
"astaghfirullah Nena kemana sih kamu" Satri melempar asal ponselnya pada samping kursi kemudi
sudah hampir 2 jam ia menunggu istrinya didepan restoran, mondar mandir tidak karuan seperti gosokan yang tidak mau licin meski sudah beberapa kali ia maju mundurkan, mencoba menanyakan kepada waiter atau pelayanpun nihil, jawaban yang selalu Satria dapat hanya gelengan atau "maaf pak untuk hari ini kami tidak melihat ibu Nena!" itu jawaban dari orang orang restoran yang ia dapatkan.
jangan ditanya sudah berapa kali satria mencoba untuk menghubungi nena atau mengirim sebuah pesan pada istrinya itu, karena berpuluh puluh penggilan tidak nena jawab, bahkan saat akan menghubungi nena kembali ponselnya pun sudah tidak bisa dihubungi
"dimana kamu sayang, aku khawatir!"
brugh, satria memukul stir mobilnya ia melajukan Kembali mobilnya menuju apartemennya
apa mungkin nena sakit dan sekarang dia sedang memeriksanya dirumahnya sakit?
sehingga dia mematikan ponselnya agar aku tidak cemas mengenai keadaannya, batin satria yang selalu diselimuti dengan hal positif terhadap istrinya
matahari enggan memberi cahaya, dengan baiknya memberikan sang bulan udah bersinar, suasana malam menyelimuti ibukota yang tengah diguyur hujan itu, Satria mulai memasuki apartemenya, langkahnya lemah setelah ia tidak mendapatkan kabar mengenai istrinya itu yang tadi pagi pamit untuk bekerja
"apa Nena sudah pulang?"tanya satria saat memasuki apartemen dengan lampu yang sudah menyala, seingatnya ia belum menghidupkan lampu malam itu
__ADS_1
"assalamualaikum" ucap satria memasuki kamarnya, masih sama seperti diruang tamu ia tidak mendapat Jawaban dari siapapun
kemudian ia berjalan menuju dapur, dipandanginya punggung istrinya yang tengah bergelut dengan peralatan dapur untuk memasak, seguratan senyum menghiasi bibir satria
"assalamualaikum bidadariku" ucap satria memeluk tubuh nena dari belakang
"astaghfirullah bang, bikin kaget aja!"
"hehe, udah pulang sayang? tadi babang kerestoran loh niatnya mau jemput, eh nyatanya udah dirumah" Satria menenggelamkan wajahnya pada pundak Nena
nena mengelus lembut kepala suaminya " ah iya maaf bang, tadi tari ngajak ketemuan"
"Jam setengah tiga bang" sebenarnya nena sudah menyiapkan jawaban atas apa yang akan satria tanyakan padanya,
semoga bang Satria percaya, pasti,, karena tidak mungkin tadi dia sengaja masuk kerestoran hanya untuk menemani aku
"sepertinya masakanmu enak sayang?" saat melihat nena menuangkan masakannya pada piring
__ADS_1
"pasti bang, yuk kita makan bareng" ajak nena yang mulai membuka celemeknya dan menuntun satria untuk duduk di kursi makan
bukan Satri yang tidak curiga sedikitpun dengan kebenaran dan jawaban dari istrinya, namun ia tidak ingin membuat hal kecil menjadi runyam saat ia tengah mendapatkankan senyum indah dari istrinya
keseudzonan pun ia tepis selalu ia terapkan untuk berfikir positif terhadap apapun yang Nena lakukan
satria selalu bersyukur dapat menikahi nena dan mendapat cinta nena, karena sebelum ia memulai hidup dengan istrinya itu, tak pernah sekalipun satria memikirkan perasaan yang lebih dari kebenciannya terhadap nena sebagai perusak hubungan antara dia dan kekasihnya
keduanya tertawa bersama setelah makan, tak lupa Satria selalu membantu nena untuk membersihkan peralatan setelah memasak dan makan.
"mau kemana mas" tanya nena melihat satria memasuki kamar
"sebentar ngambil sesuatu dulu" satria meninggalkan nena yang tengah menonton TV diruang tamu
sebelum satria mengambil barang yang ia maksud, ia pun melihat ponsel nena yang tergeletak di atas nakas, ponsel itu mati tapi rasa penasarannya masih ada dibenaknya,
apakah benar ponsel itu mati karena daya ponsel yang habis atau sengaja nena matikan**?
__ADS_1
"hidup, baterainya juga masih full, sepertinya dia sama sekali tidak memegang ponselnya" ucap satria pelan
"sudahlah" Satria sangat malas memikirkan hal yang sejak tadi masih bergelantungan dipikirkannya, namun setelah melihat senyum manis istrinya ia tidak ingin memikirkan hal yang akan merusak mood dirinya dan nena istrinya