
tak terasa waktu perjalanan yang lama telah keduannya tempuh, nena menahan langkah satria saat akan mamasuki rumah orangtuanya.
nena mengambil alih kopernya dari tangan satria "bang kamu pulang saja, sudah sore!" ucap nena
"tapi na, aku masih ingin berbincang lebih lama denganmu?"
"sebaiknya bang pulang saja dan pikirkan kembali perkataaanku, karena saat bersamaku mungkin kamu tidak akan pernah merasakan kesempurnaan dalam berkeluarga, tidak seperti saat kamu bersama pita dan anak kalian"
"na, aku sudah berusaha menjelaskan Aulia bulan anakku!"
nena menempelkan telunjuknya pada bibir satria "aulia dan pita lebih baik diberharga dibanding aku yang cacat yang tidak bisa memiliki seorang anak!"
"na-----
"biarkan aku bicara bang! apapun keputusanmu nanti, aku akan menerimanya dan jika kamu melepaskan ku dengan berlapang dada, maka tidak ada yang akan tersakiti dengan hubungan kita, aku akan selalu mengenalmu sebagai sosok lelaki terbaik yang pernah aku kenal, aku menyayangimu bang sangat, tapi saat jalannya menakdirkan kita harus berpisah aku sudah berpasrah padanya, karena pasti ini semua yang terbaik untuk kita berdua.
"aku tunggu talaqh mu bang, dan aku tunggu keputusanmu disidang selanjutnya" ucap terakhir nena
ingin rasanya satria menangis dan berbicara apa yang tengah ia rasakan pada Nena tentang kebingungannya, rasa takut kehilangannya, dan masa depannya.
__ADS_1
Tanpa meminta izin pada nena satria memeluk tubuh itu memeluknya erat dan Sangat erat "aku akan memikirkan apa yang kamu ucapkan" satria menghela nafas panjang "berjanjilah apapun keputusanku nanti kamu tetap akan menjadi nena ku, Nena yang aku kenal sebelum kita menikah??" satria menatap nena
nena mengangguki ucapan satria " hati2 yah bang pulangnya" nena meminta satria agar meninggalkan rumahnya dengan ucapan halus
"aku pulang, jaga dirimu" satria meraih bahu Nena matanya memberi isyarat meminta izin nena untuk melakukan sesuatu yang sudah ia anggap harus saat dirinya akan pergi dari Nena.
nena mengangguk tanda setujunya
satria langsung mendaratkan kecupan bibirnya pada kening nena
********
zyan menatap wajah mamih elza ingin segera menumpahkan gunda gulana yang tengah ia rasakan.
"kenapa dengan anak bujang mamih ini" tanya Elza "kamu menangis zyan? apa yang membuat matamu yang kuat itu sampai bisa mengeluarkan air mata?"
"mih, Aku salahkan?"
"ada apa mamih tidak mengerti?"
__ADS_1
"aku mencintai seorang wanita yang sudah bersuami!"
"ya jelas kamu salah zyan! siapa yang sedang kamu ceritakan apa dia nena?"
zyan mengangguk "tapi aku sungguh mencintainya mih, andai dulu aku tidak termakan ucapan busuk pita, mungkin aku tidak akan menikahinya dan rencana pernikahanku dengan nena pasti akan berjalan dengan baik!"
"Tuhan sudah punya caranya sendiri untuk membahagiakan semua hambanya" ucap elza menyemangati putranya "nena pun sama dia berhak bahagia dengan suaminya, dan mamih minta padamu berhenti mengharapkan yang tidak pasti apalagi sampai mengganggu pernikahan mereka"
"tapi mih bagaimana dengan perasaan zyan? seakan jiwa dan raga zyan hilang tanpa Nena!"
"mamih dan papih dulu sempat terpisah selama 7 tahun tapi Tuhan punya rencana lain untuk kami berdua dan dengan ridhonya kami dipertemukan kembali dan dipersatukan dalam ikatan pernikahan" ucap bunda "bersabalah zyan akan ada hikmah yang indah dibalik ini semua"
zyan merenungi ucapan mamih elza
"mih, aku menyetujui ucapan mamih sebulan yang lalu, ya zyan setuju untuk pergi ke Singapura menjalankan usaha mamih disana" ucap zyan menyakini hatinya
"benarkah nak?" tanya mamih elza
"ya mih, zyan yakin. karena jika zyan tetap disini hanya akan melukai perasaan zyan sendiri dan mengganggu kebahagiaan Nena" tegasnya
__ADS_1
zyan dan mamih elza berpelukan, kemantapan hatinya sudah ia yakini, ia akan belajar melupakan nena tapi tidak dengan perasaannya. entahlah ini sesuatu yang amat sulit untuk zyan, tapi ia harus mencoba dulu sebelum mengatakan tidak.