Sebuah Penantian

Sebuah Penantian
#galau


__ADS_3

semakin lama, ayra dan bian tidak malu lagi menunjukkan kedekatan mereka, bian pun sering kerumah ayra, bian tipe orang yang mudah bergaul karna sifatnya yang humoris


keluarga ayra menerima bian dengan baik.. begitu juga keluarga bian yang sangat baik terhadap ayra..


meskipun sebenarnya mama dan kaka laki2 ayra lebih condong setuju kepada ibram..


bahkan mama ayra sempat menangisi ibram, karna tidak tega melihat ibram ditinggalkan oleh ayra padahal ibram sudah begitu baik terhadap ayra..


dikampus pun bian tidak jarang memeberikan perhatian lebih kepada ayra, hingga teman2nya pun tau kedekatan mereka..


namun berbeda dengan ibram, bian sering sekali mengajak ayra pergi bersamanya, padahal orangtua ayra melarang hal itu, ayra tidak diperbolehkan pergi berduaan bersama lelaki yang bukan mahramnya. alhasil ayra sering sekali berbohong pada orangtuanya demi untuk bisa pergi bersama bian..


dari mulai bertemu di cafe, nonton bioskop, sampai main ke dufan, pergi dari bandung pada pagi hari hingga pulang pada malam hari.. memang ayra dan bian tidak pergi berdua, ada teman ayra bernama dila yang juga ikut, tapi ketika sampai di jakarta dila bertemu pacarnya, dila sengaja berjanjian dengan pacarnya di pintu masuk dufan, alhasil ketika didufan dila bersama pacarnya dan ayra bersama bian..


ayra dan bian kasmaran dan merasa bahagia namun, tanpa disadari cara mereka salah..


orangtua ayra belum menaruh curiga pada putrinya itu, dan ayra pun seakan tidak merasa bersalah..


semakin hari hubungan ayra dan bian semakin jauh, mereka sering bertemu dicafe untuk sekedar mengobrol, namun mereka juga sangat sering bertengkar, seakan mereka adalah sepasang kekasih yang saling posesif..


bian adalah orang yang humoris, dan banyak sekali teman wanita disekelilingnya karna bian memang anaknya asik, sedangkan ayra merasa bahwa dia sudah mengorbankan waktunya menunggu bian, tetapi bian masih saja sering becanda dengan wanita lain.. sebaliknya bian selalu takut ayra meninggalkannya jika ada lelaki mapan yang mendekati ayra..


detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, berbulan2 hubungan mereka bukan semakin baikkk, tapi malah semakin buruk..


disaat mereka sering bertengkar, orangtua ayra pun jadi menaruh curiga karna sering sekali melihat anaknya menerima telfon sambil marah dan menangis


hingga suatu malam setelah solat isya dan setelah ayra menerima telfon dengan nada tinggi, ayra pamit kepada kedua orangtuanya bahwa dia akan kerumah dila, tapi itu semua bohong, ayra bukan mau kerumah dila tapi dia akan menemui bian karna mereka sedang bertengkar dan ingin meluruskan masalah mereka berdua, mata sembabnya tak bisa ditutupi, mama ayra pun curiga dan setelah satu jam anaknya pergi, mama ayra menelfon dila


"halo, assalamualaikum dil ada ayra gak?" tanya mama ayra


"halo, walaikumsalam, gaada bu.. memang ayra ga bilang mau kemana?" tanya dila


"ohh gitu, iya tadi dia bilang mau kerumahmu, yasudah kalo gaada makasih dil, assalamualaikum" jawab mama


(duh ayra kenapa ga calling aku dulu kalo mau bohong jadi ketauan deh lo bohong) ucap dila dalam hati


"oh ehm, i i iyah bu, waalaikumsalam"


deg


deg

__ADS_1


deg


mama ayra tidak menyangka putrinya membohonginya, dia kecewa terhadap bian dan ayra, mamanya sudah menduga pasti ini ada hubungannya dengan bian, kalo bukan bian siapa lagi.. fikirnya, mamanya pun menangis karna merasa dikecewakan dan dibohongi


jam 11 malam suara motor ayra terdengar, dia pulang selarut itu. padahal dia tidak pernah seperti itu sebelumnya..


diruang tamu sudah duduk papa dan mamanya ayra


"duduk kamu" tegas papa ayra


"kenapa?" tanya ayra


"dari mana kamu? pulang malem gini, bukan kerumah dila!" tanya papa ayra yg menahan emosinya


"gajadi kerumah dila, jadinya kerumah ranti" jawab ayra


"jangan bohong kamu! pasti ketemu bian kan kamu hah?" tanya papa ayra sedikit meninggi


"iya tapi sama ranti kok bertiga" jawab ayra terdesak, dan masih saja bebohong padahl ia bertemu hanya berdua saja dan tidak dengan ranti


"kenapa bohong sama mama sih ra? mama kecewa, selama ini juga kamu bohong sm mama kan?" tanya mama sambil menangis


ayra tidak mampu lagi berkata, dia tidak ingin menambah kebohongannya lagi, karna memang benar sudah banyak sekali kebohongan pada mamanya.. dia tertunduk lemas sambil menangis


"suruh bian dateng ngadep papa, minta kamu ke papa, jangan di belakang diajak main diajak pergi, kalo bian ga berani, tinggalin!" tambah papa ayra


"udah ra lepasin bian kalo kaya gini terus, kamunya juga sering nangis sering marah2, bohongin mama terus, buat apa? ga barokah nantinya" tambah mama


setelah panjang lebar papa dan mama ayra menasehati ayra, ayra pun masuk kekamarnya dan nangis semalaman, masalahnya dengan bian pun tidak menemui titik temu..


ayra mengirim pesan WA kepada bian


"aku ketauan ketemu sm kamu, kalo kamh serius datengin papa ku" kata ayra


"semakin jelek aja namaku di keluargamu, udahlah aku cape" balas bian


ayra semakin menangis didalam kamarnya, apakah ini karma karna dia telah menyakiti ibram? hmmm


sedangkan bian malah semakin cuek pada ayra, tidak peduli ayra telah dicecar oleh orangtuanya semalaman gara2 menemuinya..


*flashback dicaffe*

__ADS_1


"bian, aku tanya sekali lagi, aku tau kamu seharian ini bukan sakit dan diem dirumah kan?" tanya ayra


"dirumah sayang" jawab bian sedikit panik


"gausah bohong, aku tadi liat statusnya faisal kalian abis nongkrong sama isal, reyna, andin"


(fyi: reyna adalah kecengan bian sewaktu awal2 masuk kuliah alias maba, dan kebetulan isal sekelas dengan reyna)


"engga, kenapa sih ga percayaan banget" bantah bian


"kenapa harus bohong? aku khawatir kamu sakit, tp padahal kamu abis pergi sm mereka, sama mantan kecengan kamu itu, aku tau jaket kamu, aku tau itu kamu, meskipun isal ga videoin wajah kamu" tegas ayra


"yaudah ra, iya aku pergi sm mereka, aku bete berantem terus sama kamu, aku cape" balas bian


"yaudah kalo cape, udahan aja, aku lepasin biar kamu bebas pergi sama siapa aja ga merasa ditungguin sm aku dan ga perlu bohongin siapa2" jawab ayra sambil menahan air matanya


"iya oke, biar kamu juga bisa sama laki2 yang lebih mapan dan bisa secepatnya diseriusin, aku memang bukan apa2 ra, kuliah aja belom lulus gimana bisa nafkahin kamu nanti, aku masih kekanak kanakan dan seneng main gaada harepan kalo kamu sama aku" balas bian sinis


"jahat ya kamu" balas ayra sambil menundukkan kepalanya dimeja


bian menyandarkan tubuhnya di kursi caffe, sambil mengusap wajahnya, keadaan caffe saat itu memang tidak terlalu ramai..


"maafin aku ra, maafin aku, aku sayang sama kamu, asli ga bohong, tapi aku masih kaya gini ra, aku emang kaya gini" lanjut bian sambil mencoba memegang tangan ayra namun ayra menolak


ayra tidak mengangkat kepalanya


"udah dong ra, maafin aku" lanjut bian


"kamu minta aku tunggu, berapa taun aku harus nunggu? kenapa kamu malah gini sekarang setelah aku mau nunggu kamu?" tanya ayra


"aku gatau ra, aku belum siap" jawab bian terbata


.


.


.


sampai akhirnya perdebatan mereka tidak ada titik temu


"yaudah stop, aku cape, aku mau pulang" kata ayra mengakhiri perdebatan mereka

__ADS_1


"yaudah" balas bian singkat


yaaaaaaah galau deh ayraaaa..


__ADS_2