Secret Love Affair

Secret Love Affair
57


__ADS_3

Satria ingin memastikan sesuatu hal pada nena, ia memanggilnya kembali sebelum nena semakin menjauh darinya,


"tunggu nena!" ucap satria menghentikan langkah kaki nena,


terlihat raut wajah nena menjadi pasi, entah apa yang ada dipikirannya kini,


"ada apa bang?" tanyanya sesantai mungkin, ia tidak ingin sampai Satria menanyai kemana dirinya akan pergi.


satria melangkahkan kakinya lebih dekat lagi dengan Nena "besok hari persidangan kita, kamu datangkan?" tanya satria


Nena mengangguk tersenyum kearah Satria "iya bang, Aku pasti datang besok" jawabnya "aku permisi ya bang!"


"hati2 na!"


Nena kembali melangkahkan kakinya menjauh dari pandangan satria, melajukan mobilnya ketempat tujuannya.


Nena memfokuskan pandangannya kearah depan membelah jalanan ibu kota yang belum terlalu ramai, tujuannya terhenti disebuah rumah sakit besar dimana sebelumnya ia sudah melakukan rangkaian tes mengenai kandungannya, untuk kedua kalinya nena memberanikan diri mencoba peruntungannya, berharap pernyataan pertama dari dokter lara


mengenai dirinya yang tidak bisa hamil adalah kekeliruan besar, ia masih berharap tesnya kali ini yang ia lakukan bersama dokter susan bisa memberinya kepuasan.


Nena berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit menuju ruangan kerja dokter susan, nena mengetuk pintu, dilihatnya diluar ruangan yang sepi, belum banyak orang yang mengantri.


setelah seseorang didalam ruangan mempersilahkannya untuk masuk perlahan nena masuk dan duduk dikursi depan dokter susan,

__ADS_1


"bagaimana kabarmu nak?" ucap dokter berjilbab putih,


"baik dok!"


"jangan panggil aku begitu, panggil saja dengan namaku!" ucap dokter susan


"ya.. susan!"


"kamu sendirian na?" tanyanya lagi


"seperti yang kamu lihat?" jawab nena


"sudah siap dengan apa yang akan aku sampaikan?" susan


"baiklah!" susan mulai menjelaskan bagian dari rangkaian tes dari rahim Nena, ada sedikit keraguan dari dirinya, ia takut ucapannya akan melukai hati Nena sahabatnya,


tanpa mereka sadari ada satria yang sudah berhasil mengikuti langkah nena menuju rumah sakit yang tengah berdiri disela pintu ruangan dokter susan,


"nak benturan keras yang mengenai rahimmu sangat beresiko untuk kehamilanmu, maaf aku akan mengatakan ini.." ucap dokter susan ragu,


"katakan saja, aku siap mendengar apapun itu!"


Susan menghela nafas panjang "na, hanya ada 5 persen kemungkinan kamu bisa hamil kembali" susan membuang nafasnya kasar "itupun jika kamu rutin melakukan segala macam tes yang aku berikan, selebihnya kita serahkan hal ini pada yang maha kuasa!" lirih Susan

__ADS_1


Nena mulai terisak, sungguh kenyataan manis yang ia harapkan saat ini, namun takdir belum berpihak padanya,


"na, na..hei istighfar na..!" susan mencoba menenangkan nena yang sesegukan, ia memeluk dan mengelus pundak nena.


"aku masih berharap dokter lara mengatakan sebuah kekeliruan pada saat itu, tapi...nyatanya kenyataan pahit ini yang mesti dan harus aku alami!" ucap nena disela tangisnya.


diluar ruangan satria mendengar dengan jelas apa yang dokter susan katakan pada Nena, ia menitikkan air matanya, satria mengira apa yang nena ucapakan mengenai kondisi dirinya yang tidak bisa mengandung dan tidak bisa memiliki seorang anak hanyalah kebohongan semata, satria berfikir pada saat itu nena sedang membohongi dirinya membuat alasan agar bisa berpisah dengannya dan bisa kembali dengan zyan, nyatanya semua itu nyata tidak ada kebohongan yang nena katakan padanya.


satria pergi menjauh dari ruangan dokter susan, ia tidak ingin nena Sampai mengetahui jika dirinya sudah mendengar semuanya, yang akan membuat nena bersedih.


"tenangkan dirimu na!" tuhan kita sedang merencanakan sesuatu yang lebih indah untukmu!"


"ya kamu benar san,, dari rencana indah itu aku tidak berhak untuk melibatkan orang2 yang mencintaiku untuk merasakan kesedihanku!"


"maksudmu apa na!"


"aku cacat san, aku tidak akan memberikan kebahagiaan pada suamiku ataupun yang lainnya, aku tidak bisa memberinya keturunan aku ingin mundur dari pernikahanku dan membiarkan dia bahagia bersama orang lain" nena mengusap air matanya.


"jalani apa yang menurutmu menjadi sebuah kebenaran na" susan menggenggam erat tangan Nena "satu hal lagi.. jika kamu mencintai satria kamu harus bisa mempertahankannya, bahkan mendengar ucapanmu dulu tentang satria, bukankah dia mau mempertahankan hubungan kalian?"


"Aku tidak ingin menyiksanya untuk ikut larutan dalam kecacatanku san!"


nena menumpahkan rasa kekecewa dirinya kepada susan, keduannya larut dalam kisah yang nena ceritakan.

__ADS_1


__ADS_2