Sebuah Penantian

Sebuah Penantian
Biang Kompor


__ADS_3

Setelah puas semalaman menghabiskan waktu bersama para sahabatnya di villa, Pagi ini mereka semua segera bersiap untuk pulang lagi ke kotanya.


Selain itu Oma nya icha semalam, sempat menelpon untuk mengantar Icha pulang ke rumahnya karena akan dibawa ikut berangkat ke kota B tempat keluarga ayahnya.


Saat ini mereka semua sudah duduk manis di dalam mobil yang di kendarai Aldo.


"Gimana Lia hati kamu udah enakan ?" Tanya Reyhan memecah keheningan di dalam mobil


"Emang hati gue kenapa retak-retak!" Bingung Delia dengan pertanyaan Reyhan


"Bukan retak tapi potek kali, " Cibir Oliv


"Aish kebiasaan jangan bikin mood gue tiba-tiba terjun payung lah. Gue lagi anteng ini, " Ujarku sambil menyentil kening Oliv yang sibuk mencibir


"Auww sayang liat nih ada Mak tiri kening aku sakit. " Adu Oliv dengan manja pada aldo


"Fokus Aldo jangan curi-curi pandang ke belakang lo." Tegas Reyna saat Aldo menoleh ke belakang


"Dih jangan ngegas juga kali Rey Lo belum makan ya tadi. " Ujar Aldo tersentak mendengar perkataan Reyna


"Udah lah Al biarin mereka bertiga gelud Lo fokus nyetir aja biar gue fokus main game." Ucap Reyhan dengan kalem


Tapi karena perkataannya malah pendapat hadiah timpukan tas yang di lakukan Reyna.


"Kebiasaan stop dulu kenapa itu handphone. Sekarang yang lebih berharga kayaknya si pipih dari pada yang berbentuk gitar spanyol. " Dumel Reyna karena kesal dengan Reyhan


"Sukurin awalnya mau gibahin gue kalian debat sendiri kan."


"Udahlah diem jangan berisik malu di liatin Icha nih kalian." Ujar Delia cekikikan sambil memperhatikan Icha yang sedang memainkan game di handphoneku


"Anak jaman sekarang beda banget sama kita dulu main nya sekarang handphone coba kalo kita dulu mainnya sama lumpur. " Celetuk Aldo yang fokus menyetir


"Itu mah elo kalo gue mah anak elit main nya petak umpet,"


"Sama aja kalo dulu kita main tuh pasti ngumpul nya di lapangan anak sekarang mah mana ada kebanyakan jadi kaum rebahan." Ujar Oliv yang di iyakan oleh Reyna


"Tuh contohnya satu anak si Leon." Ujar Reyhan yang mengundang tawa di dalam mobil tersebut


Sedangkan Icha yang di bicara kan hanya acuh karena tak mengerti pembahasan orang dewasa.


"Anak mami serius banget main nya udah dulu ya bentar lagi kita sampai rumah Oma !" Ujarku saat mobil kami sudah memasuki area perumahan


Kami semua memang terlebih dulu mengantar Icha, karena sudah di tunggu oleh Oma dan Opa nya.


Akhirnya sampai lah kami di depan rumah orangtua Leon yang saat ini gerbangnya sudah terbuka.

__ADS_1


"Gue turun dulu nganter Icha kalian di mobil aja." Ujarku setelah mobil memasuki pelataran rumah.


Setelah Icha berpamitan pada semua sahabatku, Aku pun membawanya keluar mobil sambil menggendongnya.


"Assalamualaikum Tante maaf ya kelamaan nunggu." Ucapku setelah sampai di depan mereka


"Wa'alaikumsalam gpp kok ini belum telat juga. Maaf ya jadi ngerpotin kamu soalnya Tante baru dpet telpon semalem kalo neneknya Icha disana sakit jadi mau ajak Icha liat kesana." Ujar mama Leon


"Iya gpp kok Tante, maaf ya gak bisa ikutan."


"Icha disana nurut ya sama Oma, Opa jangan nakal biar mami tambah sayang." Ucapku setelah memberikan kecupan dikeningnya


"Iya mami Icha janji.. " Jawabnya sambil memeluk ku erat


"Ya udah aku izin pulang ya Tan."


Setelah itu mobil kami pun meninggalkan pekarangan rumah Leon untuk kembali ke rumahku.


🍃🍃🍃


Sesampai di rumah kami di sambut dengan bang Bryan yang sudah berdiri di depan pintu rumah dengan pandangan nya yang dingin.


Aku pun bergegas keluar dari mobil dan menghampiri bang Bryan.


"Abang Adel kangennn, " Sambil memeluk nya erat


"Yang lain kemana ?"


"Satria masih di luar kota sedangkan Ryan dari kemarin lagi tidur di rumah besar katanya kangen mama, papa, ibu, sama ayah. " Jelas bang Bryan yang masih memeluk Delia di teras rumah


"Kasian kenapa Abang gak nyusul aku semalam biar gak kesepian ?" Tanyaku


"Abang baru pulang juga dek, Semalam tidur di kantor males pulang. " Ujar Bryan dengan senyum tipisnya


Sedangkan para sahabat Delia yang sudah melihat dari jauh segera menghampiri mereka.


"Woww bikin sirik banget sih kalian sepupu rasa kekasih hati, Yang punya status pacar aja kalah sama yang sepupu. " Kompor Oliv saat melihat Delia dan Bryan berpelukan


"Bang apa kabar ?" Ujar Aldo dan Reyhan saat sampai di depan Bryan


"Kabar baik aja." Jawab Bryan sambil bertos ala mereka


Setelah itu mereka hanya memperhatikan para wanita yang sedang berdebat.


"Ishh apaan sih Lo kebiasaan merusak suasana." Cibir ku pada Oliv

__ADS_1


"Takutnya kalo gak gitu nanti ada benih bunga bermekaran ya gak Liv." Sela Reyna mengejek ku juga


"Bunga bangkai iya. " Jawabku manyun


"Jangan gitu lah Delia kita gak tau kan jodoh toh kalian sepupu gak sedarah." Sela Reyna sambil menarik turunkan alisnya


"Lo udah ketularan Oliv nih hati-hati aja overdosis. " Ejekku pada mereka


"Gitu tuh bang kalo mereka udah ketemu debat aja terus." Kata Aldo yang hanya menjadi penonton


"Bener bang kalo gak cepetan di lerai gak akan selesai tuh mereka yang ada kita bisa lumutan di luar ini." Ujar Reyhan sambil sedikit menjelaskan kelakuan mereka


Mendengar perkataan Reyhan, Bryan pun segera menghampiri mereka.


"Debatnya udah siapa yang menang Hem. ?" Kata Bryan setelah sampai di depan mereka


"Hehehe jangan marah bang mereka yang mulai duluan bukan adek." Elakku sambil bergelayut manja


Sedangkan Reyna dan Oliv hanya bisa mencibir Delia karena mereka takut dengan Bryan yang berwajah datar.


"Udahlah sekarang kalian masuk aja dulu ke dalam ada yang mau Abang bahas juga." Ucap bang Bryan mengakhiri perdebatan kami


"SIAP BOS... "


Ucap kami serentak dan mengikuti bang Bryan masuk ke dalam,


Sesampainya di ruang tamu kami mengambil tempat duduk masing-masing. Sedangkan aku sudah di tarik bang Bryan untuk duduk di sebelahnya.


"Mbok sum tolong siapin cemilan, " Teriakku dari tempat duduk


"Iyaaa Mbak... "


"Kebiasaan di hutan jejeritan aja mulut kamu dek." Delia mendapatkan sentilan di keningnya


"Aww sakit Abang kan di rumah ini bukan tempat orang jadi gak masalah." Jawabku sambil mengerucutkan bibir


"Emang Delia tuh suka gak inget umur bang." Cibir Oliv si biang Kompor


"Udah jangan mulai lagi kalian."


Sela bang Bryan saat Delia akan menimpali perkataan Oliv, sedangkan yang lain hanya cekikikan.


"Hehehe enggak kok bang ishh kok sensi banget sih." Bujukku dengan puppy eyes andalan.


"Untuk sekarang gak akan mempan bujukan kamu. " Ucap Bryan dengan cueknya

__ADS_1


Bersumbang 😴


__ADS_2