
ceklekk
ayah nena membuka pintu kamarnya
"boleh ayah masuk na?" tanya ayah
"iya yah" Nena menatap dirinya dicermin meja riasnya
"kamu nggak kangen satria Nena? bukannya dulu kamu sering cerita ke ayah, kalau satria baik, satria tampan dan satria satu2 nya pria yang mau mengajak kebaikan sama kamu dan satu hal penting yang sering kamu ucapkan ke ayah kamu bilang satria membuat kamu melupakan zyan."
nena tersenyum pada ayahnya, ia teringat hari pertama ia tidak sengaja menerima sebuah telpon nyasar yang tidak lain si penelepon itu satria, dari cara bicaranya nena tahu satria lelaki yang santuy, dan tidak neko-neko, namun berbanding ketika nena dan satria sudah menikah, satria lebih banyak bersikap romantis pada nena.
"apa bang satria ada diruang tamu yah?" tanya nena
ayah menggeleng "dia tidak datang kesini hari ini nak"
"kenapa yah?"
"tadi satria telpon ayah dia bilang kalau dia sedang tidak enak badan, dan tadi dia juga sudah mencoba menghubungi kamu dan mengirim beberapa pesan padamu nak, tapi satria bilang kamu tidak bisa dihubungi dan pesannya juga tidak ada yang kamu balas?"
"ah iya yah, hp nena sedari tadi nena keep silent, nanti nena hubungi bang satria yah"
"ya udah kamu tidur yah, ayah keluar dulu!" pamit ayah
nena mengambil ponselnya di dalam nakasnya, yang sengaja ia diamankan beberapa hari ini
__ADS_1
nena terbelalak menatap ponselnya, hampir ratusan pesan dan panggilan dari ponselnya dan ia biarkan begitu saja.
"zyan,
"satria,
"Tina, entahlah bukannya senang ketiga orang itu selalu memperdulikannya tapi ia sangat enggan untuk memberikan kabar pada ketiganya.
"tetapkan hatimu Nena, kamu nggak boleh egois satria tetap suami yang masih dan harus kamu hargain dan kamu rawat, dan tidak seharusnya Kamu salahkan satria dengan keguguran yang kamu alami, ayo nena! ayo! jangan egois" setelah bergelumat keras dengan hatinya nenapun menekan nomor kontak diponselnya itu.
"my husband"
tuut..
"assalamualaikum sayang" riang satria diujung sana
"wa'alaikum salam"
"gimana kabar kamu sayang? kamu lagi apa? kamu udah makan? babang rindu kamu, rindu sekali!"
nena tersenyum kecil mendengar pertanyaan suaminya
"kamu sakit apa bang?" tanya nena tanpa menghiraukan pertanyaan satria
"sakit menahan rindu sayang, kamu mau pulang? sekarang babang jemput yah sayang?!"
__ADS_1
"entahlah bang!" nena masih bergelumat dengan hatinya antara ingin pulang atau tetap berada dirumah orang tuanya "sudah dulu yah bang aku ngantuk!"
"neeen------
"assalamualaikum bang"
tutt
tutt
entah sudah berapa jam nena masih uring uringan di atas ranjangnya "aku rindu kamu juga bang, tapi aku masih bingung" nena memainkan jari tangannya memilin setiap jari "pulang, jangan...jangan, pulang akkkh lama lama bisa gila aku kenapa jawabnya jangan semua sih" gelisah nena
terbangun, duduk, berbaring waktu bahkan sudah menunjukkan pukul 2 malam, dalam kebingungan ia teringat untuk meminta jawaban pada sang pemilik alam semesta ini
nena melaksanakan sholat malam 2 raka'atnya berdoa pada sang maha kuasa, air matanya menetes ketetapan hatinya ia dapatkan, sebagai seorang pendosa besar ia harus bisa memperjuangkan pernikahannya, ia tahu kehancurannya bermula ketika dirinya bermain api dibelakang Satria suaminya, seharusnya ialah yang mesti disalahkan dalam hal ini karena sudah menduakan kepercayaan yang diberikan satria suaminya.
"bang besok aku pulang" ucap lirih nena diujung doanya
dalam remang lampu malam nena tak hentinya tersenyum memikirkan kejutan kepulangannya besok, yang akan ia berikan pada suaminya.
tersenyum senyum dan kegemasan pada gulingnya yang ia remas remas mampu memberikan arti lain pada orang yang melihatnya mungkin bisa saja nena sudah dijuluki sebagai orang gila yang tersenyum senyum sendiri.
hai kakak2 yang baik hati dan masih setia mau baca novel wini, makasih banyak yah..
jangan lupa like dan votenya
__ADS_1