
mami zyan menghampiri anak tunggalnya yang sedang menatap gambar seorang wanita yang sangat amat ia cintai dilayar ponselnya,
"kamu sudah memberi tahu nena jika kamu akan pergi hari ini?" tanya mami
zyan menggeleng "mungkin sebaiknya aku tidak memberi tahunya mi! aku takut akan mengganggu kebahagiaannya!" jelas zyan
mami menepuk pundak zyan "mami yakin suatu saat nanti kamu pasti bisa mendapatkan wanita yang lebih baik zyan!" mamih berusaha untuk menyemangati zyan.
"yang terbaik hanya nena mi, dan tidak akan pernah terganti, biarkan zyan pergi dengan rasa yang sama untuk berusaha melepaskan nena tapi bukan untuk melupakan rasa cinta zyan pada Nena!" zyan menarik tangan mami dari pundaknya mengecupnya dua kali "maafkan zyan ya mi?"
mami mengusap air mata yang jatuh di pipinya " Mami teringat dengan papimu dulu zyan, sikap dan sifatnya sama persis seperti kamu, dia rela melepaskan wanita yang cantik bahkan mereka wanita yang kaya raya hanya untuk memilih Mami!" mami tertawa menceritakan masa lalunya
keduanya berpelukan, zyan yang semula bersedih Kembali mengukir senyum setelah mendengarkan apa yang maminya ceritakan.
"apa mami dulu jual mahal sama papi?" goda zyan, ia mendapat pukulan pada pundaknya atas pertanyaan konyolnya itu,
"haha" mami tertawa terbahak mendengar zyan "bukan jual mahal, dulu hanya saja mami blum menyadari jika cinta papimu begitu besar untuk mami!"
"apa suatu saat nanti nena akan berfikiran sama seperti mami?" tanyanya "Nena akan menyadari jika zyan benar2 dan bersungguh-sungguh mencintainya?"
mami mengelus punggung putranya itu "berdoalah. Namum jangan pernah kamu terlalu berharap karena nena sekarang bukan nena yang kamu miliki satu tahun yang lalu Kini sudah berbeda dia sudah ada yang memiliki!"
zyan menerawang kedepan, fikirannya tengah membenarkan apa yang maminya ucapkan
"zyan sudah waktunya kita kebandara" mami melihat jam dipergelangan tangannya, yang membuyarkan lamunan zyan.
__ADS_1
keduanya melangkah untuk segera menuju bandara, dalam perjalanan zyan selalu menatap ponselnya, memperhatikan wajah cantik nena, ia sangat berharap nena datang kebandara dan mencegah dirinya untuk pergi, namun itu hanya mimpinya, mimpi yang tidak akan pernah menjadi nyata.
keraguan menyelimuti hatinya, entah harus memberi tahu nena akan kepergiannya saat ini, atau ia membiarkan begitu saja dirinya pergi dengan tidak melihat wajah dan senyum nena untuk terakhir kalinya,
kini zyan sudah berada dibandara ia tengah menunggu keberangkatannya dengan mami yang berada disampingnya "biarkan aku mengucapkan salam perpisahan untuk nena, karena aku masih berharap dia menanggapi pesanku" batin zyan
satu pesan telah berhasil zyan kirim pada nena, tanda ceklis biru sudah terlihat dari ponsel zyan, pertanda nena sudah membaca pesan itu namun kenyataan pahit untuk zyan, jika nena tidak merespon ataupun tidak memperdulikan dirinya lagi.
****
Satria menatap kearah Nena dan ayahnya setelah dirinya berusaha menenangkan hatinya dari kepiluan dan kepahitan mengenai apa yang baru saja ia dan Nena perbincangkan, ia masih ingin membuktikan kebenaran dengan apa yang ia fikirkan mengenai perasaan istrinya untuk Seseorang itu,
Satria berjalan kearah Ayah untuk menyapanya,
" Assalamualaikum ayah" ucap Satria
"saya baik ayah! Ayah Bagaimana kabarnya?" Tanya balik Satria
" Alhamdulillah Ayah juga baik?"
tidak berlangsung lama percakapan ayah dan Satria, kedua pengacara nena dan Satria memanggil untuk segera memasuki ruangan persidangan.
suasana persiapan berjalan dengan lancar, satria melihat raut wajah nena yang terlihat dengan kesungguhannya ingin bercerai dari dirinya.
"aku siap untuk pergi dari kehidupanmu jika hal itu terbukti benar!" batin satria
__ADS_1
persidangan telah usai nena tengah berbincang dengan pengacaranya, ponselnya berdering ia menatap dan membaca pesan singkat yang masuk pada ponselnya
zyan
√ keberangkatanku jam 4 sore ini, berbahagialah dengan pilihanmu, aku mencintaimu √
nena menutup mulutnya dengan telapak tangannya, dadanya sesak.. tatapannya ia arahkan pada langit-langit ruang pengadilan untuk menahan air mata yang akan terjatuh dari kedua matanya,
perlahan nena menarik nafasnya dalam, masih menyesuaikan dengan kekalutan hatinya, ia menatap ayah yang ada disampingnya
"ay.." suaranya sedikit berat "ayah maaf nena ada kepentingan ayah bisa pulang sendirikan, ini ayah bawa mobil Nena!" nena memberikan kunci mobilnya, ia menyalami ayah dan pengacaranya dengan terburu,
ayah dan pengacara hanya bisa melihat kepergian nena yang semakin menjauh, tidak bisa menanyakan kamana nena akan pergi, karena nena yang berjalan dengan cepatnya..
.
..
..
jangan lupa like komen dan votenya yah
ikutin juga akun dan grup chattku "wini"
baca juga yah novel wini yang lainnya
__ADS_1
- pernikahannya dengan indah..