Sebuah Penantian

Sebuah Penantian
Capit Boneka


__ADS_3

Sesuai janji bang Ryan tadi sore, Setelah mengajak Icha mandi dan bersiap untuk pergi. Saat ini kami bertiga sedang di dalam mobil perjalanan menuju ke salah satu mall terbesar di kota X.


Sebelum pergi aku sudah lebih dulu mengabari Leon jika kami akan pergi mengajak Icha bersenang-senang.


Selama dalam perjalanan Icha tak henti berceloteh menceritakan apa yang dia lakukan saat menyusulku ke kota S, Sedangkan bang Ryan dan aku menjadi pendengar baik dengan sesekali menanggapi celotehan lucunya.


"Jadi waktu Icha gak di bolehin papi ikut acara mami, Icha kan di ajak ke kantor papi tapi malah bikin sebel karena papi sibuk kerja akunya di cuekin. " Curhatnya dengan sebal seolah papinya ada disini. Padahal pada kenyataannya Leon sekarang sedang lembur dengan setumpuk berkas.


"Tapi kan papi bilang Icha sibuk main game di tablet Hem. " Sambil mencubit manja pipinya


"Ya itu kan karena Icha gak boleh keluar dari ruangan papi, katanya nanti di culik nenek sihir, " Dengan sedikit bergidik Icha bercerita seolah dia tau wujudnya seperti apa.


"Wow iyakah tapi Icha anak yang pinter karena nurut sama yang di bilang papi. " Ujar bang Ryan dengan mengusap kepala Icha sekilas


"Iya dong Icha kan anak mami, papi jadi harus pinter " Jawabnya dengan ekspresi yang menggemaskan, Ingin rasanya untuk menggigit pipinya yang mengembung seperti donat.


"Ehh anak Daddy Ryan juga dong hehehe " Seolah melupakan sesuatu Icha pun melanjutkan perkataannya.

__ADS_1


"Kamu tuh yang bikin gemes Daddy aja, Nah sebentar lagi sampai. " Ucap bang Bryan sambil fokus lagi ke jalan


Sampailah kami di tempat parkiran, Setelah itu bergegas masuk ke dalam nya dengan kami menggandeng tangan Icha bersama.




Saat ini kami sedang menikmati permainan di lantai teratas di mall tersebut.


"Daddy Icha mau boneka itu dong !" Serunya sambil menunjuk permainan capit tersebut


"Ish masak papi gak bisa, Kalo gitu mami aja deh ya please, " Icha tau sekali jika Delia paling tak sanggup jika melihat puppy eyes yang menjadi andalannya.


"Oke kita coba tapi kalo gak dapet nanti beli aja ya sayang." Sambil mengelus kepalanya aku menjelaskan


Sambil membawa dompet yang di berikan bang Ryan aku pun membeli karcis untuk menemani icha bermain.

__ADS_1


Masing-masing aku dan bang Ryan mencoba permainan capit itu tapi tak satupun yang dari kami berhasil.


Jadi karena hal itu pun aku membujuk Icha untuk membeli boneka itu di tokonya nanti dan di setujui olehnya.


"Gimana seneng kan sama boneka Teddy bear nya, Ada lagi yang Icha mau gak selain ini... ?" Tanya bang Ryan sambil berjongkok di depanya yang sedang memeluk boneka yang lebih besar dari tubuhnya


"Icha mau boneka Barbie boleh papi !" Ujarnya dengan malu-malu saat menginginkan sesuatu


"Boleh nak mau berapa banyak Hem "


"Satu aja Daddy kata mami gak boleh boros kalo gak di mainin mubazir. " Celotehnya dengan fasih


"Tambah pinter deh anak mami " Sambil mengecup kepala Icha lama


"Ya udah kalo udah selesai kita bayar biar habis ini Daddy mau ajak Icha beli baju oke. " Ucap bang Ryan


Saking girang mendengar perkataan bang Ryan, Icha sampai melompat kegirangan sambil memeluk erat bang Ryan.

__ADS_1


Inilah sebenarnya yang di inginkan Icha kasih sayang dan perhatian bukan hanya sebatas di materi seperti yang di pikirkan Leon dulu.


🍁🍁🍁


__ADS_2