
"Tunggu!" dari belakang Jasmine sedang berjalan cepat menyusul Assena.
Assena pun menoleh, "Kau mau ke toilet juga?" tanya Assena sesaat setelah Jasmine berjalan di sampingnya.
"Iya, aku juga mau ke toilet." Jawab Jasmine di iringi anggukan kepala.
--
Jasmine sedang berdiri di depan westafel dengan cermin terpampang di depannya. Ia sedang menunggu Assena yang tengah menuntaskan keinginannya di salah satu bilik toilet. Karena tujuannya mengikuti Assena sebenarnya bukan untuk ke toilet, tapi ada yang ingin ia bicarakan.
Pintu bilik toilet terbuka menampakan Assena yang tengah merapikan penampilannya dengan berjalan ke tempat westafel.
"Kau sudah selesai?" tanya Assena saat mendapati Jasmine sudah berdiri di depan westafel.
"Sudah.." Timpal Yumna berbohong, karena jelas-jelas dia tidak melakukan apa pun selain menunggu Assena.
Assena tengah mencuci kedua tangannya, suara kucuran air memecah keheningan di dalam toilet. Kebetulan sekali toilet nampak sepi.
"Assena boleh aku bertanya?" Ucap Jasmine, wajahnya menghadap cermin, ia memperhatikan wajah Assena dari pantulan cermin.
"Bertanya saja. Oh iya, aku juga ingin menanyakan sesuatu padamu?" timpal Assena melirik Jasmine.
"Kau ada hubungan apa dengan Petter??" Jasmine bertanya ke intinya langsung.
Seketika Assena terdiam. Benar, memang Jasmine tidak pernah tahu tentang apa yang terjadi antara dirinya dengan Petter.
Assena sedikit bingung, harus mulai dari mana ia menceritakan tentang hubungannya dengan Petter.
Lagi pula saat ini sedang berada di toilet, juga Yumna dan Altur pasti sudah menunggu. Tidak mungkin jika harus menceritakannya sekarang.
"Nanti aku akan menceritakannya padamu, tapi tidak sekarang karena pasti Yumna dan Altur sudah menunggu." Ucap Assena.
"Baiklah, kau berhutang penjelasan padaku." Timpal Jasmine.
"Oh iya, apa tadi yang ingin kau tanyakan padaku?" Sambung Jasmine.
"Dari mana kau dapat kado yang kau berikan kemarin. Apa kau bertemu dengan Petter?" tanya Assena.
"Ya, saat aku menjenguk nenekku yang sakit di luar negeri di negara A, aku tidak sengaja bertemu dengannya. Lalu dia menitipkan kado itu padaku." Jelas Jasmine.
Benar, Jasmine pernah tidak masuk kampus selama tiga hari karena ijin menjenguk neneknya yang sedang sakit.
__ADS_1
"Oh.." Assena mangut-mangut.
"Bagaimana dia sekarang?" sambung Assena.
"Bagaimana apanya?" Yumna balik bertanya.
Assena nampak bingung, apanya yang ingin ia tahu tentang Petter.
"Maksudku apa dia baik-baik saja." Assena putuskan untuk menanyakan itu.
"Dia tampak baik-baik saja, dia juga sedang bersama seorang gadis saat bertemu denganku waktu itu." Jawab Jasmine apa adanya.
"Gadis?" ucap Assena, suaranya memelan. Soalah tenggorokannya tercekat mendengar apa yang baru saja sahabatnya katakan. Ada yang terasa sakit di bagian hati.
"Iya, tapi sepertinya itu hanya teman biasa. Aku bisa melihatnya." Tutur Jasmine.
Meski Jasmine telah mengatakan itu, entah mengapa Assena tetap cemburu. Isi kepalanya di rasuki bayangan tentang Petter bersama gadis lain versi imajinasi Assena sendiri. Hatinya terasa pilu saat bayangan itu muncul.
"Ayo cepat! Yumna dan Altur sudah menunggu lama."
Ajakan Jasmine membawa tubuh Assena dengan langkah tanpa semangat untuk keluar dari toilet.
--
"Maaf.." timpal Jasmine nyengir memperlihatkan deretan giginya.
Altur dan Yumna menyadari, wajah Assena yang nampak murung usai kembali dari toilet. Namun dari mereka tidak ada yang berani mempertanyakan. Hanya bisa menerka-nerka dalam pikiran masing-masing.
Mereka berempat melanjutan obrolan dan candaan yang sempat tertunda.
Assena mencoba memaksakan senyum, menutupi kegundahan hatinya.
Sungguh, ia masih terus memikirkannya. Meski ia mencoba menepis setiap berpikiran buruk tentang Petter.
Saat Assena melihat gelang ukir yang melingkar di pergelangan tangannya, seketika ada rasa tenang. Ia tersenyum, ibu jarinya mengusap lembut tepat bagian yang terdapat ukiran namanya di gelang tersebut.
"Hai Assena.."
Suara yang begitu tidak asing terdengar menyapa. Mereka berempat serempak menoleh siapa gerangan yang telah hadir.
"Alvin.." Ucap Jasmine tanpa suara, ada kekaguman dalam tatapannya. Sejak SMA Jasmine memang megidolakan Alvin. Maka tidak heran, saat ia bisa melihat sang idola lagi, tatapan penuh puja masih ia curahkan.
__ADS_1
Saat melihat wajah Alvin yang tengah memasang senyum itu, Assena langsung memalingkan muka seraya memutar kedua bola matanya.
Memang apa yang salah? Alvin yang tampan dengan sejuta pesona. Namun apa yang membuat Assena tidak begitu menyukai lelaki itu?
"Boleh aku bergabung?" ucap Alvin melirik ke empat orang itu silih berganti untuk meminta izin.
"Tentu saja, bergabunglah bersama kami!" timpal Jasmine memasang senyum masih dengan tatapan penuh puja.
"Kau tidak lihat di sini hanya cukup untuk empat orang saja." Cetus Assena. Jujur saja, ia menolak jika Alvin ikut bergabung.
"Tidak perlu khawatir." Alvin mengambil satu kursi dan duduk di antara Assena dan Jasmine. Terlihat berdempetan, karena Alvin yang memaksakan duduk.
Assena merasa tidak nyaman, apa lagi Alvin kini sudah duduk di sampingnya.
Hal berbeda di tunjukan oleh Jasmine, ia nampak senang dengan senyum mengembang karena sang idola duduk di sebelahnya.
Setelah kedatangan Alvin, suasana menjadi canggung. Tidak ada obrolan lagi, hanya terdengar sapaan Alvin menyapa Yumna yang baru bertemu kali ini.
Altur sendiri merasa jengah, karena ia bisa melihat dari gerak-gerik Alvin, ia tahu jika Alvin menyukai Assena.
Ya, Altur juga yang telah menyukai Assena, pastinya ia tidak akan suka pada lelaki manapun yang juga menyukai gadis yang sama.
"Jadi kapan kau ada waktu untuk pergi bersamaku?." Tanya Alvin.
Assena juga masih mengingat janji untuk bertemu dengan Alvin, untuk mendengarkan cerita tentang Petter. Sebagai mana yang telah di janjikan oleh Alvin.
Sebenarnya Assena malas sekali, lagi pula ia sudah mendapatkan kabar tentang Petter. Apa ia juga harus menemui Alvin, untuk mendengar cerita tentang Petter lebih banyak lagi.
Assena membuang napas dengan jengah, "Altur kapan kau ada waktu menemaniku untuk menemuinya?" Ucapnya kepada Altur.
Pertanyaan Assena yang di lontarkan kepada Altur itu, membuat Alvin sebal saja. Lagi-lagi Assena harus melibatkan Altur untuk acara pertemuannya nanti.
"Kapan pun nona Assena butuhkan, saya siap menemani." Timpal Altur dengan tersenyum manis khas miliknya sembari melirik Assena.
Sebenarnya Altur juga merasa jengkel, kenapa juga Alvin begitu bersikukuh mengajak Assena bertemu.
"Ya sudah hari minggu nanti." Ucap Assena dengan ketus, juga memasang wajah datar.
"Baiklah, apa sekarang aku bisa meminta nomor ponselmu untuk menghubungimu nanti." Alvin berucap penuh harap.
"Tidak, hubungi saja nomor ponsel Altur." Sergah Assena.
__ADS_1
Alvin mendengus sebal, "kenapa juga harus ada lelaki ini? kalau dia tidak ada, pasti aku sudah mendapatkan nomor ponsel Assena." Alvin membatin.
Jasmine yang memperhatikan dari tadi, kini ia menunduk. "Kenapa dari dulu hanya Assena yang dia lihat, hanya Assena yang dia ajak bicara. Sedang aku yang dari dulu menyukainya saja, tidak pernah sekali pun Alvin melirikku." Batin Jasmine mengeluh.