Seberkas Cahaya

Seberkas Cahaya
Setitik kabar


__ADS_3

Makan malam bersama menjadi penutup acara kebersamaan hari ini, dimana di acara ulang tahunnya Assena.


Banyaknya menu hidangan yang tersaji di atas meja, semua itu hasil masakan bi Nem, Evelin dan Lusi ikut turun tangan menyediakan semuanya. Juga Assena dan Yumna ikut membantu. Bukan, tepatnya dua gadis itu hanya merecoki saja.


Semua berkumpul, menyantap hidangan bersama-sama. Tak terkecuali bi Nem, pak Sur dan Altur pun ikut bergabung. Meski awalnya satu keluarga itu sempat menolak karena merasa tidak enak jika harus bergabung dengan para majikan. Namun sebab paksaan dari Arkan dan Evelin membuat mereka menurut saja. Mereka bukan hanya sekedar para pekerja, namun sudah di anggap seperti keluarga.


Obrolan hangat dan candaan menemani kebersamaan malam ini. Begitu juga dengan Assena, senyumnya tak pernah memudar untuk sepanjang hari ini.


--


Selesai acara malan malam bersama, Rey sekeluarga sudah pamit pulang. Jasmine pun juga telah pulang.


Kini Assena terduduk di atas tempat tidur, dengan beberapa kado di depannya. Beberapa sudah ia buka, di tangannya sudah terdapat kado yang berbentuk kotak berwarna biru tua yang Jasmine berikan, yang masih menjadi misteri siapa pemberi kado tersebut.


Perlahan ia merobek lapisan kertas kado berwarna biru tua itu. Dan terlihat lah warna asli dari benda berbentuk kotak itu ialah berwarna putih.


Tangan Assena pun membuka tutup kotak tersebut, isinya hanya gelang kayu ukir juga lipatan kertas.


Assena mengeluarkan gelang ukir itu dan lipatan kertas itu. Terdapat namanya dalam ukiran gelang itu. Lalu ia membuka lipatan kertasnya.


*Hai apa kabar?


Jika kau bertanya siapa aku, kau akan tahu jika kau masih mengingatku😊


Oh iya, selamat ulang tahun Assena.


Jangan tanya kenapa aku bisa tahu hari ulang tahunmu, karena aku tahu segalanya tentang dirimu.


Jika masih bertanya, kenapa aku bisa tahu segalanya tentangmu. Karena itu hanya aku dan tuhan yang tahu😁😁


Apa kau masih setia menungguku*?


Begitulah isi dari secarik kertas itu.


"Petter.. Mungkinkah ini darinya." Lirihnya kemudian bibirnya melengkung membentuk senyuman.


Meski dari kado itu tidak tertulis nama pengirimnya, entah mengapa ia percaya jika itu dari Petter. Lelaki yang masih ia tunggu sampai saat ini.


Nampak Assena memperhatikan gelang ukir itu, senyumnya terus terlukis di bibir mungilnya. Kemudian mendekapnya dalam gengamannya, seolah tidak mau kehilangan benda tersebut.


jika di lihat, itu adalah barang yang jauh dari kata mewah nan mahal. Hanya benda kecil biada saja, namun itu seperti hadiah paling istimewa bagi Assena.


Di hari ulang tahunnya ini, adalah hari yang membahgiakan. Kebahagiaan yang ia dapatkan begitu bertubi-tubi. Di kelilingi orang-orang yang menyayanginya, juga kini ia mendapat setitik kabar tentang cinta pertamanya yang telah pergi menghilang itu.


"Kenapa ia memberikannya melalu Jasmine? apa Jasmine bertemu dengan Petter? aku akan menanyakannya." Batinnya.

__ADS_1


Seolah teringat sesuatu, Assena beranjak turun dari ranjang, dan mendekat ke lemari pakaiannya. Di buka pintu lemari, di sudut paling atas ia berjingjit mengambil sesuatu. Ternyata sebuah mantel yang ia raih, ia tersenyum lagi saat mendekap mantel itu.


Mantel itu ialah milik Petter yang di berikan padanya saat ia kedinginan di acara ulang tahun Alvin dulu. Dan sampai saat ini Assena belum sempat mengembalikannya, dan masih ia simpan. Seolah mengingatkan kembali tentang sosok Petter dan segala kenangan bersamanya.


Assena yang semakin terbuai dalam lamunan mengingat yang telah terjadi. Tak jarang senyuman ikut terlukis di bibirnya.


**


Cahaya mentari sudah menyinari buminya, yang menghangatkan sisa dinginnya malam.


Kicauan burung kesayangan Arkan pun sudah terdengar, seakan ikut menyambut pagi yang cerah ini.


Cahaya mentari masuk ke ruang kamar Assena, melalu gorden yang telah di buka.


Ya, hari ini Assena bangun terlambat, mungkin seharian setelah merayakan hari ulang tahunnya membuatnya kelelahan. Hingga terangnya cahaya mentari tak membuat ia bangun dari tidurnya.


--


Assena terlihat menggeliat, meregangkan otot-ototnya. Ia melirik jam dinding dengan malas.


"Astaga.." pekiknya.


Ini sudah pukul 09.20, ia yang biasa bangun pukul 08.00 pun kaget bukan main. Karena ini bukan hari libur, ia harus kuliah tentunya.


Terburu-buru ia pergi ke kamar mandi. Setelah selesai bersiap-siap, ia tidak lupa untuk memakai gelang barunya.


"Selamat pagi semuanya.." Assena menyempatkan diri menyapa saat melewati ruang tengah.


"Pagi sayang, kau sudah mau pergi kuliah?" tanya Evelin.


Assena mengangguk.


"Sudah sarapan?"


"Nanti di kampus saja, aku sudah telat."


"Kau ini, baiklah hati-hati.."


"Aku berangkat," pamitnya.


Assena membawa langkah kakinya melewati pintu depan rumah.


"Ayo!" ajaknya, saat melihat Altur sudah menunggu dengan berdiri bersandar di bagian samping mobil.


"Tumben telat.." Altur berkomentar.

__ADS_1


Namun sambil berjalan ke arah mobil, Assena hanya melempar senyum.


Altur melihat ada yang berbeda dari penampilan Assena, ia menelisik gadis itu dengan lekat.


Terlihat gadis cantik itu memakai baju lengan pendek, yang memperlihatkan kulit lengannya yang putih mulus.


Saat sudah di dalam mobil pun, Altur masih mencuri pandang.


Sesuatu yang menjadi pusat perhatiannya, ia bisa melihat gelang yang melingkar di pergelangan tangan Assena yang berkulit putih mulus itu. Altur baru melihat Assena memakai gelang itu.


"Gelang yang bagus" Altur membuka percakapan.


"Ah kau melihatnya juga." Assena tersenyum malu, sambil melirik gelang ukir itu dan memberi usapan di sana.


"Tentu saja, mataku tidak buta." Timpal Altur terkekeh.


"Apa ini cocok untukku?" tanya Assena dengan sedikit rasa malu.


"Cocok sekali. Dimana kau mendapatkannya?" Altur yang menyempatkan melirik tangan Assena, sebelum kemudian memfokuskan kembali arah pandangnya ke depan.


"Emm.. Ini pemberian seseorang" Ucap Assena sembari tersenyum terus memperhatiakan gelang ukir yang melingkar sempurna di tangannya itu.


Seketika Altur terdiam, mencoba mencerna kata yang ia dengar. Ada rasa cemburu di hatinya. Ia menerka-nerka, mungkinkah itu pemberian dari seseorang yang pernah Assena ceritakan padanya.


"Apa itu dari seseorang yang pernah kau ceriatakan dulu?" Altur menyuarakan seperti apa yang ia duga.


"Ah ternyata ingatanmu masih bagus, kau masih mengingatnya. Ya, kau benar sekali. Ini darinya."


Altur bisa menangkap ekspresi bahagia di wajah Assena, saat gadis itu mengungkit tentang seseorang itu.


"Tentu saja, aku masih mengingatnya." Jawab Altur.


"Aku ingin tahu, seperti apa lelaki yang berhasil menaklukan hatinya." Batin Altur.


Setelah itu hening mengambil alih, tidak ada percakapan lagi hingga mobil memasuki area kampus.


--


Sepulang kuliah, Assena telah membuat janji dengan Jasmine dan Yumna untuk mempir ke cafe langganan mereka.


Di meja bundar dengan empat kursi itu, telah duduk Assena, Altur, Yumna dan Jasmine. Seperti biasa saat berkumpul seperti ini, obrolan dan candaan ikut meramaikan.


"Aku mau ke toilet." Pamit Assena bangkit berdiri dan melangkah pergi.


"Aku juga mau ke toilet." Jasmine ikut pamit untuk menyusul Assena.

__ADS_1


"Tunggu!" dari belakang Jasmine yang sedang berjalan cepat menyusul Assena.


__ADS_2