
🍂🍂🍂
gak bosen deh pokoknya buat ngingetin lagi
jangan lupa like komen dan votenya trus ikutin akun wini yah🍃🍃🍃
*******
satria sudah bersiap dengan kepulangannya bersama nena, senyum senang ia tampilkan pada saat dirinya berbincang dengan bi sumi dan mang Aziz.
nena keluar dengan pakain rapinya menenteng koper miliknya, Satria menghampiri nena,
"sayang, aku ingin berziarah dulu kemakam ibu?" pinta Satria
nena mengangguk dan menatap bi Sumi dan mang aziz untuk mengikuti mereka.
mang aziz melapalkan doa ziarah sampai akhir, mang aziz dan bi sumi meninggalkan nena dan satria dipemakaman ibunya
satria mendekatkan dirinya pada makam alm. ibu Nena "assalamualaikum Bu" ucapnya "saya satria suami nena putri cantik ibu, Alhamdulillah Bu Allah sudah menakdirkan saya untuk bisa bersanding dengan Nena" satria merangkul Nena yang tengah terisak "maaf Bu, saya blum bisa sepenuhnya membahagiakan Nena, tapi saya berjanji Bu, akan selalu berusaha untuk membuat nena bahagia" satria menatap Nena mengisyaratkan untuknya menyapa ibunya
"Bu, ini bang satria! ibu yang tenang disana nena dan bang Satria pamit ya Bu, doa nena selama bersama ibu" nena mengusap batu nisan ibunya
"assalamualaikum Bu" ucap keduannya
nena dan Satria menemui bi Sumi dan mang Aziz, disana sudah ada irgi yang akan mengantar kepulangan Nena
__ADS_1
"bi, mang nena pamit yah, maafkan nena udah banyak nyusahin bi sumi sama mang aziz?" ucapnya
"bi..bi..bibi juga minta maaf ya sama kamu?" ucap bi sumi terisak "kamu jaga diri disana, jangan lupa sholat lima waktu na!"
"iya Bi" nena memeluk bi sumi dan memberikan amplop tebal tanda terimakasihnya telah menerima kehadirannya dirumah itu, walaupun sempat bi sumi untuk menolak tapi dengan gerakan cepat nena memintanya untuk menerima pemberiannya itu, kerena berkat bi sumi nena bisa melihat jelmaan ibu kandungnya sendiri.
"gi" ucap nena menatap irgi
"hati2 yah na" ucap irgi
"assalamualaikum" salam nena dan satria
"wa'alaikum salam" kompak bikin sumi, mang aziz dan irgi
satria dan nena menyalami punggung tangan bi Sumi dan mang Aziz berganti dan menyalami irgi Sampai keduannya masuk kedalam mobil.
Satria mengangguki ucapan nena, karena ia tahu nena dan dirinya kini sedang menjalani rangkaian sidang perceraian meski dirinya belum menjatuhkan talak baginya.
satria menepikan mobilnya, sudah tidak tahan dirinya untuk memohon pada Nena agar mencabut gugatan perceraian yang sama sekali tidak diinginkannya
satria menggenggam erat tangan nena "aku mencintaimu, sungguh mencintaimu Nena!!" Satria mulai mengeluarkan air matanya
"aku memang berbuat salah padamu, tapi jalan perceraian tidak sebanding dengan apa yang aku lakukan" satria
"aku mohon Nena, cabut gugatan cerai itu, dan kembalilah padaku, kembalilah menjadi pengantinku untuk kedua kalinya" satria
__ADS_1
"bukan hanya kamu bang yang sudah mengancurkan pernikahan kita ini, tapi aku juga sama aku menyakiti kamu dengan mengkhianati janji suci kita" tegas nena
"aku menerima dan memafkan setiap kesalahan yang sudah kamu lakukan padaku, Jadi aku mohon jadilah nenaku seperti saat pertama kali kamu menjadi istriku" pinta satria dengan segenap hatinya
nena menatap satria "bang, aku sekarang bukan seorang wanita yang sempurna" nena mencoba menegarkan dirinya dengan apa yang akan ia ucapkan pada satria
"aku wanita cacat yang hanya akan membebani kehidupanmu!"
satria diam mencerna ucapan nena,
"aku tidak akan bisa memberikan kamu keturunan, aku cacat dan tidak akan bisa mengandung bahkan melahirkan!"
jrengg
seolah sedang ditikam belati mendengar ucapan nena untuk satria.
"aku nggak percaya sayang, pasti kamu berbohong kan?" sanggah satria
"itu yang dokter katakan bang" dengan wajah seriusnya nena mencoba meyakinkan satria
satria menghela nafas kasar, sedikit melepaskan genggaman tangannya pada nena
"aku menerimamu apa adanya nena" kata yang diucapkan satria setelah mendengar ucapan nena yang membuatnya syok.
Nena menggeleng "tidak bang, bibirmu mungkin bisa untuk menerimaku dengan kekuranganku tapi tanyakan lagi pada hatimu, kamu tidak bisa membohongi hatimu"
__ADS_1
satria sudah tidak bisa berkata apa-apa, ia mulai melajukan mobilnya kembali.