
Hari yang paling ditunggu Nena dan Satria. Hari dimana ketentuan atas persidangan diputuskan. Nena dan ayah sudah bersiap duduk diruangan persidangan didampingi pengacara Nena. Begitupun dengan Satria karena dirinya sudah tidak memiliki siapapun kini ia duduk diruangan persidangan hanya ditemani pengacaranya.
Semua yang hadir diruangan persidangan mendengarkan beberapa runtutan jalannya persidangan. Begitupun dengan Satria. Kini Satria melalui kuasa hukumnya sudah tidak lagi memberikan argumen atas penolakan perceraiannya, seolah dirinya sudah menerima dan mengikhlaskan perceraiannya dengan Nena.
Sesekali pandangan Nena dan Satria bertemu. Nena tersenyum manis kearah Satria. Senyuman itu memberikan isyarat terimakasihnya atas apa yang sudah Satria lakukan dan penuhi untuknya.
Ketukan palu hakim menjadi tanda keputusan sudah diambil. Tanda perceraian Nena dan Satria sudah mendapat pengesahan secara hukuman dan Agama.
Nena mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya, tanda syukurnya atas apa yang baru saja ia dengar.
Satria mengusap wajahnya kasar. Walau ia tersenyum dan menyetujui perceraian ini namun hatinya masih sakit. Rumah tangga yg ia banggakan, yang ia dambakan dan ia harapkan akan berakhir hingga mautlah yang hanya akan memisahkan, nyatanya hanya dalam hitungan bulan saja ia dan Nena mesti berpisah.
"Mungkin ini semua akibat kesalahanku, berawal dari niatku yang salah untuk mencintai kamu na." batin Satria. Tatapannya masih menatap Nena yang tengah bersalaman dengan pengacaranya. Dengan bibir yang tak hentinya tersenyum. Tatapan Satria lekat pada kedua mata Nena. Ada mata yang berkaca dikedua bola matanya Nena "kamu bahagiakan na..? atau kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku, apa sudah tidak ada lagi arti diriku dihatimu?" batin Satria
Lamunannya terhenti kala pengacara Satria menepuk pundaknya "Apa pak Satria puas dengan keputusan ini?"tanya pengacaranya "saya masih menyayangkan kenapa mendadak sekali keputusan perceraian ini terlintas dari anda pak Satria?"
Satria mengangguki ucapan pengacaranya "mungkin inilah jalan yang terbaik pak untuk saya dan mantan istri saya pak!" jelasnya
Pengacara Satria menepuk lengannya "semoga Anda bisa menemukan pendamping yang lebih baik pak. Dan semoga perceraian seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi dalam kehidupan anda!" doanya
"Terimakasih pak!" ucap Satria
Pengacara Satria meninggalkan dirinya yang masih betah berdiri dan tatapannya masih menatap kearah Nena. Dengan memberanikan diri Satria menghampiri Nena, ayah dan Irgi yang akan berjalan kearah pintu keluar ruangan persiapan.
"Nena.." ucap Satria
Ayah dan Irgi menatap kearah Satria yang kini sudah ada dihadapan mereka.
"Iya bang.." Jawab Nena
Satria menyalami punggung tangan ayah dan menyalami Nena dan Irgi.
__ADS_1
"Yah, boleh Satria berbicara empat mata dengan Nena?" pintanya pada ayah Nena
Ayah menatap Nena yang mengangguk angguk dua kali itu.
"Ya..nak!" ucap ayah. Ayah menepuk pundak Satria berusaha menegarkan pria yang pernah menjadi menantunya itu "ayah harap dengan keputusan ini, kamu bisa menerimanya dengan lapang begitupun kamu na?" pandangan ayah pada Nena.
"Iya yah.." jawab Satria
Nena mengangguk "iya ayah.." ucap Nena "ayah langsung pulang saja bersama Irgi! apa boleh aku meminta bantuanmu gi, untuk mengantarkan ayah pulang!" pintanya. Nena menatap Irgi.
"iya na. Aku antar ayah pulang. Mari yah" Irgi menuntun langkah ayah setelah dirinya berpamitan pada Satria.
"Ada apa bang?" tanya Nena. Ia melihat Satria yang masih mematung menatap dirinya
"Bisa kita bicara di cafe depan?"
"iya bang" keduannya berjalan berdampingan namun jarak yang renggang memisahkan keduanya.
"Apa kamu bahagia dengan perpisahan kita ini?" tanya Satria
"aku hanya sedang berusah mencari kebahagiaan untuk dirimu bang!" jelas Nena
"Tidak.. kamu salah Na, Aku bahagia jika kamu bahagia. Karena itulah aku menyetujui perpisahan ini. Sesuai dengan apa yang kamu mau!"
Nena membalas ucapan Satria hanya dengan senyumannya. Ia masih sibuk meminum minumannya.
"Boleh babang memegang tanganmu?"
pertanyaan Satria membuat Nena membatukan minuman yang akan masuk kedalam kerongkongannya. Nena menelan paksa minuman itu.
"mungkin untuk yang terakhir kalinya!" jelas Satria
__ADS_1
Masih dengan keraguan Nena mengangguki ucapan Satria.
"Terimakasih" Satria menggapai tangan Nena yang ada disamping minuman Nena
"Aku ingin kamu bahagia. Aku masih menyayangi kamu"
"aku juga ingin kamu bahagia bang!' jawab Nena
"masih bisakah kita berhubungan dengan baik, teman misalnya? aku mengenalmu
pertama kalinya dengan cara baik meski niatku salah. Dan akupun ingin mengakhiri hubungan kita dengan baik-baik juga. Maukah?" tanya tegas Satria
"iya bang. Terimakasih karena kamu tidak membenciku!"
"aku tidak akan pernah membencimu" jawab Satria
Nena mulai merasakan ketidak nyamanannya dengan genggaman tangan Satria yang semakin mempererat tangannya. Dengan perlahan Nena melepaskan genggaman tangan Satria.
Nena meraih tasnya. Ia mengambil kunci mobil yang kini ia bawa pemberian Satria. Nena mendekatkan kunci itu pada pandangan Satria. Membuat Satria mengkrinyitkan dahinya.
"Maksudnya apa ni na?" tanya bingung Satria
"maaf bang. Ini milikmu dan aku hanya ingin mengembalikannya."
"Bukankah babang tidak pernah memintanya na?" tanya Satria
"Tapi bang---" ucap Nena terpotong
"aku tidak bisa memberikan apapun selain ini padamu. Babang mohon simpan ini sebagai milikmu!" tegasnya. Satria memberikan kunci mobil itu pada genggaman tangan Nena
Tidak ada penolakan lagi dari Nena. Membuat Satria tersenyum akan hal itu. Perbincangan itu berlanjut sampai pada hal yang membuat keduanya tersenyum bersama.
__ADS_1