
"Senyuman itu.... Dia? siapa dia?" batin Assena. Ia sedang mengingat siapa pemuda yang ada di hadapannya ini.
Ketika melihat senyuman itu, seperti teringat sesuatu, tapi apa?. Senyuman yang di rasa pernah melihatnya, tapi kapan?
Cukup lama memperhatikan pemuda itu, dengan masih mencoba mengingat-ngingat lagi, tapi hasilnya nihil. Assena tidak mengenal siapa pemuda itu.
Pemuda itu pun tak kalah dalam memperhatikan Assena. "Dari auranya saja sudah jelas berbeda, dia nampak dingin. Ternyata benar yang dikatakan ibu. Nona Assena kecil yang ceria sudah tidak terlihat lagi" batin pemuda itu. "Tapi dia cantik, sangat cantik"
"Kau tidak ingat?" tanya Arkan.
"Dia Altur, anaknya bi Nem dan pak Sur."
"Altur?" ucap Assena tanpa suara.
Setelahnya, nampak ada keterkejutan diwajah Assena. Benarkah pemuda ini adalah Altur teman masa kecilnya?
"Jika nona Assena sudah lupa, saya akan memperkenalkan diri." Ucap pemuda yang bernama Altur itu. "Saya Altur," sambungnya setengah membungkuk dengan senyum ciri khasnya.
Assena hanya mampu memperhatikan pemuda yang kiranya seusia dirinya, warna kulitnya sedikit kecoklatan tapi terlihat manis, berbadan tinggi, tegap dan terlihat sedikit kekar meski masih muda.
__ADS_1
"Altur akan kuliah di sini bersamamu, ayah menugaskan Altur untuk menjagamu. Dia pandai bela diri, ayah percaya dia bisa melindungimu" jelas Arkan.
"Melindungi dari apa ayah?" Assena nampak tidak setuju, karena ia merasa yakin bahwa yang ayahnya katakan 'menjaga' dan 'melindungi' itu artinya Altur akan seperti pengawal pribadi.
"Sayang, kau putri ayah. Dan ayah ingin melindungimu. Ayah mohon terima keputusan ayah untuk menjadikan Altur yang akan menjaga dirimu di luar sana."
Tak ada pilihan lain lagi, selain meyetujuinya.
**
Setelah menyetujui rencana ayahnya itu. Assena kini sudah kembali ke kamarnya.
"Benarkah dia Altur teman masa kecilku. Dia banyak berubah." Gumamnya.
Ketika Altur mengangkat pandangannya kearah balkon dimana tempat Assena berdiri.
Assena yang menyadari bahwa Altur tengah melihatnya, langsung ia mengalihkan pandangannya ke segala arah.
Altur tersenyum. Lalu terhentak tatkala terdengar pak Sur mengomel, karena melihat Altur tidak fokus mencuci mobil.
__ADS_1
**
Sebuah mobil berwarna putih itu baru saja tiba didepan rumah Arkan. Terlihat dokter Roghi turun dari mobil, menenteng tas miliknya.
Hari ini jadwalnya pemeriksaan rutin Arkan.
"Apa tuan bersikukuh untuk tidak di rawat di negara xxx?" ucap dokter Roghi yang usai memeriksa di ruang kamar Arkan.
"Tidak, saya ingin tetap di rumah ini. Toh meskipun di rawat jauh-jauh ke negara mana pun saya memang sudah tidak bisa sembuh. Saya hanya ingin disini bersama keluarga saya sampai saya harus menutup mata." Ucap Arkan dengan yakin.
Terdengar helaan napas dokter Roghi. "Baiklah tuan, saya harap bagaimana pun kondisi saat ini, tuan tidak boleh menyerah harus tetap semangat dan menumbuhkan harapan untuk tetap hidup. Saya akan lakukan semampu saya untuk merawat anda."
"Benar apa yang di katakan dokter Roghi, kau harus tetap semangat" timpal Evelin.
_ _
Assena mengetahui kedatangan dokter Roghi, ia merasa ada yang aneh. Sekarang dokter Roghi rutin datang seminggu sekali hanya untuk memeriksa Arkan. Assena merasa bahwa ayahnya sedang tidak baik-baik saja. Terlebih selama sebulan Arkan sudah tidak pergi ke kantor lagi. Hanya mengandalkan laporan dari sekertarisnya saja untuk memantau perusahaan. Dan kabar kepulangan paman Rey ke kota ini, juga untuk memimpin perusahaan untuk sementara.
Keadaan fisik Arkan yang banyak sekali perubahnnya, wajah yang pucat dan tubuh yang semakin kurus membuat Assena yakin bahwa ada yang ditutup-tutupi darinya.
__ADS_1
Assena sudah merasa khawatir takut bahwa yang ia duga itu adalah benar.