyum. Dan Jessy hanya membalas dengan senyum.


Altur diam-diam memperhatikan Jessy, gadis itu memakai dress selutut berwarna crem. Tidak dapat di pungkiri gadis itu terlihat begitu cantik.


"Apa kakakmu mengizinkanmu keluar bertemu denganku?" tanya Altur sesaat setelah selasai makan.


Jessy hanya mengangguk saja, sesekali ia menatap layar ponsel miliknya. Jessy sudah merasa gelisah, entah apa penyebabnya tapi Altur tidak menyadari itu.


"Sepertinya malam ini sudah cukup, aku mau pulang." Ucap Jessy seraya berdiri.


"Baiklah, aku akan mengantarmu." Altur ikut berdiri.


"Tidak usah, aku tidak mau merepotkanmu. Aku bisa pulang sendiri dengan naik taksi." Jessy menolak.


"Tidak apa-apa, ini sudah malam. Lebih baik aku mengantarmu." Altur berucap sedikit memaksa. Karena bagaimana pun Jessy seorang perempuan, ia takut terjadi apa-apa jika gadis itu pulang sendiri. Lagi pula ini bentuk dari rasa tanggung jawabnya, mengingat gadis itu sengaja datang bertemu dengannya. Maka sudah sewajarnya Altur mengantarnya pulang untuk memastikan gadis itu sampai ke rumahnya dengan aman.


Beberapa kali Jessy sempat menolak, tapi pada akhirnya ia akan pulang diantar oleh Altur.


Mereka sudah berada di dalam mobil. Baru saja setengah perjalan, tiba-tiba mobil berhenti di tengah jalan. Dan ternyata mobilnya mogok.


"Kenapa berhenti?" tanya Jessy.


"Sepertinya mobilnya mogok. Tunggulah di sini aku akan memeriksanya." Altur turun dari mobil dan memeriksa bagian mesin mobil.


Jessy bergidik ngeri, saat ia menyadari ternyata mobil yang ia tumpangi itu mogok di tempat yang sepi.

__ADS_1


__ADS_2