Sebuah Penantian

Sebuah Penantian
Deg - Degan


__ADS_3

Saat ini Delia tampak bahagia bersama Leon setelah masalah yang mereka hadapi beberapa hari yang lalu, tak ada lagi raut wajah muram dam masam yang tampak dari nya.


Hanya senyum yang kian merekah seiring waktu berjalan,


Dengan keluarga yang makin dekat satu dan yang lain. apalagi Icha yang semakin hari tak ingin berpisah lama dari Delia membuat anak itu akhir-akhir ini lebih banyak menghabiskan waktu bersama sang mommy dengan menginap di rumah Delia,


Membuat keluarga sempat berembuk dan menyuruh Delia segera mengambil keputusan yang terbaik. walau begitu mereka tak ingin memaksa,


Apalagi seminggu yang akan datang adalah pernikahan Ryan dan Risa tak mungkin jika harus buru-buru melangsung kan pernikahan lagi.


Setidaknya harus menunggu beberapa bulan lagi agar tak terlalu dekat jaraknya.


Saat ini mereka tengah berkumpul di rumah besar untuk sekedar menghabiskan waktu weekend bersama, hanya minus Bryan yang tak hadir lantaran harus berangkat ke luar kota untuk perjalanan bisnis yang sudah sempat di undur beberapa waktu lalu.


"Jadi gimana udah siap semua persiapannya ?" Tanya Hans papa dari Bryan dan Ryan. saat ini mereka tengah berkumpul di teras belakang menikmati udara sejuk, di temani beberapa camilan


"Alhamdulillah udah, tinggal deg-degan aja ini aku nya takut lupa hehe. " Jawab Ryan cekikikan


"Santai aja kali bang rileks, kan cuma tinggal ngomong doang. " Celetuk Satria dengan cuek, sambil terus memakan kue


"Enak bener tuh bibir ngomong nya. rem nya blong kali, " Cibir Delia sambil menggeleng kepala


BUGH, "Enak banget kamu ngomong gitu. tunggu aja pas giliran kamu nikah nanti, " Sewot Ryan sambil menepuk kuat pundak Satria


"Astaga asem dasar Abang gak ada akhlak, orang lagi makan asal geplak aja untung gak keselek aku nya. lagian lebay bener aku kan cuma mengutarakan pendapat, kalo gak suka ya udah ishh dasar. " Omel Satria dan langsung berpindah duduk sebelah ibu


"Kurang kuat bang tadi, aturan pakek tenaga dalem biar berasa hehehe, " Celetuk Delia memanasi keadaan


"Tega kamu dek sama abang yang tampan ini. " Ujar Satria dengan melas


"Gak peduli tuh. "


Sedangkan Satria sudah mengumpat dalam hati dengan sumpah serapah nya melihat kelakuan Delia yang tak ada manis-manis nya sama sekali.


(Di kira le mineral kalo air putih 😩 ada manis-manis nya)


"Kalian ber empat ini yang waras cuma satu tapi sayang nya kelebihan muatan, saking waras nya Abang kalian itu muka nya kayak tembok. " Omel ibu dengan bibir yang komat-kamit


"Emang siapa sih ?" Tanya ayah dan Om Hans serentak

__ADS_1


"Ya siapa lagi kalo bu__ " Belum selesai ibu berbicara sudah di potong terlebih dulu


"BANG BRYANNNNN, " kata mereka serempak setelah itu terdengar tawa dari Satria, Ryan dan Delia.


"ckckck kalian berani nya cuma lagi orang nya gak ada, coba kalo abang kalian disini pada ciut kayak anak marmut. " Cibir Hana istri Hans


"Ishhh mama kok gitu sama anak sendiri, nanti adek di penyet sama abang gimana dong. " Rajuk Delia denga manja


"Emang kenyataan. " Dengan telak kedua ibu itu berkata


"Ishh kalian gak sayang kita lagi. " Rajuk Delia


"Kamu aja kalo dek kita mah enggak, ya gak bang ?" Ujar Satria dsn di setujui oleh Ryan


Sedangkan kedua ayah hanya cekikikan tertawa melihat anak mereka, padahal sudah besar semua tapi masih saja kekanakan. hanya Bryan sendiri yang paling dewasa di antara mereka.


🍃🍃🍃


Sedangkan di tempat lain saat ini Bryan tengah melakukan pertemuan dengan rekan bisnisnya di sebuah restoran,


Tak lupa Max tangan kanan yang merangakap sekretaris selalu menemani nya.


Saat ini mereka tengah duduk bersama menikmati makan setelah meeting bersama klien selesai,


"Anda kenapa tuan ?" Tanya Max melihat gelagat tuan nya


"Eh gpp, lanjut aja makan nya setelah ini saya ingin segera istirahat di hotel." Ujar Bryan


"Baik tuan. "


Selesai bertemu klien Bryan memutuskan untuk segera kembali ke hotel.


Memandang ke luar jendela Bryan melihat ke arah langit yang terang dengan diam.


"Semoga kamu selalu bahagia sayang, aku pun akan ikut bahagia melihat senyum itu. " Gumam Bryan dalam hati dengan mata terpejam


Sedangkan Max sempat melirik tuan nya dari kaca yang tergantung dengan kasihan. karena beberapa hari ini terlihat murung tanpa berani bertanya,


Walau begitu Max bisa menebak ini ada sangkut pautnya dengan Delia.

__ADS_1


"Tuan.. "


"Tuan kita sudah sampai. " Ucap Max lagi sambil menoleh ke belakang


Tapi Bryan tampak tak bergeming,


Jadi Max memutuskan keluar dari mobil untuk membuka sisi pintu sebelah nya.


"Tuan kita sudah sampai di hotel. " Ucap Max lagi tak lupa sedikit menupuk pundak Bryan


"Eh astaga, Maaf Max seperti nya saya ketiduran apakah kita sudah sampai?" Tanya Bryan setelah menyesuaikan diri setelah sempat tertidur


"Sudah tuan, sebaiknya kita segera ke atas agar tuan bisa beristirahat. " Ucap Max sambil menunduk tak lupa membuka pintu lebih lebar


Sesampai nya di lantai atas kamar, "Terimakasih Max kau juga bisa istirahat atau jika mau keluar berjalan silahkan, setelah ini kita tak ada pertemuan lagi juga kan. jadi saya ingin istirahat penuh karena sepertinya saya kurang tidur. " Pesan Bryan sebelum memutuskan masuk dalam kamar meninggalkan Max yang berdiri di luar menatap pintu tersebut.


"Semoga tuan bisa mendapatkan yang terbaik seperti mbak Delia, " Gumamnya dalam hati


Setelah itu Max memutuskan untuk masuk ke kamar yang bersebrangan dengan Bryan untuk sekedar mandi dan keluar lagi untuk berkeliling.


🍃🍃🍃


Kembali ke Delia saat ini dia sudah pulang dari rumah besar setelah tadi mengantar Icha pulang terlebih dulu karena ikut dengannya.


Sedangkan Satria memilih masih di rumah besar untuk menemani Ryan mengerjakan sesuatu,


"Hem bosen sendiri, biasa nya ada bang Bryan. kira-kira Abang lagi apa ya ?" Gumamnya sambil bertopang dagu di atas ranjang


Tadi sesampainya di rumah Delia segera membersihkan diri dan memutuskan streaming nonton drakor favoritnya, tapi tak fokus karena tiba-tiba memikirkan Bryan.


"Coba telpon aja deh siapa tau udah kelar meeting nya. " Gumamnya segera mencari kontak Bryan dan segera menghubungi nya.


TUT... TUT...


Sudah panggilan ketiga masih tak ada tanda Bryan mengangkat telponnya.


"Hem abang kok gak angkat ya ? apa masih meeting tapi ini udah sore pasti udah pulang, atau lagi asik jalan-jalan keluar ?" Gumamnya sibuk dengan pikiran sendiri


"Udahlah nanti aja telpon lagi mungkin abang lagi istirahat disana. " Gumam Delia lagi setelah itu dia memutuskan untuk tidur, setelah membereskan laptop nya ke meja

__ADS_1


__ADS_2