
Pukul 7 pagi waktu Singapura. Zyan enggan meninggalkan kamar, ia tengah memandang pemandangan Kampong Glam yang kini menjadi tempat tinggalnya bersama papi dan miminya.
Diatas balkon kamar lantai duanya tubuh Zyan bersandar pada besi balkon yang tertata indah, kedua tangannya ia silangkan di dada. Fikiran dan hatinya kini tengah merindukan kekasih yang sudah tidak mungkin bisa bersamanya lagi. Nena...Zyan sangat merindukan Nena. Meski Zyan tahu kini Nena sudah bahagia dengan Satria.
Senyum lebar terukir dari kedua sudut bibir Zyan. Zyan mengingat kebiasaan Nena saat bersamanya, wanita cantik itu selalu menghabiskan waktu gundahnya diatas balkon, dan Zyan yang selalu bisa untuk menenangkan Nena dengan kelembutan hati dan perkataaannya.
"aku merindukanmu Nena, ketahuilah aku masih sangat menyayangimu.." batin Zyan, ia menghapus air mata yang menetes tanpa izinnya. Zyan teringat saat Nena memutuskan hubungan dengannya. Ia juga berada di balkon ini untuk menyendiri sebelum dirinya kembali ke Indonesia untuk menikahi Pita yang telah membohonginya dengan alasan tengah mengandung anak darinya.
Pundak Zyan seseorang tepuk, ia tersadar kembali dari lamunannya. Zyan memegangi tangan lembut yang selalu bisa menjadi tempatnya bertukar cerita. Tangan yang mampu mengusap air matanya selain Nena.
Zyan membalikkan badannya menatap wanita cantik dalam hidupnya selain Nena "mami.." sapa Zyan
"Bukankah kamu berjanji pada mami? jika kamu akan memulai kebahagiaanmu disini?" mami Zyan menghapus air mata Zyan
"Maaf mi" Zyan tersenyum manja pada mami mencoba menutupi rasa sedihnya
"ada Sesil dibawah! dia akan mengajakmu keliling kota ini!" ucap mami
"aku masih hapal mi dengan kota ini. Dan aku tidak mengingat siapa Sesil? jadi biarkan sehari ini saja. Zyan menghabiskan waktu Zyan didalam kamar?" pinta Zyan
__ADS_1
"Memang kamu pengatin yang lagi dipingit yang mesti berdiam diri di dalam kamar!" sarkas mami "susah satu tahun kamu nggak ke Singapura bilangnya masih ingat sama kota ini, udah banyak perubahan lagi zyan. Dan Sesil yang setiap hari nelponin kamu. Kamu bilang siapa Sesil?" amnesiamu sudah tingkat akut Zyan!" mami mulai meninggikan suaranya
Zyan langsung berhamburan memeluk mami "iya bidadariku. Maaf yah? baiklah Zyan kalah. Dan Zyan akan turun kebawah untuk menemui Sesil" ucap Zyan pasrah "Tapi tolong mi. Jika Sesil rangkul tangan Zyan, tolong dengan segera mami lepaskan tangan Sesil dari lengah Zyan.." lemahnya
Mami terbahak mendengar ucapan Zyan. Mami teringat jika memang benar adanya Sesil yang selalu manja pada Zyan dan selalu menganggap lengan Zyan tempat ternyaman untuknya.
Mami dan Zyan menuruni anak tangga. Zyan menatap Sesil yang terduduk di sofa ruang tamunya, ia tengah memainkan kuku-kuku merah mudanya. Tatapan Sesil kini tertuju pada Zyan sudah berhasil menuruni anak tangga terakhirnya.
"Zyan.." teriak Sesil
Zyan memundurkan langkahnya saat Sesil berusaha untuk memeluknya.
"tidak.." jawab singkat Zyan
Tidak ada kata tersinggung dalam kamus Sesil jika semua kata yang mencengangkan keluar begitu saja dari mulut Zyan. Sesil langsung menghampiri Zyan kesampingnya bukan untuk memeluk namun dengan segera Sesil melingkarkan tangannya pada lengan Zyan "aku sangat merinduka lenganmu Zyan. Rasanya indah. Seindah saat aku memandang pantai SAWARNA yang ada di Indonesia" manja Sesil
Mami yang baru datang dengan seorang ART yang tengah membawa nampan minumannya tersenyum dengan perlakuan Sesil.
Zyan dengan gemasnya memberi isyarat pada mami. Zyan menunjuk-nunjuk dengan telunjuknya agar mami membantu dirinya melepaskan tangan Sesil yang melingkar sempurna pada lengannya.
__ADS_1
Mami menahan tawa melihat anaknya menderita ulah Sesil dan mami merasa sedikit bahagia karena Zyan mulai tersenyum kembali walau hanya sekilas ulah Sesil.
"Sesil.." ucap mami
Sesil menatap mami Zyan "apa tante?" jawabnya
"Mau coba kue terbaru dari toko mami. Dijamin enak loh!" mami meyakinkan
Sesil memajukan bibirnya. dalam hatinya terus saja ia memaki mami Zyan yang sudah berhasil mengganggu dirinya saat ia bersama Zyan.
"Boleh mi. Simpan saja dulu, Sesil masih merindukan lengan Zyan!" Sesil mencoba untuk tidak menyinggung perasaan mami Zyan
Mami bangkit dari duduknya di depan Zyan dan Sesil yang masih berdiri "ayo cobalah dulu!" mami menarik tangan Sesil lembut "masih hangat mami buatkan khusus untukmu!" rayu mami
"baiklah.." Sesil tidak bisa lagi menolak. Sesil menatap Zyan "Tunggu!! tetap disini. Aku masih merindukanmu!"
Zyan dengan malasnya mengangguki perkataaan Sesil, alhasil Sesil langsung melepaskan rangkulannya pada lengan Zyan.
Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan Zyan pergi dari tempat Sesil dan mami dengan alasan yang tidak bisa di tolak Sesil. Toilet.. alasan yang tepat menurut Zyan.
__ADS_1
Dengan segera Zyan keluar rumah dan mengendarai mobilnya, menjauhi ancaman dalam hidupnya.