Sebuah Penantian

Sebuah Penantian
Menghibur Diri Sendiri


__ADS_3

Saat ini Delia hanya bisa merenungi hubungannya dengan Leon, Kenapa disaat semua terasa indah dan manis harus ada rasa sakit yang datang.


Delia masih berusaha untuk ber prasangka baik pada Leon,


Maka dari itu dia memutuskan untuk ke kantin untuk memesan makanan yang akan memperbaiki moodnya.


"Pagi mbak Delia, " Sapa salah satu guru di taman kanak-kanak yang di kelola nya


"Pagi juga mbak Rara, Ngapain udah di kantin aja." Ujarku penuh selidik dengan mata memicing seolah dia adalah tersangka


"Hehehe abisnya laper mbak tadi gak sempet sarapan di kos. " Kilahnya padaku


"Heleh makanya buruan di halalin biar bisa sarapan." Jawabku nyeleneh


"Lah apa hubungannya mbak sama itu, Kan gak ada ?" Dengan wajah bingungnya Rara bertanya


"Adalah biar kamu biasa bangun subuh biar bisa bikin sarapan wkwk, " Ujarku sambil tertawa


Sedangkan Rara hanya menatap cengo dengan ucapan Delia yang absurd.


"Mbak sehat kan, Kenapa jadi nyeleneh gini. Udah ah aku mau pesen makan aja laper mbak mau aku pesenin gak ?" Tanyanya mengalihkan pembicaraan


"Aku pesen sendiri aja sana deh, Kamu masih harus kerja atau gak gajinya gak aku kasih. " Omelku meninggalkan nya seorang diri


Sesampainya di depan meja Delia segera memesan beberapa macam makanan untuk di antar ke ruangannya.

__ADS_1


Saat sudah sampai di ruangannya kembali handphone Delia pun berbunyi.


TRINGGG !!!


"Ya holla ada apa gerandong Lo nelpon gue Hem. "


Ucapku langsung saat sambungan baru tersambung.


"Lo nenek lampir nya Lia, Baru juga di telpon udah bikin darting aja."


Rupanya yang menelpon adalah Oliv,


"Biasa aja mbak bro jangan ngegas kasih rem dikit lah, Ada apa sih gue sibuk nih."


"Gak usah bohong deh yang ada Lo lagi duduk santai kan di kursi kebesaran Lo, Dasar guru kurang asem. " Sembur Oliv


Karena posisi saat ini Delia sedang membelakangi pintu ruangannya jadi tak mengetahui jika di sana ada Oliv dan Reyna beserta pasangan mereka yang tengah berdiri.


Mereka sebenarnya di tugaskan oleh Bryan untuk datang menemani Delia, Awalnya mereka sedikit bingung tapi Bryan segera memberitahukan garis besar masalahnya.


Jadi disini lah mereka bermaksud menghibur Delia,


EKHEMM...


"Kok ada suara laki-laki ya ishh woy Oliv Lo masih idup kan. "

__ADS_1


Seru Delia karena telpon masih tersambung, tapi tak mendengar lagi suara dari sebrang sana.


"Woy anak Dugong gue di belakang lo bebalik kenapa sih, ngadep dinding apa yang Lo liat polos gitu. " Seru Oliv dengan terus ngomel


"Astaga kapan kalian semua ada disini, kalian pakek teleportasi ya. " Ucapku terkejut akibat kedatangan mereka yang mendadak


TUK,


"Jangan lebay deh ini nih kalo bawaan lagi bimbang omonganya ngelantur semua. " Omel Reyna saat mereka semua sudah duduk di sofa ruangan itu


"Dih siapa juga bimbang gue mah ya gini aja. " Kilahku sambil memandang ke arah lain


Saat ini di atas meja sudah tersaji beberapa makanan yang di pesan Delia tadi termasuk minuman.


"Gak usah bohong lo Lia kita udah tau semua." Ujar Aldo dengan tegas karena dari mereka semua hanya Aldo yang mengetahui kebenaran seorang Leon. Tapi sampai saat ini Aldo belum mau memberitahukan nya dan hanya Bryan yang mengetahuinya.


"Kita sahabat Lo kenapa harus ada rahasia di antara kita, ?" Kata Reyhan yang memandang Delia intens


"Please jangan bahas itu gue gak mau bahas itu buat sekarang. Itu ada waktunya nanti."


"Jadi mau Lo apa nih ?" Tanya Oliv di sela mereka makan


" Gimana kalo villa gue yang di puncak aja tapi gue bawa Icha ya !"


"Kebiasaan dadakan ini anak. Untung kita lagi free semua," Gerutu Aldo

__ADS_1


"Yaudah abis Icha keluar kelas kita langsung ke puncak aja nanti. urusan lainnya nyusul aja beli di jalan." Jawab Reyhan dengan final


🍃🍃🍃


__ADS_2