
Assena sudah berada di kantin. Senyumnya mengembang saat melihat Yumna dan Jasmine duduk di meja kantin. Terlihat mereka duduk saling berhadapan sedang berbincang-bincang dengan serius.
Assena dengan semangat membawa langkah kakinya untuk menghampiri kedua sahabatnya itu.
"Hai.." Sapa Assena tersenyum sembari mendudukan tubuhnya di samping Yumna.
Altur yang sedari tadi membuntuti pun ikut mendudukan tubuhnya di samping Jasmine.
Tapi reaksi Jasmine dan Yumna malah seperti terkejut, keduanya malah saling melempar pandang.
"Tumben kalian datang terlebih dahulu, dan tidak mengabariku pula." Assena mulai merasa ada yang aneh, karena kedua sahabatnya ini terlihat tidak senang dengan kedatangannya.
"Aku lupa mengabarimu," timpal Yumna dengan memaksakan senyumnya.
"Aku baru saja mau menghubungimu. Ini.." Jasmine ikut menimpal dengan nyengir kuda memperlihatkan deretan giginya. Sembari memperlihatkan ponsel yang ada di tangannya, seolah ia memang hendak menghubungi Assena.
Assena mengawasi ekspresi keduanya dengan meliriknya silih berganti. Rasanya ada yang aneh.
"Emm.. Aku lupa ada tugas, aku harus segera pergi." Yumna langsung berdiri untuk pamit pergi.
"Aku juga, aku punya tugas. Maaf Assena aku tinggal dulu." Jasmine ikut pergi menyusul Yumna.
Assena mengerutkan kedua alisnya, menatap gerak tubuh Yumna dan Jasmine yang telah menjauh.
"Kenapa mereka menjadi aneh. Aku rasa hari ini semua orang begitu menyebalkan." Gerutu Assena.
"Iya mereka itu sangat aneh." Timpal Altur.
"Kau juga sama saja." Assena mendelik sebal.
Seketika Altur membungkam, itu lebih aman pikirnya.
"Apa sudah tidak ada yang mengingat hari ini hari apa?" batin Assena rasanya ia ingin menangis.
--
Hari ini dilewati dengan wajah di tekuk tanpa senyum dan semangat.
Kini ia sudah berada di dalam mobil, hanya bersandar lemas dengan menatap kosong ke luar jalanan. Rasanya Assena ingin cepat pulang saja, dan rebahan di atas tempat tidur itu lebih baik. Karena setelah di tempat parkir tadi Assena mendapat penolakan saat mengajak Yumna dan Jasmine untuk sekedar pergi ke cafe langganan mereka.
__ADS_1
Assena menghembuskan napas beratnya, lalu memejamkan mata. Tiba-tiba di rasa mobil telah berhenti.
Seketika ia membuka mata dan melirik Altur, "Ada apa?"
"Sepertinya mogok."
"Apa?" Assena sedikit terkejut, karena baru kali ini harus mengalami mobil mogok seperti ini.
"Aku akan memeriksanya." Altur turun dari mobil, hendak memeriksa bagian mesin mobil.
Altur membuka penutup kap mesin mobil. Ia melirik Assena, terlihat gadis itu masih duduk bersandar.
Karena kenyataannya Altur yang berada di balik penutup kap mesin mobil hanya berdiri diam tanpa melakukan pemeriksaan apa-apa. Ia bersantai saja sembari mengotak-ngatik layar ponselnya, dan Assena tidak akan melihatnya karena terhalang penutup kap mesin mobil.
Fifteen minutes passed..
"Apa masih lama?" teriak Assena dengan kepalanya terlihat muncul dari jendela mobil.
Seketika Altur yang sedang bersantai terlonjak kaget, cepat-cepat ia menampakan wajahnya ke arah sisi penutup kap agar Assena bisa melihat dirinya.
"Sebentar lagi..." Timpal Altur, lalu kembali menyembunyikan dirinya di balik penutup kap. Yang sebenarnya sedari tadi tidak melakukan apa-apa.
Ten minutes passed..
Menyadari Assena akan menghampirinya, dengan cepat Altur menutup kap mesin mobil itu. "Sudah selesai.." Ucapnya seraya melempar senyum melihat Assena yang berdiri di samping mobil dengan terlihat kerutan di kedua alisnya.
Saat mendapati Assena diam memantung, "Kau tidak mau pulang?" tanya Altur, tangannya sudah meraih pintu mobil.
Tanpa menjawab, Assena berjalan menghampiri pintu mobil. Rasa-rasanya hari ini begitu aneh baginya.
Mobil sudah kembali melaju melanjutkan perjalanan pulang yang tertunda.
"Cepatlah sedikit! aku sudah lelah ingin istirahat." Titah Assena saat ia mendapati mobil melaju dengan pelan.
"Maaf nona, gigiku masih sakit. Aku tidak bisa berkonsentrasi menyetir. Jadi lebih baik pelan-pelan saja untuk keselamatan." Timpal Altur dengan arah pandangnya masih lurus ke depan jalan.
Assena mendengus sebal, "Lagi-lagi sakit gigi di jadikan alasan." lirihnya.
Namun Altur masih bisa mendengarnya, kini dalam hatinya ia ingin tertawa.
__ADS_1
Harusnya sejam yang lalu Assena sudah sampai di rumah, jika tidak ada kejadian mobil mogok dan drama sakit gigi yang menyebabkan mobil melaju pelan seperti keong.
Assena semakin merasa kesal, setiap kali ada mobil yang berhasil menyalip dengan cepat. Rasanya ia ingin berangan-angan, andai saja jika dia lah yang ada di dalam mobil yang melaju dengan cepat, seperti banyaknya mobil yang telah menyalip dengan cepat, mungkin saat ini dia sudah rebahan di kasur empuk miliknya. Namun kenyataannya begitu menyebalkan, ia masih duduk di sebelah Altur dengan laju yang masih sama.
Setengah jam, baru lah sampai. Mobil baru saja terparkir di halaman rumah.
Assena turun dari mobil, ia heran karena tidak mendapati mobil satu pun yang terparkir selain mobil yang ia tumpangi.
"Sepertinya tuan dan nyonya sedang tidak ada di rumah, karena mobilnya tidak ada." Ucap Altur.
Assena hanya menghembuskan napas lelah, karena dugaannya hampir sama dengan apa yang di katakan Altur.
Dengan langkah gontai ia berjalan menuju pintu depan rumah. Ia memutar handle pintu, dan pintu terbuka. Ia melangkah masuk langsung di ruang tamu, suasana begitu sepi dan gelap. Tidak biasanya gelap seperti ini, apa lagi ini masih siang. Saat di sadari, ternyata semua gorden kaca jendela semua tertutup.
"Pantas saja." Lirihnya. Rasanya ia malas untuk membuka gorden atau menyalakan lampu. Ia terlanjur patah semangat. Itu sebabnya ia hanya terus melanjutkan langkah kakinya sampai keruang tengah.
Namun di ruang tengah nampak lebih gelap sekali, Assena mencoba menyusuri dinding mencari tombol untuk menghidupkan lampu.
Brakk terdengar sesuatu dari arah dapur.
Assena terlonjak kaget, ia memegang dadanya dengan kedua telapak tangannya.
"Siapa itu?" teriaknya. Matanya mengawasi sekitar yang terlihat gelap, dengan memasang pendengaran untuk kemungkinan ada yang akan menjawab.
Hening..
Hening..
Hening..
Brakkk terdengar lagi suara yang sama dari arah yang sama.
Untuk kedua kalinya jantungnya terasa mau meloncat keluar karena saking terkejutnya. Assena sudah merasa ketakutan, kakinya mulai gemetar.
"Altur.. Apa itu kau?? bi Nem??" teriaknya lagi, namun kali ini terdengar gemetar.
Tidak ada sahutan, hanya kembali hening. Yang terdengar hanya detak jantungnya dan deru napasnya yang sedikit memburu.
Assena sudah bisa menduga bahwa di rumah ini sedang tidak ada siapa-siapa. Lalu ia melanjutkan kembali untuk mencari tombol lampu. Matanya masih mengawasi sekitar, entah kenapa suasana terasa mencekam sekali. Dengan segera ia menggelengkan kepala mengusir rasa takut yang mulai merasuki. Bukan, tapi sudah sangat merasuki.
__ADS_1
Cetrek suara tombol di tekannya, sesaat setelah ia berhasil menemukannya. Namun sialnya lampu tidak mau menyala, ia sudah menekan ke atas dan ke bawah namun hasilnya tetap nihil.
"Apa listriknya mati?" Ucapnya dengan tidak tenang.