Sebuah Penantian

Sebuah Penantian
Nasihat


__ADS_3

Seharian ini mereka menghabiskan waktu di rumah besar, Delia saat ini sedang membantu ibu dan tantenya membuat kue.


Sedangkan Leon sedang berbincang dengan ayah dan om Hans membicarakan tentang bisnis dan perusahaan mereka.


Tak lupa juga si anak menggemaskan Icha yang sekarang sedang asik bermain dengan ketiga Daddy nya di halaman belakang.


"Gimana hubungan kamu sama Leon nak ?" Ibu menyempatkan bertanya di sela mereka tengah ngadon bahan untuk membuat kue


"Itu Leon yang cinta pertama kamu itu kan Lia !" Ucap tanteku yang sekarang tengah mengiris buah untuk topping


"Ya hubungan aku sama dia gitu aja Bu, Dijalani dulu aja kita gak tau takdir! Iya Tante dia cinta pertama ku yang dulu. " Aku pun menjawab secara gamblang pertanyaan yang di lontarkan ibu dan tanteku


"Ya walau pun begitu kamu harus inget sama umur nak, Apalagi kalian akhir-akhir ini suka pergi bareng ibu gak mau terjadi hal yang enggak-enggak. " Nasehat ibu padaku


"Bener itu Tante setuju sama yang ibu kamu bilang, Walau kita tau kalian gak ngapa-ngapain tapi kan pendapat orang luar beda lagi. Meskipun di antara kalian ada Icha sebagai penengah. " Tante pun menimpali perkataan ibu

__ADS_1


Sambil memanggang kue aku pun mendengarkan nasihat ibu dan tanteku. Memang benar apa yang mereka katakan, pendapat netizen maha benar itu selalu mengutamakan yang di lihat mereka tanpa tau kejadian sebenernya.


Tapi entah kenapa hati ini masih sedikit ada keraguan untuk memulai ke jenjang yang lebih serius bersama Leon.


Bukan karena meragukan cinta nya, Aku yakin dia tulus mencintaiku apalagi keluarganya. Tapi entah mengapa masih ada sedikit rasa mengganjal.


"Hemm iya buk nanti Delia pikirin lagi ya, Kan pernikahan itu kalo bisa satu kali sampai maut memisahkan jadi gak bisa gegabah semua harus di pikirin matang-matang. " Ucapku menjelaskan secara perlahan agar mereka mengerti keputusanku saat ini


"Ehh kue nya Mateng itu Tante " Ucapku lagi saat mendengar bunyi oven menandakan sudah matang


"Iya Bu bener aku aja awalnya kaget pas denger Icha manggil mereka dengan sebutan Daddy. Ya udah aku ke belakang dulu ya. "


Setelah itu akupun bergegas ke halaman belakang untuk menghampiri Icha yang sedang bermain dengan kucing peliharaan di rumah ini.


"Hey anak mami seneng banget ya sama daddy sampe maminya di lupain. " Tegurku sesaat sampai di depan mereka

__ADS_1


"Iya dong mami Icha kan kangen sama Daddy Icha. Mami tau gak kata Daddy Ryan Icha mau di ajak beli mainan besok. " Ujar icha sambil melompat girang karena akan di ajak membeli mainan


"Wah seneng dong ya, Nanti minta beliin yang banyak sama Daddy Ryan ya uang daddymu banyak hehehe " Hasutku pada Icha yang di pandang dengan wajah polosnya


"Jangan ngajarin yang jelek dong sayang sama Icha. Walau pun Ryan gak masalah tapi kan nanti gak bagus untuk Ichanya. " Bang Bryan mengingatkan ku. Saat ini kami dengan duduk di sofa yang setengah melingkar yang ada di pojok


"Kebiasaan adek kamu tuh bang tukang menyesatkan anak kecil " Cibir bang Satria


"Ishh abang gak usah ikutan, Aku kan cuma bercanda aja gak serius. " Omelku padanya


"Eh iya kita masuk aja ke dalam tadi kuenya udah jadi. "


Setelah itu kami pun masuk ke dalam rumah untuk berkumpul di ruang tengah bersama dengan yang lain.


🥀🥀🥀🥀🥀

__ADS_1


__ADS_2