
Nena memarkirkan mobilnya di parkiran yang kosong sedikit berjauhan dari kanti dimana ayah tengah menunggu dirinya.
langkahnya terhenti kala seseorang yang sangat ia kenal , seseorang yang pernah menjadi bagian hidupnya tengah berdiri didepannya.
nena tersenyum menatap satria yang entah sejak kapan menunggu dirinya diparkiran.
"assalamualaikum Nena..!" ucap satria
"wa'alaikum salam bang!" nena merasa jika satria sudah mulai memilih antara bertahan atau mundur ia menebak dari cara satria memanggilnya.
"baru sampai?" tanya satria "sendiri?"
"sama ayah, ayah lagi nunggu dikantin depan!"
"bisa hubungi ayah sebentar, aku ingin berbicara tak lama denganmu, bisa..?"
nena mengangguk "iya bang, sebentar aku telpon ayah dulu"
nena menelpon ayah agar menunggu dirinya, ia berkata yang sebenarnya jika ia bertemu dengan satria diparkiran dan ingin berbincang sebentar.
Setelah perbincangan nena dengan ayah berakhir, nena menghampiri Satria yang sudah sabar menunggu dirinya.
__ADS_1
"mau bicara dimana bang?"
"di mobil babang saja, apa kamu tidak keberatan?"
"tidak apa-apa bang!"
keduanya berjalan menuju mobil satria
satria menatap lekat kewajah nena, wajah yang ia rindukan namun apa dayanya mungkin saat ini ia sudah tidak bisa menggapai hati nena seperti dulu.
"ada apa bang..?" nena mencoba menyadarkan lamunan satria
"Abang sayang kamu na!" nena tersenyum menanggapi ucapan Satria "kamu ingat dulu kita naik mobil ini diawal pertemuan kita, aku anterin kamu yang lagi nangis sesegukan!"
"trus spion itu yang ada disamping kamu pernah pecah, karena ada pengendara motor yang ugal-ugalan, sampai kamu syok dibuatnya, babang masih ingat jelas ekspresi wajah kamu, lucu dan menggemaskan! apa kamu ingat hari itu?" tanya satria Kembali, lagi2 membuat nena mangut2.
"kamu masih ingat hari dimana,, aku mengucapkan kalimat yang sakral untuk bisa mempersunting kamu na?" satria mulai menitikan air matanya begitupun nena "hari itu aku sangat berharap kamu menjadi milik aku selama, seutuhnya. Hari itu sungguh tidak ada kata main2 atau pun niat aku untuk menyakiti kamu, aku hanya berharap itu awal yang indah dimana kita akan membina rumah tangga kita sampai maut memisahkan" satria mengusap air matanya,
perlahan satria mengambil sapu tangan yang ada dikantong kemejanya ia usapkan pada pipi nena yang sudah basah karena air mata.
"jangan menangis na, dengan kamu menangis kamu sudah benar2 mempersulitku untuk mengambil keputusan yang benar dan baik untuk kita!"
__ADS_1
"maafkan aku bang..." kata maaf yang hanya terlontar dari mulut nena, ia sudah tidak punya kata2 lagi untuk menjawab ataupun mengingat apa yang sudah satria ingatkan tentang kenangan yang pernah mereka lalui bersama.
"aku mencintaimu na! namun jika rasa cintaku padamu bisa menyakiti perasaanmu aku siap mundur dan pergi dari kehidupanmu!"satria membuang pandangannya pada nena "jika hanya karena alasan kamu tidak bisa memberiku keturunan, aku masih bisa dan ingin mempertahankan rumah tangga kita na, tapi jika kamu masih mengi..." satria tidak melanjutkan ucapannya
"aku tidak ingin membuatmu bersedih dikemudian hari bang karena diriku cacat." nena pun membuang pandangannya pada satria, ada sesuatu yang ia tak ingin perlihatkan pada satria melalui ekspresi wajahnya.
"bukan jawaban seperti itu yang aku ingin dari kamu na, biarkan aku mencari tahu sendiri kebenarannya, agar aku bisa dengan ikhlas melepaskan kamu."
"tidak ada yang aku tutup tutupi lagi bang" lirih nena "maaf bang aku harus segera menemui ayah" nena membuka pintu mobil satria, tidak ada lagi pertanyaan ataupun jawaban yang keluar dari mulut satria,
"aku...na aku ingin menemukan kebenarannya jika kamu masih mengharapkan dia.." batin Satria ia memukul keras stir mobilnya.
.
..
..
jangan lupa like komen dan votenya yah
ikutin juga akun dan grup chattku "wini"
__ADS_1
baca juga yah novel wini yang lainnya
- pernikahannya dengan indah..