
"buggghh" Satria memukul keras stir mobilnya "aku mesti cara kamu kemana lagi sayang? kenapa kamu Nggak pulang kerumah orang tua kamu, kamu pergi kemana, ini udah malam dimana kamu nena" lirih satria didalam mobilnya
sudah beberapa kali Satria menghubungi nena, tapi ponselnya sengaja ia matikan.
mencari kerumah orang tuanya pun hasilnya nihin, malah kini orang tua nena khawatir dengan keberadaan Putri satu2nya mereka.
"ok, tenang satria Lo harus berfikir keras saat ini, iya tina aku harus segera hubungi Tina" Satria mencari2 nomor sahabat dari istrinya itu "astaga...kenapa bisa seceroboh ini, mana pernah aku simpan nomor Tina, apalagi rumahnya, ya Robb benar2 cobaan ini!" maki satria pada dirinya sendiri
satria Kembali melajukan mobilnya, ia berniat untuk menemui Tina atau zyan besok pagi direstoran miliknya, mengingat waktu sudah lewat tengah malam.
*********
"Tina..tinaa, bangun tin!"
"apaan sih Nena, ini kan masih malam!"
"udah jam 5 pagi, kamu nggak sholat subuh?" tina masih betah diranjang hangatnya "tin makasih yah udah bolehin aku nginep disini! lirihnya, bangun dong tina aku mau pamit sekarang sama kamu" ucap nena
Dengan segera tina terbangun dari tidurnya dan mulai membuka matanya "mau kemana?"
"aku mau...." nena menggantung ucapannya "sudahlah nggak usah tahu!" nena tidak memberi tahu tina kemana dirinyalah akan pergi, karena ia yakin satria atau zyan akan bertanya pada tina"aku pamit sekarang yah, taxi ku udah nunggu !'
"Loh, kok nggak bilang mau kemana sih?" ucap tina mengekori dibelakang nena
"nggak usah tahu" ucap Nena memeluk sahabatnya itu "doain aku disana? jagain keponakan aku juga, kalau udah lahiran jangan lupa kabarin, ok!" Nena mengelus perut bumil 8 bulan itu "assalamualaikum bumil" nena
"waalaikum salam, hati2 yah!" ada perasaan sedih saat dirinya melepaskan kepergian nena, tapi Tina hanya bisa memberikannya semangat pada nena untuk menjalani kehidupannya setelah berbagai masalah yang menimpa sahabatnya itu.
"maafkan aku yah bang Satria, aku memilih jalan ini, agar kita sama2 bisa saling bahagia!" batin nena, ia menatap foto terakhir bersama suaminya
__ADS_1
Nena menghidupkan ponselnya berniat ingin mengabari kedua orang tuanya,
"assalamualaikum ayah" Nena
"wa'alaikum salam nak! kamu dimana, semalam satria kemari!"
"maaf yah Nena Udah bikin khawatir! yah nena mau kekampung halaman ibu, ayah tolong jangan bilang siapa2 ya yah nena mohon?" ucap nena
"jika itu keputusanmu nak, tapi ayah mohon padamu jika ada masalah apapun dengan suamimu dibicarakan dulu, cara jalan keluar dulu?"
"iya ayah makasih, nena tutup ya yah? assalamualaikum yah"
"wa'alaikum salam"
perjalanan yang panjang membuat nena terlelap dalam mimpi indahnya, deretan panggilan masuk dan beberapa pesan untuknya ia abaikan dan Kembali ia matikan ponselnya.
nena terbangun setelah mencium harum khas tanah kelahirannya, ia tersenyum bahagia bagaimana tidak setelah kematian ibunya ia sudah tidak pernah lagi menginjakkan kaki ditanah kelahirannya itu, namun karena ia memiliki ingatan yang tajam dengan mudahnya ia mengingat alamat rumahnya tersebut tanpa harus bertanya pada ayahnya.
"makasih yah pak"nena memberikan ongkosnya dan tips untuk pak sopir
sudah banyak perubahan dikampung tersebut, dideretan jalan depan bahkan sudah dibangun beberapa pabrik2 dan beberapa ruko2 yang siap untuk dikontrakkan pemiliknya.
nena hampir menangis kala melihat halaman rumah semasa kecilnya dulu yang kini diisi oleh adik dari ibunya, tidak ada perubahan pada halaman rumah itu dengan pagar dari bambu, halaman depan masih tanah yang ditaburi dengan batu2 bulat kecil, yang berbeda hanya warna cet nya dan keramik yang dipakai dirumah itu.
"assalamualaikum" ucap nena pada adik dari ibu kandungnya yang tengah menyapu halaman rumah.
"wa'alaikum salam, siapa yah neng, dan sedang mencari siapa?" tanya bibi Nena
Nena tersenyum pada bibinya "saya nena bi Sumi, anak Bu Elis teteh bi Sumi!"
__ADS_1
bi sumi mematung, lalu ia tersenyum lebar dan memeluk gadis kecil yang Sudah bertumbuh dewasa itu.
"masya allah, ini nena yang dulu bi sumi gendong2 itu, yang dulu suka minta jajan sama bi Sumi, neng cantik amat udah gede sekarang mah!" puji bi sumi
"iya Bi Alhamdulillah!"
"ada apa Bu, mani heboh" ucap seorang lelaki paruh baya yang baru keluar dari rumahnya
"assalamualaikum mang aziz" ucap nena
"wa'alaikum salam, ini siapa bu? kok udah tahu nama bapak?" tanyanya
"ini keponakan kita, yang waktu kecinya suka manja pengen digendong sama bapak?"
"si nena ini Bu, anak teh Elis?" mang aziz
"iya pak" bi Sumi
"udah gede neng, kaya model sekarangmah?" pujinya
"hayu masuk neng, punten bapak mah blum bisa ngebangun rumah ini jadi bagus,hehe"
Nena tersenyum mendengar ucapan pamannya "nggak pa-pa mang, makasih yah bi dan mamang udah mau terima nen"
"muhun neng" kompak bibi dan paman Nena
banyak yang mereka perbincangkan, menghapus kerinduan setelah bertemu.
"buat apa cari kontrakan, disini aja neng, bibi mohon, si Lala juga sering dirumah suaminya Sekaranah" bi Sumi menceritakan tentang anaknya
__ADS_1
nena mengangguki permintaan bibinya, sebelumnya ia berniat untuk mencari kontrakan selama ia tinggal di kampung halaman ibunya.