
"Bunda" teriak aulia menghampirinya, pita tersenyum mendengar pengaduan anaknya yang terjatuh dan harus ikuti berlarian bersama satria
"untuk apa bunda papah lari2 begitu?" tanya Aulia
"papah lar----" pita
"Aulia kan anak papah yang baik, ini kan udah malam Aulia cantik mesti istirahat dan pulang kerumah sama mamah!" potong satria
pita menatap pada satria
"tapi lia pengen nginep dirumah papah!" Aulia
"nanti pasti Aulia nginep disini, ok!" satria menatap kearah pita untuk memberi penjelasan pada anaknya
"iya sayang, papah hari ini lagi ada kepentingan jadi kita pulang yah!?" pinta pita dan diangguki Aulia
setelah kepergiannya aulia dan pita, satria bergegas mengganti pakaiannya dan segera mengambil kunci mobil, ia ingin segera menemui nena istrinya, ingin meminta maaf dan memberi penjelasan atas segala kesalahah pahaman yang terjadi.
-----------
"Nena...!"
teriak seorang lelaki diujung jalan sana
"kenapa mesti ada dia disaat seperti ini, kemana tina bukankah aku memintanya untuk datang menjemputku disini?" batik Nena
"kalau begitu saya permisi yah Bu, saya mau balik keterminal" ucap si supir angkot
"dan ini kenapa supir angkot ini sedari tadi disini" batin nena
Nena hanya tersenyum dan mengangguki ucapan si supir angkot itu
pandangan si sopir angkot dan zyan bertemu
dan saling melewati satu sama lain
"Nena, you ok!" tanya zyan
"ya, untuk apa kamu kesini?"
__ADS_1
"tina memintaku, Kapan kamu datang dari rumah orang tuamu, dan siapa lelaki tadi?" tanya zyan mengintrogasi
Nena terdiam Sangat malas untuknya menjawab setiap pertanyaan yang zyan tanyakan padanya.
"kamu marah Sayang?" ucap zyan menggenggam tangan Nena dan nena langsung menghempaskannya "maaf sayang, ayok bukankah tina bilang kamu akan menginap di rumahnya?"
keduanya memasuki mobil dan Zyan membawa koper nena kebagasi mobilnya
"pakai ini sayang, kamu bisa kedinginan" zyan memakaikan jas Nya pada Nena
keduanya terdiam, mata zyan fokus pada jalanan, sesekali ia melirik pada pujaan hatinya itu
"apa yang terjadi sayang?" zyan mencoba menggenggam satu tangan Nena
"jangan panggil aku dengan sebutan seperti itu lagi zyan!"
zyan menginjak rem mobilnya mendadak, membuat sedikit hentakan kedepan untuknya dan Nena
"maaf nena untuk permintaanmu itu aku tidak bisa mengabulkannya dan satu lagi aku tidak akan pernah berhenti mencintai kamu se-la-ma-nya" zyan mempertegas ucapannya
"tapi zy---
"aww" teriak zyan, ketiaka Nena menggigit keras bibir bawahnya
wajah Nena memerah menahan amarah atas perlakuan zyan, ia menghapus kasar bibirnya dan segera membuka pintu mobil zyan, Nena berlari menuju kedepan rumah tina dan menekan bel rumahnya.
"Nena, Sudah sampai? maaf aku tidak bisa menjemputmu!?" ucap Tina ketika membuka pintu rumahnya
nena terisak dan segera memeluk sahabatnya itu
"ehhmm" suara Seseorang memecah tangisan Nena
"pak zyan, mari masuk!" ucap tina mempersilahkan
nena masih menangis dipelukan tina, tanpa ini melihat ke arah zyan
"terimakasih, aku hanya ini mengantar koper nena" ia menyimpan koper itu didekat pintu "kalau begitu aku pamit, tolong jaga nena untukku!" ucap zyan berlalu
tina mengangguk "ya tentu, terima kasih pak"
__ADS_1
zyan membalasnya dengan senyuman pandangannya tertuju pada wanita yang tengah menyembunyikan wajahnya dalam pundak sahabatnya itu.
"you ok nen? lihat zyan sudah pergi, minumlah air ini" Tina menyodorkan sebotol air mineral agar sahabatnya itu bisa lebih tenang.
keduanya memasuki kamar tamu " istirahat lah disini dan kamu bisa menceritakan semuanya padaku kapanpun kamu mau!" ucap tina "kamu tidak perlu khawatir disini hanya ada kita berdua, mas Wisnu sedang keluar kota" tina memberi penjelasan atas isyarat mata Nena yang tidak nyaman jika harus menceritakan sesuatunya dirumah Tina.
Nena menceritakan semuanya yang terjadi diapartemen milik suaminya itu diiringi dengan tangisnya yang tidak berhenti, tina membelalakkan kedua matanya mendengar apa yang nena ceritakan
"astaghfirullah, benarkah itu yang terjadi Nena?" tina memeluk nena "bersabarlah Nena ini ujian untuk rumah tanggamu, dan jangan menangis lagi ok, disini ada aku yang selalu support kamu!" tina mencoba menghapus air mata yang keluar dari mata nena
"makasih tin"
"lantas apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" tanya tina
"aku sudah menghubungi pengacaraku untuk mengurus perceraianku dan satria!" ucap nena
"apa kamu sudah yakin, boleh aku mengatakan sesuatu nen?"
nena mengangguki ucapan sahabatnya
"apakah tidak sebaiknya kamu mendengarkan penjelasan yang lebih jelas lagi dari satria, bukankah dia mengatakan kalau anak kecil itu bukan anaknya dan dia mengatakan bahwa dia tidak pernah menyentuh pita!"
"entahlah tin, entah harus mempercayai ucapannya atau tidak!" ucap nena " tapi disamping kesalahannya menyembunyikan semua hal menyakitkan itu, akupun sama sudah menyakiti hatinya dan ikut merusak rumah tangga kami" lirik nena
"apa kamu sudah memberi tahu satria tentang hubungan cinta rahasia kamu dan zyan?"
"tepatnya bukan aku yang memberi tahu, tapi pita, yah di saat itulah Aku mengatakan yang sebenarnya pada satria.
"astaga perempuan sialan itu, ingin sekali Aku bejekk2 mukanya" marah tina
"hehe, kamu lucu tin"
"aku senang banget lihat kamu senyum lagi Nena!"
"ya udah tidur yuk, terus mesti bayaran berapa buat nginep disini permalamnya?"
"haha, bisa aja, buat kami gratiisss,tis,,tisss"
kedua Sahabat itu terlelap dalam tidurnya
__ADS_1