Sebuah Penantian

Sebuah Penantian
Arti Sahabat


__ADS_3

Sesuai kesepakatan mereka saat ini Delia bersama para sahabat dan Icha sedang dalam perjalanan menuju ke villa miliknya yang ada di puncak.


Mereka menggunakan satu mobil karena Delia tadi pagi di antar Bryan.


"Untung Reyhan bawa mobil yang agak gede ya jadi gak perlu duduk dempet kita." Ucapku yang sedang memangku Icha


"Bukan untung tapi emang semua udah di atur bang Bryan." Kata Reyhan dengan lirih sampai hanya terdengar seperti bergumam oleh yang lain


"Eh Lo ngomong apaan Rey ?" Delia menatap sambil memicingkan matanya


"Lo salah denger kali gue mana ngomong apa-apa." Kilah Reyhan tetap fokus menyetir


"Hem apa yang Lo rasain saat ini Lia ?" Tanya Oliv tiba-tiba saat keadaan menjadi hening


Mereka semua tengah menunggu jawaban Delia,


"Ya gue happy kok emang apalagi," Jawabku cuek sambil terus membelai kepala Icha yang tengah tertidur di pangkuanku


"Lo gak bisa bohong sama kita Lia, Karena kita kenal bukan baru kemarin. Lo yang sabar ya ini semua namanya ujian buat hubungan kalian, Lo jangan sungkan cerita." Tutur Reyna sambil mengusap perlahan bahu Delia


"Thanks kalian selalu ada buat gue, " Ucapku lirih


"Yang harus Lo tau kita semua keluarga kita semua sayang sama Delia." Ucap Aldo dengan senyum tulusnya

__ADS_1


Melihat itu Delia sedikit tertegun, Karena selama menjadi sahabat Aldo dia jarang sekali melihat senyuman Aldo karena sifatnya yang selalu sembrono.


Tapi disini senyum yang di tunjukan Aldo seolah mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.


Tanpa terasa sampai lah mereka di villa milik Delia yang terletak sedikit lebih ke dalam karena masih banyak sekali pepohon besar yang asli dan di sana hanya ada dua villa miliknya dan Satria.


"Akhirnya setelah mendaki jalan melewati pepohonan sampai lah kita di puncaknya hihihi. " Gurauku saat kami semua sudah keluar dari mobil


"Astaga ini anak malah ngelawak, " Ujar Oliv memutar bola mata malas


"Hidup itu butuh hiburan kali biar gak..."


"Kurang se ons kayak Lo wkwk. " Jawab Aldo sambil tertawa memotong ucapan Delia


Sedangkan yang lain hanya menyinggung kan senyum tipisnya.


"Udah nanti lanjut lagi kalo mau ngelawaknya sekarang masuk dulu kasian Icha masih ngantuk." Lerai Reyna karena kasian melihat Icha yang di gendongan nya masih menguap.


Sesampainya di dalam rumah mereka di sambut oleh penjaga villa.


Tak lupa Delia mengabarkan Bryan karena rencana mendadak mereka. Padahal tanpa di kabari pun Bryan sudah tau Delia dimana.!


πŸƒπŸƒπŸƒ

__ADS_1


Tanpa terasa awan yang terang berganti gelap di selimuti bintang, dengan angin sejuk yang menerpa kulit.


Saat ini mereka semua tengah berkumpul di halaman belakang villa sambil menggelar tikar untuk makan lesehan.


Mereka semua memutuskan untuk menginap satu malam di villa karena tadi sudah sempat membeli perlengkapan nya saat akan menuju ke villa.


"Kapan ya terakhir kita makan lesehan gini udah lama banget." Celetuk Reyhan saat semua sudah tersaji


"Bener udah lama banget. Jaman kita masih ngampus kalo gak salah, " Jawab Aldo sambil bertopang dagu


"Kalo udah disini gue pasti selalu betah sampe gak mau pulang rasanya." Ujarku sambil menghela nafas


"Betah apa mau lari dari masalah !" Sindir Oliv yang sudah saling sikut dengan Reyna


"Ck tau ah yang penting kalian pasti udah tau kan apa yang saat ini gue pikirin. Kalian pasti udah dapet infonya dari Abang. " Ujarku dan Abang yang dimaksud adalah Satria


"Lebih tepatnya bang Bryan, Gue juga sebenernya ada yang mau di kasih tau sama Lo tapi sama bang Bryan dilarang katanya biar dia sendiri yang bicara langsung sama lo." Ujar Aldo menjelaskan secara perlahan


"Kurang apa ya bang Bryan itu uwuw bener kalo kalian bukan sodara aja, Enakan kamu sama dia aja Lia." Ucap reyna sambil cekikikan


"Udah kapan mulai nya makan ini, " Ucap Reyhan dengan kesal


"Ehh hehehe keasikan ngobrol gini, Yaudah kita makan dulu nanti sambung lagi." Ujarku sebelum itu kami berdoa terlebih dulu di pimpin Reyhan

__ADS_1


πŸƒπŸƒπŸƒ


Bersumbang😌


__ADS_2