Seberkas Cahaya

Seberkas Cahaya
Calon menantu?


__ADS_3

**


Melewati perjalanan yang menyebalkan bagi Assena tapi menyenangkan bagi Petter.


Petter merasa puas menggoda Assena, sepanjang perjalanan ia tersenyum meski lebih banyak kata makian yang keluar dari mulut Assena. Tapi Petter merasa senang membuat Assena merasa kesal seperti itu.


Terhitung keberangkatan dari rumah Assena sudah 30 menit, dan mereka baru sampai.


Seperti biasa Assena membeli sebuket bunga tulip putih yang menjadi kesukaan mendiang ibunya.


Dan Petter membeli sebuket mawar merah untuk dibawakan ke makam ibunya.


Mereka berjalan masuk ke tempat pemakaman umum itu.


Assena melangkah menuju mendekat ke makam ibunya yang sudah dekat, langkahnya terhenti tatkala Petter masih membuntut dibelakangnya. Lalu Assena menoleh.


"Kenapa mengikutiku, bukannya makam ibumu di sebelah sana?" ucap Assena seraya menunjuk.


"Apa salahnya jika aku menengok calon mertuaku." Jawab Petter dengan wajah jenakanya.


Assena mencebik sebal seraya memutar kedua bola matanya kala mendengar itu.


Kini Assena dan Petter sudah berjongkok tepat didepan makam yang benamakan nama ibunya Assena.


Nampak diatasnya sudah terlihat taburan bunga, ada sebuket bunga mawar merah dan lily putih bersandar di batu nisan.


Assena sudah tahu itu semua sepeninggal kunjungan Arkan dan Evelin yang yang terbiasa mengunjungi sebelum Assena. Arkan dan Evelin biasa mengunjungi pada hari sabtu.


Assena menaruh bunga tulip itu bersandar pada batu nisan itu, berjejer dengan bunga-bunga yang telah ada sebelumnya.


Perlahan tangan Assena terulur menyentuh batu nisan, ibu jarinya mengusap tepat di bagian yang tertulis nama ibunya yang sedikit kotor dan berdebu itu. Hingga terlihat meninggalkan debu di ibu jarinya kala ia menyentuhnya.


Matanya terpenjam, seolah ia sedang menyampaikan kerinduannya pada sosok sang ibu. Meski ibunya telah lama tiada, ia merasa ibunya selalu dekat dengannya.


Tak terasa air mata menetes disudut matanya, ia begitu merindukan ibunya.


Pemandangan itu juga tak luput dari penglihatan Petter, ia sangat-sangat mengerti apa yang di rasa Assena saat ini.


Seketika tangannya merangkul bahu Assena, mengusap lembut seolah ia sedang memberi kekuatan pada Assena yang telihat rapuh dalam kesedihan.

__ADS_1


Assena tersentak ketika tangan Petter telah merangkul bahunya, ia membuka mata dan menoleh. Matanya kini bertemu dengan mata Petter. Entah kenapa tatapan mata Petter begitu teduh menenangkan.


Assena merasa ada teman saat ia sedih seperti ini. Juga Petter adalah orang pertama yang bisa ikut menemani, selain pak Sur yang terbiasa mengantar tentunya.


Lama menatap, dahi Assena mengkerut melihat pipi Petter sedikit memar, samar-samar terlihat lebam kebiruan. Seperti bekas pukulan.


"Apa yang terjadi pada Petter, kenapa pipinya memar? Apa ini ada kaitannya dengan tidak masuk sekolah selama tiga hari." Batin Assena, ia di penuhi tanya dan rasa penasaran.


"Sudah jangan menangis, ibumu pasti ikut sedih jika kau bersedih." Ucap Petter.


"Bukan begitu ibu mertua?" sambungnya tersenyum dengan sebelah tangannya ikut menyentuh batu nisan.


Masih bisa bercanda ternyata.


Seketika Assena tersenyum geli mendengar petter menyebut 'ibu mertua'.


Setidaknya Petter berhasil membuat Assena tersenyum dan melupakan kesedihannya.


Hingga Assena pun terlupa untuk menanyakan tentang apa yang terjadi pada Petter, hingga pipinya terlihat memar. Jika sepintas saja tidak begitu terlihat memar, tapi jika dilihat dari dekat bisa terlihat dengan samar.


"Ibu, Assena pamit pulang. Minggu depan aku akan kembali lagi." Ucap Assena seraya mengusap-ngusap batu nisan itu.


Ya, setelah kata 'calon menantu' itu keluar dari mulut Petter, seketika membuat Assena menatapnya. Lalu tersenyum dengan geli.


Kini bergantian Petter mengunjungi makam ibunya yang tak jauh dari makam ibunya Assena.


Assena juga ikut menemani Petter.


"Ibu aku datang, sekarang aku datang tidak sendiri. Aku datang dengan calon menantu ibu." Ucap Petter tersenyum seraya menaruh bunga mawar merah yang ia beli tadi.


Assena yang mendengar itu refleks menyikut tangan Petter, Petter pun hanya tersenyum mendapat sikutan seperti itu.


Mungkin jika Petter datang sendiri ia akan terlihat sedih. Tapi kali ini berbeda, di temani Assena ia merasa senang.


Seperti layaknya membawa pasangannya kepada orang tua untuk meminta restu. Meski terdengar bercanda, sebenarnya dalam lubuk hati Petter, ia dengan sungguh-sungguh akan perkataannya.


"Petter.." Ucap Assena seraya melirik Petter.


"Iya, ada apa?"

__ADS_1


"Jika ibumu sudah meninggal, jadi nyonya Irreta itu...." Ucapan Assena tergantung seperti ragu.


"Iya kau benar, dia bukan ibu kandungku." Ucap Petter, lalu terdengar helaan napas. "Setelah ibu meninggal, ayah menikah dengan wanita itu. Saat itu usiaku 8 tahun, dan dia juga telah memiliki anak, yaitu dia Alvin. Kami seumuran saat pertama bertemu, aku dan Alvin hanya saudara tiri saja."


Assen hanya mangut-mangut saja mendengar cerita Petter.


"Meskipun hanya saudara tiri, aku menggagapnya seperti saudara juga teman. Mengingat hampir 10 tahun kami tumbuh bersama. Kadang kami akur, kadang juga bertengkar. Hal sepele pun sering kami ributkan. Tapi kami lebih sering bertengkar daripada akur." Sambung Petter tersenyum membayangkan bagaimana hubungannya dengan Alvin.


Assena pun hanya menjadi pendengar yang baik, diam dan menyimak. Sesekali mangut-mangut juga sesekali ikut tersenyum.


Sampai matahari berada di atas ubun-ubun mereka. Ini sudah tengah hari, matahari begitu terasa panas bagi Assena dan Petter yang tepat berada di bawahnya, terlebih tanpa ada perlindungan. Membuat mereka kepanasan, haus dan gerah menjadi satu.


Mereka pun beranjak dari tempat peristirahatan dari orang tua mereka itu.


**


"Aku akan mengajakmu ke suatu tempat." Ujar Petter yang baru saja sampai dimana motornya terparkir itu.


"Kemana?" tanya Assena.


"Nanti kau akan tahu," ucap Petter tersenyum seraya memakaikan helm pada Assena.


Mereka pun melaju ke tempat tujuan, ditengah jalan Petter berhenti di mini market untuk membeli minuman dan makanan.


Butuh waktu 30 menit untuk mencapai tempat tujuan.


Dan mereka pun sampai.


Assena turun dari motor, dan memandang sekitar, ia begitu merasa takjub dengan tempat dimana ia sekarang.


Dengan cepat membuka helm, kini menatap lurus kedepan dan tersenyum senang.


"Tempat apa ini Petter?" tanya Assena dengan masih terus menatap lurus ke depan.


"Indah bukan?" Petter tersenyum kala melihat Assena yang nampak senang di bawa ke tempat ini.


"Ayo!" ajak Petter dengan mengulurkan tangannya.


Dengan Semangat Assena menyambut uluran tangan Petter.

__ADS_1


Dan kini mereka melangkah bergandengan menuju tempat yang sedari tadi menjadi pusat perhatian Assena, pusat dimana Assena merasa takjub.


__ADS_2